'Dia menjual namaku.'
Kalimat Maira tertinggal di depan layar yang membeku. Danu tampak sedang melepaskan amplop kepada pria berseragam Adiprana, wajahnya menoleh ke arah kamera tanpa sadar bahwa pengkhianatan juga bisa memiliki cap waktu.
Maira menekan tombol panggil. Danu menjawab setelah dering ketiga.
'Datang ke studio,' katanya. 'Sekarang.'
'Aku sedang menghadapi wartawan karena masalahmu.'
'Kalau kau tidak datang, rekaman ini kukirim kepada mereka.'
Danu tiba dua puluh menit kemudian. Ia masuk melalui pintu belakang, melewati petugas keamanan dengan wajah merah oleh marah dan kurang tidur. Langkahnya berhenti ketika melihat Rendra berdiri di samping meja administrasi.
'Jadi sekarang dia selalu berada di sisimu?' tanyanya.
Maira memutar tablet. 'Siapa pria ini?'
Warna di wajah Danu surut. 'Aku tidak tahu namanya.'
'Tapi kau memberinya dokumen milikku.'
'Itu tidak seperti yang kaubayangkan.'
'Tentu. Mungkin amplop itu berjalan sendiri ke tangannya.'
Danu mengusap wajah. 'Dia mengaku mewakili calon investor. Katanya grup hotel sedang mencari studio konservasi untuk proyek arsip dan mereka perlu memeriksa identitas pemilik.'
'Kenapa dilakukan di pintu belakang?'
'Karena aku tidak mau kau menolak sebelum mendengar penawarannya.'
Rendra menyilangkan tangan. 'Tidak ada proses akuisisi dari perusahaan kami untuk studio ini.'
'Aku baru tahu setelah berita akta pernikahan itu muncul.' Danu memandang Maira. 'Aku bersumpah tidak tahu mereka akan memakai datamu untuk pernikahan palsu.'
'Mereka mengambil salinan kartu identitas, contoh tanda tangan, dan data sidik jariku. Semua itu tidak diberikan untuk memeriksa usaha.'
Danu tidak menjawab.
Maira mengenal diam itu. Selama dua tahun mereka bekerja bersama, Danu selalu mengulur pengakuan sampai orang lain menyebut kesalahannya lebih dulu.
'Berapa banyak yang mereka bayar?'
'Bukan pembayaran langsung.'
'Berapa?'
'Mereka menunda penagihan utangku.'
Ruangan yang porak-poranda mendadak terasa terlalu kecil. 'Utang apa?'
Danu menarik kursi, tetapi Maira tidak mempersilahkannya duduk. 'Aku meminjam untuk membuka cabang kedua. Renovasinya gagal dan pemberi pinjaman meminta jaminan tambahan.'
'Kita membatalkan cabang itu tahun lalu.'
'Aku meneruskannya tanpa memberitahumu.'
'Dengan jaminan apa?'
Pandangan Danu jatuh ke lantai.
Maira mengerti sebelum ia menjawab. 'Kau menggadaikan studio ini.'
'Aku tercatat sebagai rekan usaha dan memegang surat kuasa operasional.'
'Untuk membayar vendor, bukan menyerahkan tempat yang dibangun ibuku.'
'Aku berniat menebusnya setelah investor masuk.'
'Jadi kau menjual salinan identitasku agar kebohonganmu bertahan sedikit lebih lama.'
'Aku melakukan kesalahan, tetapi aku tidak memalsukan akta nikahmu.' Danu maju satu langkah. 'Maira, aku masih orang yang hendak menikahimu.'
Maira melepaskan cincin dari jarinya. Bekas lingkarannya tampak pucat di kulit.
'Tadi pagi kau berkata kepada seluruh negeri bahwa kita hanya rekan usaha.' Ia meletakkan cincin itu di telapak Danu. 'Sekarang aku membuat pernyataanmu menjadi kenyataan.'
Danu menutup jari di sekeliling cincin. 'Kau memutuskan pertunangan karena lelaki ini?'
'Aku memutuskannya karena kau menggadaikan rumah kedua ibuku dan menjual bagian paling pribadi dari diriku.'
Ia menoleh kepada petugas keamanan. Danu masih mencoba bicara ketika dibawa keluar, tetapi Maira tidak lagi mendengar kata-katanya. Pintu menutup. Yang tersisa hanya studio rusak, utang yang belum ia ketahui nilainya, dan jari manis yang mendadak terasa ringan.
Dua penyidik tiba tidak lama kemudian. Mereka mengambil keterangan awal Maira tentang akta serta pembobolan, menyegel salinan rekaman kamera, dan mencatat dokumen identitas yang hilang. Pemeriksaan lengkap dijadwalkan setelah hasil laboratorium akta diterima. Dengan begitu, Maira tidak perlu meninggalkan manuskrip klien yang masih terancam rusak pagi itu.
Maira berlutut untuk mengangkat lembaran manuskrip dari lantai. Rendra melepas jas dan ikut menyingkirkan pecahan rak.
'Kau tidak perlu melakukan itu,' katanya.
'Dokumen basah harus dipisahkan sebelum tintanya berpindah, bukan?'
Maira menatapnya. 'Kau mendengarkanku saat perjalanan tadi.'
'Aku tidak selalu mengabaikan orang lain.'
'Hanya pada hari kerja?'
Rendra hampir tersenyum. Selama beberapa jam berikutnya, ia mengikuti setiap instruksi Maira: menyelipkan kertas penyerap, memindahkan naskah ke meja kering, dan memberi label pada kotak yang masih utuh. Ia tidak menyerahkan pekerjaan kotor kepada stafnya. Ketika debu menempel di kemeja mahalnya, ia hanya menggulung lengan lebih tinggi.
Maira sedang menarik bingkai patah dari bawah meja saat serpihan kaca mengiris pangkal ibu jarinya. Ia mendesis dan menjatuhkan bingkai.
Rendra segera berjongkok. 'Perlihatkan.'
'Hanya goresan.'
'Darahmu mengatakan hal lain.'
Ia membawa Maira ke wastafel, membersihkan luka dengan air, lalu mengambil kotak obat dari ruang belakang. Jemarinya kokoh ketika membalut tangan Maira, tetapi sentuhannya hati-hati. Jarak mereka menyempit sampai Maira dapat melihat garis lelah di bawah mata Rendra.
'Kau tidak harus menyelamatkan semua benda ini sendiri,' katanya.
'Orang terakhir yang menawarkan bantuan baru saja mengakui bahwa dia menjual identitasku.'
'Aku tidak meminta kau langsung percaya.' Rendra mengikat ujung perban. 'Aku meminta kesempatan untuk membuktikan bahwa aku tidak terlibat.'
Maira menarik tangannya perlahan. 'Mulailah dengan tidak menyimpan bukti dariku.'
'Foto ibumu akan kauperiksa sendiri. Semua arsip tentang kamar 408 juga akan dibuka di hadapanmu.'
Itu belum cukup untuk disebut kepercayaan, tetapi untuk malam itu, janji tersebut memberi mereka tempat berpijak.
Dokumen paling rapuh dipindahkan ke ruang penyimpanan kediaman Adiprana karena sistem pengatur suhu studio rusak. Menjelang malam, Maira memeriksa setiap kotak yang dibawa petugas. Salah satunya bukan milik klien yang dikenalnya. Kotak restorasi kayu itu kusam, dengan label pengiriman lama tertempel di bagian bawah.
Pengirim: Bima Adiprana.
Tanggalnya enam hari sebelum ledakan kapal.
'Mengapa barang Bima ada di studioku?' tanya Maira.
Rendra membaca label penerima. 'Ibumu yang menandatanganinya.'
Kotak itu berisi sampul buku tamu yang hangus pada bagian tepi. Tidak ada formulir pekerjaan, tidak ada catatan biaya, hanya kain pelapis yang terasa lebih tebal daripada seharusnya. Maira mengetuk dasarnya dan mendengar rongga tipis.
Dengan pisau palet, ia membuka jahitan di tepi kain. Sebuah amplop jatuh ke meja. Namanya tertulis pada bagian depan dengan tinta hitam.
Untuk Maira Savitri.
'Tulisan Bima,' kata Rendra.
Maira memeriksa tanggal di belakang amplop. Surat itu ditulis sebelum Bima menghilang, sebelum akta pernikahan tercatat, dan jauh sebelum Maira mengetahui wajahnya.
Ia membuka lipatannya dengan tangan berbalut perban. Hanya ada satu paragraf. Baris pertama meminta maaf karena menyeret seorang asing ke dalam rencana yang tidak bisa diterangkan melalui telepon. Baris berikutnya memperingatkan bahwa status istri bukan warisan, melainkan tanda bahwa bahaya telah mendekati keluarga Savitri.
Kemudian Maira membaca kalimat terakhirnya.
'Kalau namamu sudah menjadi nama istriku, berarti mereka menemukan saudaramu lebih dulu.'