Pengadilan memanggil Maira Savitri tanpa sebutan Nyonya Adiprana.
Ia berdiri ketika namanya disebut, menunjukkan kartu identitas yang sudah diberi penanda sengketa, lalu duduk di samping pengacaranya. Bima berada di ruang terdakwa terpisah. Aira menunggu sidang sendiri pada hari berikutnya.
Hakim menjelaskan perkara hari itu hanya menentukan apakah perkawinan atas nama Maira pernah lahir secara sah. Kepemilikan saham, kesalahan pidana, dan hubungan Bima dengan Aira tidak diputus melalui satu pertanyaan.
Tiga permohonan keluarga Adiprana untuk menggabungkan perkara ditolak. Mereka beralasan bukti dan saksi sama, tetapi hakim menilai penggabungan dapat membuat hak Maira bergantung pada klaim Aira atau nasib saham.
Catatan sidang memakai nomor perkara, bukan julukan Janda Adiprana yang digunakan media. Petugas diminta mengoreksi ketika seorang saksi lama menyebut Maira sebagai istri. Koreksi tidak menghapus ucapan, hanya menandai status masih disengketakan.
Pengadilan menyediakan ruang tunggu terpisah agar Maira tidak harus bertemu Bima di lorong. Ia boleh memilih melihat sambungan video atau hanya mendengar suara. Maira memilih melihat ketika Bima memberi keterangan supaya geraknya tercatat, bukan karena ingin berhadapan pribadi.
Hadi memberi keterangan lebih dulu. Ia mengakui memakai putusan adopsi palsu, verifikasi wajah Aira, dan data Maira untuk menerbitkan akta. Ancaman terhadap anaknya menjelaskan tekanan, tetapi ia juga telah menerima pendapat hukum bahwa cara itu melanggar persetujuan Maira.
'Apakah Maira pernah hadir di hadapan Anda?' tanya hakim.
'Tidak.'
'Apakah ia pernah menandatangani permohonan?'
'Tidak.'
'Apakah Anda mengetahui ketidakhadirannya?'
'Ya.'
Pengacara Hadi meminta pengadilan mencatat bahwa alat wajah dibuat Aditya dan tekanan datang dari jaringan Damar. Hakim mencatat tanpa memindahkan tindakan pengesahan kepada mereka.
Rekaman ancaman anak Hadi diputar tertutup dan tidak masuk siaran publik. Sekolah serta wajah anak disamarkan. Bukti menunjukkan ancaman nyata, tetapi Hadi memiliki dua hari untuk meminta perlindungan setelah foto pertama. Ia memilih meneruskan proses dan baru melapor setelah uang serta akta diperiksa.
Hadi mengatakan takut sistem perlindungan juga dikuasai jaringan. Hakim meminta jaksa menilai konteks itu pada hukuman, bukan pada keberadaan tanda tangan palsu. Ancaman dapat mengurangi kebebasan memilih tanpa membuat Maira hadir di ruangan yang tidak pernah ia datangi.
Pendapat hukum awal Hadi dimasukkan sebagai bukti bahwa ia memahami batas. Di tepinya ada tulisan jangan gunakan nama saudari. Hadi mengakui tulisan miliknya.
Bima kemudian berbicara. Ia tidak menyebut Aira sebagai alasan yang menghapus pilihan salah. Ia mengatakan ingin memberinya perlindungan dan saham, mengetahui nama Maira dipakai, serta menunda pembetulan karena menganggap waktu lebih penting daripada persetujuan.
'Saya membangun rencana yang hanya bekerja bila perempuan lain diam,' katanya. 'Maira tidak pernah menjadi istri saya.'
Pengacara keluarga Adiprana bertanya apakah Bima sedang menarik pengakuan demi menghindari pembagian saham. Bima menyerahkan pesan lama kepada Lestari serta draf Hadi yang menunjukkan rencana sebelum wasiat. Bukti memperberat penggunaan identitasnya sendiri.
Maira dipanggil setelah jeda. Ia tidak diminta menceritakan seluruh jaringan dari klinik sampai pelabuhan. Pengacaranya membatasi pertanyaan pada kapan ia tahu akta, apakah pernah menyetujui, manfaat apa yang diterima, dan kerugian yang muncul.
Sebelum bersaksi, Maira meminta kata janda tidak dipakai untuk menyebut dirinya kecuali saat mengutip dokumen palsu. Hakim mengabulkan. Pengacara keluarga sempat keberatan karena istilah muncul dalam wasiat; hakim menjawab istilah dapat dibaca sebagai bukti tanpa menjadi gelar saksi.
Maira menjelaskan bagaimana bank membatasi rekening, pajak meminta laporan pasangan, dan klien meragukan kepemilikan studio. Ia tidak menguraikan kerugian emosional dengan angka pada sidang status. Daftar kerugian disimpan untuk perkara ganti rugi.
Ketika ditanya mengapa tetap menyelidiki bila tidak menginginkan saham, ia menjawab bahwa mengembalikan nama bukan transaksi. Ia perlu mengetahui tempat data dipakai supaya koreksi tidak berhenti pada satu akta.
'Saya mengetahui perkawinan itu ketika wasiat dibacakan setelah Bima dinyatakan meninggal,' katanya. 'Saya tidak pernah bertemu dengannya sebelum perkara. Saya tidak pernah menyetujui nama saya dipakai.'
'Anda menerima akses Kamar 408 dan saham sementara,' kata pengacara keluarga.
'Saya menerima pemberitahuan bahwa sistem menaruhnya atas nama saya. Saya meminta pembekuan dan menolak memakai hak suara.'
Rekening, berita acara rapat, serta penetapan kustodian mendukung. Tidak ada dividen masuk rekening Maira. Biaya pengamanan studio dibayar dana pengadilan, bukan manfaat pribadi.
Video palsu tidak diputar ulang di ruang sidang. Laporan forensik sudah menyatakan manipulasi. Hakim menolak pertanyaan yang meminta Maira membuktikan perasaannya kepada Rendra sebagai tanda motif saham.
'Hubungan saksi dengan orang lain tidak membuat persetujuan perkawinan yang tidak pernah diberikan,' katanya.
Selena hadir sebagai saksi tentang pertunangan Bima. Ia mengakui selama ini mengira Maira merebut Bima, lalu mengetahui pengantin sebenarnya Aira. Keterangannya menunjukkan Bima menyembunyikan rencana dari lebih dari satu perempuan, tetapi Selena tidak diminta menilai siapa pantas menjadi istri.
Selena menyerahkan pesan Bima yang menunda pernikahan mereka tanpa menyebut Aira. Ia mengakui pernah memakai media untuk menekan Maira setelah pembacaan wasiat. Tindakan itu bukan bagian pemalsuan akta, tetapi memperbesar kerugian reputasi.
'Saya meminta maaf karena menyerangnya dengan cerita yang tidak saya periksa,' katanya.
Maira menerima permintaan maaf sebagai catatan sidang, bukan pertemanan otomatis. Selena kemudian meminta cincin safir tidak lagi disebut cincin calon istri dalam inventaris; benda itu adalah bukti komunikasi Bima.
Lestari tidak dapat memberi keterangan. Surat, catatan studio, dan penolakannya kepada Bima dibaca sebagai bukti dokumen. Pengadilan juga mencatat kegagalannya memberi tahu Maira setelah akta dibuat.
Setelah istirahat, hakim membacakan putusan. Tidak ada perkawinan sah antara Maira dan Bima karena tidak ada kehendak, kehadiran, atau persetujuan Maira; identitasnya dipakai dengan sengaja melalui dokumen palsu.
Akta dibatalkan sejak awal, bukan sejak hari putusan. Semua lembaga diperintahkan menghapus status pasangan dan janda tanpa meminta Maira mengajukan permohonan baru satu per satu.
Perintah mencakup bank, pajak, catatan sipil, pertanahan, asuransi, paspor, dan sistem perusahaan. Masing-masing harus mengirim bukti koreksi dalam tiga puluh hari. Bila data sudah dijual ke pihak ketiga, lembaga wajib mengirim pembetulan ke penerima.
Satu salinan akta palsu dipertahankan tersegel sebagai bukti. Salinan lain tidak boleh terus tampil sebagai dokumen aktif. Menghapus status tidak berarti menghancurkan sejarah perkara.
Hakim juga memerintahkan biaya koreksi ditanggung dana sitaan, bukan Maira. Tidak ada formulir yang meminta tanda tangan Bima sebagai pasangan untuk mengakhiri sesuatu yang tidak pernah sah.
Putusan tidak menyatakan Aira otomatis menggantikan Maira sebagai istri. Perkara Aira harus dinilai dengan identitas serta pilihannya sendiri.
Maira mendengar kata dibatalkan tanpa merasa masa dua tahun hilang seketika. Tagihan, pemberitaan, ancaman, dan tatapan orang tidak lenyap dari tubuhnya hanya karena satu kalimat hukum.
Petugas catatan sipil menyerahkan surat sementara. Pada kolom status, tertulis belum pernah menikah. Catatan koreksi menyebut korban penggunaan identitas, bukan mantan pasangan.
Maira membaca setiap huruf. Nama ibunya benar, tanggal lahir tidak berubah, dan nomor Aira tidak lagi tertaut sebagai satu orang. Ia meminta satu kesalahan alamat diperbaiki sebelum menerima, meski semua orang sudah menunggu keluar.
Petugas mencetak ulang tanpa menyebut koreksi kecil tidak penting. Setelah seluruh perkara dibangun dari kesalahan kolom, Maira tidak akan membawa dokumen baru yang sejak hari pertama sudah perlu ditoleransi.
Di luar ruang sidang, wartawan bertanya apakah ia lega. Maira menjawab singkat.
'Nama saya kembali kepada saya. Akibat pemakaiannya masih harus diperbaiki.'
Rendra menunggu jauh dari pintu media. Ia tidak membawa bunga atau cincin. Maira menghampirinya setelah pengacara selesai.
'Sudah dibatalkan,' katanya.
'Aku dengar.'
'Aku ingin pulang ke studio dulu.'
'Baik.'
Rendra tidak menganggap putusan sebagai pintu baginya. Maira pergi dengan pegawai studio, membawa surat status yang akhirnya hanya menuliskan hidupnya sendiri.