Maira tidak memenuhi undangan pribadi Marni.
Ia menjawab melalui pengacara bahwa keterangan hanya dilakukan di tempat resmi, direkam, dan dihadiri penyidik. Rendra tidak ikut karena ia juga tercantum pada proyek, bukan karena Marni berhak menentukan siapa yang boleh berada dekat Maira.
Marni menyetujui kantor kejaksaan sebagai lokasi. Sebelum hari pemeriksaan, Nadia memetakan identitasnya. Marni Lazuardi memiliki akta sah dua puluh enam tahun, rekening pajak, dan riwayat perjalanan. Akta kelahirannya dibuat terlambat memakai kesaksian Laras serta Yudhistira.
Laras mengaku membantu karena Marlina mengatakan jaringan pembeli klinik mengejarnya. Ia tidak tahu identitas baru kemudian dipakai mendirikan perusahaan data.
'Anda tidak pernah memeriksa apa yang dia bangun?' tanya Malik.
'Dia mengirim laporan bahwa pasien mendapat pekerjaan.'
'Laporan dari orang yang Anda beri nama baru.'
'Ya.'
Pada hari pemeriksaan, Marni datang tanpa penyamaran. Usianya tujuh puluh satu tahun, rambutnya putih, dan tongkat lipat berada di tas. Sidik hidup cocok jejak lama Marlina pada register klinik. DNA pada cangkir kantor catatan sipil juga cocok.
Ia melewati pemeriksaan pelapis wajah dan menyerahkan tongkat untuk dipindai. Di dalam pegangan ditemukan penyimpanan data, tetapi pengacaranya mengatakan benda itu memuat catatan medis. Malik menyegel tanpa membuka sampai surat izin mencakupnya.
Marni meminta kursi menghadap Maira. Maira memilih duduk di belakang kaca satu arah dan hanya masuk ketika perlu mengajukan pertanyaan melalui pengacara. Menolak tatapan bukan tanda takut; ia tidak berutang pertemuan dramatis kepada orang yang mengarsipkan hidupnya.
Pemeriksaan dimulai dengan identitas, riwayat pekerjaan, dan akses server. Nadia tidak memulai dari tuduhan terbesar. Setiap jawaban dikunci pada waktu serta dokumen sebelum Marni dapat menjelaskan jaringan sebagai satu niat baik.
Ia mengakui menggunakan server lama. Menurutnya, ruangan itu pusat pemulihan bagi orang yang sistemnya masih salah. Ia menyangkal membuat wasiat palsu untuk mengambil studio.
'Saya membuat simulasi risiko,' katanya. 'Kalau dokumen dapat diterbitkan, saya perlu tahu siapa yang akan diuntungkan.'
'Anda menerbitkan draf memakai tanda tangan Maira,' kata Nadia.
'Draf itu tidak masuk pengadilan.'
'Karena kami menemukannya lebih dulu.'
Marni meminta pengacaranya mencatat keberatan.
Forensik gerak menunjukkan tubuhnya cocok perempuan tua di server, tetapi tidak cocok sosok pendek yang mengambil penyadap atau memakai wajah Maira di ruang direksi. Marni mungkin Pengelola Nol tanpa menjadi setiap operator lapangan.
Ia mengakui menciptakan kode Gendis setelah Gita menyusup. Marni menemukan penyamaran Gita dan memilih mempertahankan identitas tersebut sebagai akun bersama. Damar kemudian merekrut Aditya serta Keisha untuk menggunakannya.
'Anda mengambil kesalahan Gita dan menjadikannya sistem,' kata Nadia.
'Saya mengambil jalur yang sudah ada.'
'Itulah kalimat semua orang di jaringan ini.'
Marlina dahulu membuat arsip sementara agar klinik dapat menagih biaya pasien tanpa akta. Ketika keluarga kaya mulai membeli identitas, ia melihat kesempatan mengembalikan uang mereka ke Purnama. Ia menyisipkan hak atas aset ke dalam identitas yang dijual.
Register awal mendukung bahwa sebagian dana membayar obat. Namun setelah tahun ketiga, biaya administrasi melampaui biaya pasien. Marlina membeli server, kendaraan, dan rumah aman atas nama arsip mati. Pasien tidak memiliki suara atas aset tersebut.
Gita pernah menulis keberatan bahwa perlindungan berubah menjadi kepemilikan. Marni membalas bahwa orang tanpa nama tidak dapat mengelola uang sendiri. Surat itu memperlihatkan gagasannya sejak awal: hak ditahan sampai seseorang yang ia anggap mampu memilihkan masa depan.
'Kapan mereka dianggap mampu?' tanya Maira melalui pengacara.
Marni menjawab, 'Ketika aman.'
'Siapa menentukan aman?'
Marni tidak menjawab langsung. Selama ini jawabannya selalu orang yang memegang sistem.
'Mereka membeli anak dan nama,' katanya. 'Saya membuat nama itu menagih kembali.'
'Kepada siapa uangnya kembali?' tanya Maira.
'Perlindungan pasien.'
Auditor menunjukkan dana justru membeli properti, bengkel wajah, serta perusahaan pemakaman. Hanya tujuh persen masuk perawatan. Marni mengatakan biaya infrastruktur diperlukan. Maira menolak bahasa yang menjadikan jaringan kuasa sebagai perlindungan.
Marni mengenal Proyek Janda, tetapi mengklaim Damar memperluasnya untuk mengambil hak suara. Versi awal hanya memantau warisan keluarga yang pernah membeli identitas. Bukti server menunjukkan akun Marni menyetujui tiga pembayaran Damar dan menerima laporan keberhasilan kartu Maira.
Laporan keberhasilan memakai tiga warna. Hijau berarti dokumen diterima sistem, kuning berarti target menyadari, dan merah berarti saksi perlu dipindahkan. Nama Maira berubah dari hijau ke kuning setelah ia menolak saham. Sesudah Bima menyerahkan diri, status menjadi merah.
Marni menyangkal merah berarti menyakiti. Menurutnya, itu perintah memindahkan arsip sebelum disita. Keisha mengatakan Damar memakai warna yang sama untuk memindahkan manusia. Dua arti mungkin hidup dalam jaringan, tetapi Marni mengetahui ambiguitas dan tetap membiarkannya.
Pada proyek lain, tiga target merah mengalami kecelakaan administratif: satu dinyatakan mati, satu kehilangan kewarganegaraan, dan satu ditempatkan di bawah wali. Pola memperkuat bahwa pemindahan bukan hanya berkas.
'Saya menyetujui audit, bukan ledakan atau pemerasan,' katanya.
'Persetujuan Anda membiayai alatnya,' jawab Malik.
Marni tidak mengetahui siapa memakai wajah Maira di ruang direksi. Ia menyebut pengguna keempat Gendis sebagai Penerus, operator yang tidak pernah menunjukkan wajah asli bahkan kepadanya. Penerus mengelola salinan token setelah Gita pergi dan memperbarui algoritma.
Komunikasi Marni dengan Penerus selalu melalui kotak pesan luring. Marni menaruh perintah di server lama; balasan muncul beberapa hari kemudian. Damar menangani pembayaran, sedangkan Penerus memilih teknik identitas. Mereka sengaja tidak bertemu agar satu penangkapan tidak membuka semuanya.
Marni pernah mencoba menghentikan Penerus setelah satu pasien dikurung di Unit Utara. Balasannya memuat seluruh identitas Marni serta ancaman mengembalikannya menjadi Marlina yang diburu keluarga pembeli. Marni mengalah dan terus membayar.
'Anda punya uang, pengacara, dan akses negara,' kata Nadia. 'Pilihan Anda tidak sama dengan pasien yang tidak punya akta.'
'Saya takut.'
'Takut menjelaskan mengapa Anda menurut. Tidak menghapus orang yang Anda biayai.'
'Anda memberi satu orang anonim akses ke seluruh sistem?' tanya Nadia.
'Saya memberi jabatan, bukan orang.'
'Jabatan tidak menekan tombol. Orang melakukannya.'
Ketika diminta nama, Marni mengatakan rekrutmen dilakukan Damar melalui daftar pasien lama. Pengguna itu memiliki sidik yang tidak tercatat dan tubuh yang mudah diubah dengan penyangga. Satu ciri tetap: alergi lateks, sehingga ia selalu melapisi sarung tangan dengan minyak.
Minyak yang sama ditemukan pada cangkir server dan sarung tangan ruang direksi. DNA di cangkir milik Marni, tetapi lapisan minyak mungkin dipasang Penerus setelah ia minum.
Marni menyerahkan kode untuk membuka kepemilikan Nawasena. Sebagai imbalan, ia meminta perlindungan dari Penerus. Malik tidak menjanjikan kekebalan, hanya penilaian ancaman.
Kode membuka daftar wali dana luar negeri. Nama Marni ada sebagai penasihat, sedangkan pemegang kendali memakai gelar Penerus Kamar 408.
Dana menggunakan aturan dua kunci. Marni dapat menyetujui anggaran, tetapi Penerus memilih rekening tujuan. Sebaliknya, Penerus tidak dapat mencairkan jumlah baru tanpa Marni. Struktur itu membuat keduanya saling membutuhkan sambil bisa menyalahkan pihak lain.
Dalam satu tahun terakhir, Marni menyetujui dua belas anggaran tanpa rincian penerima. Totalnya cukup membeli delapan belas persen saham Bima pada harga setelah ledakan. Ia tidak dapat mengatakan dirinya hanya penasihat pasif.
Auditor membuat salinan kepemilikan sebelum memasukkan kode kedua. Jika server menghapus diri, bukti struktur dasar tetap ada. Peringatan pengacara luar negeri muncul, tetapi perintah pengadilan Indonesia mencakup perangkat fisik serta transaksi domestik.
Di belakang gelar terdapat satu nomor identitas Indonesia yang masih aktif.
Nomor itu milik orang yang secara resmi dinyatakan meninggal dalam kebakaran klinik bersama Gita.