Maira membaca tulisan itu sekali lagi, kali ini dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
'Dua bayi, satu nama.'
Rendra mengambil lampu pemeriksa dari tangannya dan mengarahkannya ke belakang foto. 'Apakah tulisan ini dibuat pada masa yang sama?'
'Tekanan pensilnya sudah masuk ke serat. Usianya mungkin puluhan tahun, tetapi aku perlu alat di studio untuk memastikan.' Maira membalik foto tersebut. 'Seseorang menyembunyikannya setelah merobek orang ketiga. Itu bukan tindakan panik. Orang itu punya waktu untuk menutup foto dengan kartu inventaris.'
'Atau ibumu sendiri yang menyembunyikannya.'
Kemungkinan itu terasa seperti duri. Maira memasukkan foto ke kantong pelindung. 'Kalau Ibu ingin aku menemukannya, dia pasti meninggalkan petunjuk di Studio Aksara Pulih.'
'Kau tidak membawa apa pun keluar sebelum diverifikasi.'
'Ini foto ibuku.'
'Dan arsip keluarga saya.'
'Satu lagi benda yang membuat kita terikat pada sesuatu yang tidak pernah kita pilih.'
Sebelum Rendra membalas, suara sepatu hak terdengar dari koridor. Selena muncul di pintu ruang arsip dengan mantel tipis menutupi gaun malamnya. Wajah direktur PR itu pucat, tetapi riasannya tetap sempurna. Di satu tangan ia membawa kotak beludru, di tangan lain sebuah map putih.
'Aku mencarimu di seluruh rumah,' katanya kepada Rendra. Lalu matanya jatuh pada Maira. 'Ternyata janda Bima mendapat tur pribadi.'
'Apa yang kauinginkan, Selena?'
'Hal yang sama dengannya. Kebenaran.' Selena meletakkan kotak beludru di meja dan membukanya. Sebuah cincin berlian berkilau di dalam. 'Bima memberikannya kepadaku tiga minggu sebelum kapalnya meledak.'
Maira tidak menyentuh cincin itu. 'Aku tidak pernah bertemu Bima.'
'Namun namamu ada pada akta yang menyatakan kalian menikah.' Selena membuka map putih. Di dalamnya ada konfirmasi pemesanan kapel, korespondensi perancang gaun, dan rancangan pengumuman pernikahan. 'Bima dan aku akan menikah tanggal dua puluh empat. Akta pernikahanmu bertanggal dua puluh dua. Dua hari sebelum hari yang ia janjikan kepadaku.'
Rendra mengambil dokumen paling atas. 'Kenapa aku belum pernah melihat ini?'
'Karena Bima ingin mengumumkannya sendiri setelah perjalanan terakhirnya. Aku menunggu dua tahun agar keluargamu mengakui bahwa aku kehilangan calon suami.' Suara Selena bergetar untuk pertama kalinya. 'Sekarang seorang perempuan asing datang membawa status sebagai istrinya.'
Maira menatap cincin itu. Luka Selena nyata, tetapi luka tidak selalu membuat seseorang jujur. 'Kalau bukti ini asli, berarti ada orang yang menyiapkan dua pernikahan untuk tanggal yang hampir sama.'
'Jangan bicara seolah kita korban yang setara.'
'Mungkin kita memang korban dari kebohongan yang sama.'
Ponsel Rendra bergetar. Layar menampilkan belasan pesan masuk. Ia membaca salah satunya, lalu wajahnya mengeras.
'Selena, siapa yang mengetahui Maira berada di sini?'
'Hanya tim hukum dan keluarga inti.'
Rendra memperlihatkan layar. Sebuah portal hiburan baru saja memasang foto Maira memasuki kediaman Adiprana. Judul beritanya menyebut kemunculan janda rahasia Bima dan perebutan delapan belas persen saham.
Selena segera meraih ponselnya. Naluri direktur PR mengambil alih kesedihannya. 'Jangan ada yang keluar rumah. Aku harus menyiapkan pernyataan sebelum pasar buka.'
Telepon Maira mulai berdering. Nomor wartawan, klien, dan kerabat muncul bergantian. Di antara semuanya ada nama Danu. Ia menjawab sambil menjauh dari meja.
'Danu, jangan bicara kepada siapa pun sebelum aku menjelaskan.'
'Apa yang harus kaujelaskan?' Suara tunangannya terdengar tegang. 'Seluruh internet bilang kau istri orang mati dan pewaris hotel.'
'Aku baru mengetahui akta itu kemarin. Aku tidak pernah mengenal Bima.'
'Apa kau berada di rumah keluarganya sekarang?'
'Ya, karena proses hukum membutuhkan verifikasi dan mereka memintaku tinggal di sini selama pemeriksaan awal.'
Danu terdiam cukup lama untuk membuat dada Maira mengencang.
'Aku akan meneleponmu lagi,' katanya akhirnya.
Sambungan terputus. Lima menit kemudian, bukan telepon Danu yang datang, melainkan potongan siaran langsung dari seorang wartawan di depan studio. Danu berdiri di bawah papan Studio Aksara Pulih, dikelilingi mikrofon.
'Saya dan Saudari Maira hanya rekan usaha,' katanya di layar. 'Tidak ada pertunangan resmi di antara kami. Saya tidak mengetahui urusan pribadinya dengan keluarga Adiprana.'
Maira memandangi cincin sederhana di jarinya. Danu sendiri yang memasangkannya sebelas bulan lalu di depan Lestari, ketika ibunya masih cukup kuat untuk tersenyum. Kini ia menghapus hubungan mereka dengan satu kalimat.
Alarm keamanan studio masuk beberapa detik sesudah video itu berakhir.
Maira langsung meraih tasnya. 'Aku harus ke sana.'
Rendra menghalangi pintu. 'Kau tidak pergi sendirian ketika alamat studionya sedang ditayangkan.'
'Maka ikutlah.'
Mereka tiba bersama tim keamanan saat langit mulai terang. Pintu depan studio tidak rusak, tetapi kunci elektroniknya telah dibuka memakai kode sah. Di dalam, rak-rak dokumen terguling. Kertas tua, peta, dan naskah milik klien berserakan di lantai. Maira berlutut di antara lembaran yang lembap akibat cairan pemadam, menahan tangis ketika menemukan manuskrip berusia seratus tahun terinjak.
'Mereka tidak mencari barang berharga,' katanya.
Rendra memeriksa ruang administrasi. Lemari data pegawai terbuka. Map identitas Maira, salinan paspor, contoh tanda tangan, serta kartu registrasi sidik jarinya hilang. Komputer utama menyala dengan penyimpanan yang telah dikosongkan.
'Seseorang mengambil semua yang diperlukan untuk meniru identitasmu,' ujar Rendra.
'Atau semua yang pernah dipakai untuk membuat akta itu.'
Maira menuju panel CCTV. Rekaman malam tersebut telah dihapus, tetapi sistem studio mengirim salinan beresolusi rendah ke penyimpanan terpisah setiap tengah malam. Petugas keamanan Rendra memulihkannya melalui tablet.
Tidak ada gambar pelaku saat perusakan. Rekaman berhenti dua menit sebelum alarm mati. Namun, dua hari sebelumnya, kamera belakang menangkap kejadian lain.
Danu berdiri di dekat pintu servis. Ia menoleh ke kanan dan kiri sebelum menyerahkan amplop tebal kepada seorang pria berseragam teknisi Hotel Adiprana. Pria itu membuka sedikit amplop tersebut. Sudut salinan kartu identitas Maira terlihat di dalamnya.
Maira memperbesar gambar. Jam digital di layar menunjukkan pertemuan itu terjadi sehari sebelum surat notaris tiba.
Rendra berdiri di belakangnya. 'Kau mengenali pria berseragam itu?'
Maira tidak menjawab. Ia hanya memandangi tangan Danu yang melepaskan amplop, tangan yang sama yang memasangkan cincin dan berjanji menjaga studio bersama-sama.
Rasa sakit yang muncul bukan lagi karena penyangkalannya di depan media. Ini lebih tua, lebih dalam, seolah pengkhianatan itu telah dimulai jauh sebelum berita tentang Bima memasuki hidup mereka.
'Dia menjual namaku.'