Nomor identitas pemegang dana milik Sri Mulyani Ghozali, adik Marlina.
Arsip klinik menyatakan Sri meninggal pada usia dua puluh sembilan tahun. Seperti Gita, jenazahnya tidak teridentifikasi. Berbeda dari Gita, tidak ada bukti ia terlihat hidup setelah kebakaran.
Catatan gigi Sri ditemukan di rumah keluarga dan dibandingkan dengan sisa korban yang dahulu dimakamkan bersama. Satu profil cocok dengan kemungkinan tinggi. Pengadilan belum memerintahkan pembukaan makam karena foto rontgen serta arsip rumah sakit cukup untuk tahap kepemilikan.
Marni menyerahkan surat terakhir Sri yang ditulis dua hari sebelum kebakaran. Sri ingin keluar dari klinik karena tidak tahan melihat bayi dipindahkan. Tidak ada petunjuk ia menyetujui namanya dipakai sebagai dana setelah mati.
'Saya mempertahankan bagian dia dalam pekerjaan kami,' kata Marni.
'Anda mempertahankan nomor identitasnya, bukan persetujuannya,' jawab Malik.
Marni mengatakan adiknya benar-benar meninggal. Ia memakai nomor Sri untuk menahan saham supaya dirinya tidak tampak sebagai pemilik langsung.
'Jadi Penerus adalah Anda,' kata Malik.
'Pada dokumen dana, ya. Pada operasi lapangan, tidak.'
Pengakuan memisahkan pemilik hukum palsu dari orang yang memasang perangkat. Marni tetap mengendalikan aset melalui nama adiknya. Dalih melindungi diri tidak mengubah pemalsuan kematian dan pencucian kepemilikan.
Auditor menelusuri dana. Pembayaran kepada Damar berasal dari rekening yang memerlukan persetujuan Marni dan satu token Penerus. Marni menyetujui jumlah bulanan, sedangkan token menyetujui tujuan rinci. Ia mengaku tidak melihat penerima akhir.
Sebagian dana berasal dari jual beli properti milik keluarga yang memakai akta sementara. Sebagian berasal dari tagihan hotel dan biaya layanan klinik yang sah. Uang bersih serta uang hasil kejahatan bercampur, sehingga membekukan semuanya dapat menahan gaji pekerja dan dana pasien.
Auditor membuat tiga kelompok: aset yang jelas dibeli dari transaksi palsu, aset operasional yang perlu dijaga, dan dana yang kepemilikannya belum pasti. Pengadilan menunjuk pengelola sementara untuk rumah perawatan dan klinik. Pasien tidak dipindahkan hanya karena pemilik dananya diperiksa.
Maira meminta laba yang kelak dipulihkan tidak otomatis masuk Adiprana. Korban yang namanya dipakai harus dihubungi lebih dulu. Rendra mendukung melalui surat direksi, tetapi tidak duduk di komite pemulihan.
'Anda membayar operasi yang sengaja tidak ingin Anda lihat,' kata Maira.
'Saya membangun pemisahan agar satu orang tidak menguasai semuanya.'
'Tetapi Anda menguasai uang dan memilih untuk tidak tahu siapa yang terluka.'
Marni memandang Maira seperti menilai dokumen yang menolak diluruskan.
Perintah pengadilan membekukan dana Sri tanpa menyatakan semua aset otomatis milik negara atau Adiprana. Sebagian uang mungkin berasal dari korban dan harus dipulihkan per transaksi. Tim akuntansi korban dibentuk terpisah dari direksi hotel.
Marni ditempatkan dalam perlindungan terbatas sekaligus larangan bepergian. Ia belum ditahan karena pengacaranya menyerahkan server dan ada risiko Penerus membungkamnya. Malik meminta surat penahanan berdasarkan pemalsuan, pendanaan, serta penghalangan, bukan hanya karena opini Marni menjijikkan.
Kamar perlindungan Marni tidak memakai vendor yang sama dengan fasilitas Bima. Makanan, obat, dan komunikasi dicatat. Ia tetap dapat berbicara dengan pengacara secara rahasia, tetapi tidak mengakses perusahaan atau server.
Dalam pemeriksaan pertama malam itu, alarm palsu muncul dari gelang medisnya. Petugas tidak memindahkannya sampai dokter memverifikasi. Di balik perekat gelang ditemukan angka 000, kode pasien pertama. Penerus mengetahui lokasi sementara meski baru dipilih dua jam sebelumnya.
Kebocoran ditelusuri ke sistem pemesanan ambulans yang masih memakai sertifikat Sentra Lindung. Sertifikat dicabut dan ambulans diganti. Ancaman membenarkan perlindungan Marni, bukan kekebalan atas perbuatannya.
Gita menolak bertemu Marni. Ia memberikan keterangan tertulis bahwa Marlina mengajarinya membuat arsip sementara lalu mengancam Ratih ketika Gita ingin membuka penjualan identitas. Marni menyebut Gita murid yang mencuri token.
Keduanya dapat sama-sama bertanggung jawab atas tindakan berbeda.
Keisha mengenali nama Sri sebagai pemberi instruksi pada aplikasi pengadaan. Ia tidak pernah melihat wajah. Pesan suara memakai campuran suara Marni, Laras, dan Ratih, dirakit agar tidak dapat ditautkan kepada satu orang.
Aditya membantu memecah sampel. Di bawah lapisan suara terdapat bunyi mesin oksigen dengan ritme tertentu. Model mesin dipakai Unit Utara dan satu rumah perawatan swasta milik Nawasena.
Rumah perawatan diperiksa tanpa menghentikan oksigen pasien. Daftar penghuni mencakup tujuh identitas yang telah dinyatakan mati. Satu kamar kosong baru ditinggalkan. Penghuninya terdaftar Sri Mulyani Ghozali.
Tujuh penghuni diperiksa oleh tim sosial, bukan langsung sebagai tersangka. Empat adalah orang tua yang keluarganya memakai nama palsu agar mendapat subsidi. Dua tidak dapat memberi keterangan medis. Satu ternyata saksi marina yang dahulu dicari Narto.
Saksi tersebut mengatakan perempuan bernama Sari mengajarinya menjawab pertanyaan dengan identitas mati. Ia juga memerintahkan agar siapa pun yang menanyakan Damar disebut penyerang. Ketika Narto mengirim perlindungan, staf memindahkan saksi sebelum petugas tiba.
Kesaksiannya menghubungkan Penerus dengan penutupan koordinat, tetapi ingatannya diuji perlahan karena obat serta trauma. Malik tidak membawanya langsung ke konfrontasi Damar.
DNA pada sisir menunjukkan perempuan penghuni bukan saudari Marni. Sidiknya cocok jejak tidak lengkap pada token M serta formulir Gendis. Penerus pernah tinggal di sana memakai identitas Sri.
Perawat menggambarkannya berusia sekitar empat puluh tahun, kidal, alergi lateks, dan mampu berjalan normal. Ia sering mengganti penyangga bahu untuk latihan fisioterapi. Ciri cedera yang terlihat pada kamera dapat dibuat sesuka hati.
Nama yang dipakai staf untuk memanggilnya adalah Ibu Sari. Ia jarang keluar, tetapi mengendalikan komputer melalui penggerak mata ketika tangannya dibalut. Perawat mengira ia konsultan sistem.
Kamar menyimpan pakaian berbagai ukuran, pelapis wajah Maira, cetakan telinga Galih, dan rekaman suara Rendra. Tidak ada alat medis pribadi selain mesin oksigen yang dipakai sebagai latar suara.
Kasur memiliki lekukan penggunaan teratur, namun makanan di lemari disesuaikan untuk orang tanpa penyakit. Tongkat, penyangga bahu, serta sarung tangan berminyak tersusun seperti perlengkapan peran. Penerus melatih ciri tubuh sebagaimana orang lain melatih tanda tangan.
Pada rak terdapat laporan tentang keputusan Maira sejak pembacaan wasiat: rute ke studio, jam konsultasi, orang yang ia izinkan masuk, bahkan jenis teh yang dipesan bersama Rendra. Beberapa data berasal kamera publik. Sebagian hanya diketahui pegawai atau perangkat penyadap.
Maira meminta setiap sumber ditandai agar pegawainya tidak diperlakukan serentak sebagai pembocor. Satu laporan berasal aplikasi pengiriman makanan yang menjual data lokasi kepada broker Nawasena. Kebocoran dapat terjadi tanpa pengkhianatan orang dekat.
Pada dinding terdapat foto dua belas calon proyek. Wajah Maira diberi tanda selesai untuk Janda 408 dan mulai untuk Duda 409. Foto Rendra ditempel di sebelahnya dengan garis menuju Studio Aksara Pulih.
Maira diberi pilihan melihat foto atau hanya menerima deskripsi. Ia memilih melihat dengan pengacara karena susunan garis mungkin berkaitan dengan ruangnya. Setelah itu ia meminta foto disegel dan tidak ditunjukkan kepada Rendra sebelum penasihatnya hadir.
Garis dari Rendra tidak berakhir di studio. Ia menuju kamar hotel, pengadilan, dan satu rumah yang belum mereka kenal. Di samping rumah tertulis setelah pilihan, pisahkan dari keluarga. Program merencanakan isolasi sebagai akibat hubungan, bukan hanya pemindahan aset.
Maira tidak menafsirkan rumah sebagai rencana masa depan yang harus ia hindari. Ia meminta lokasi dicari berdasarkan bentuk atap serta nomor tiang listrik dalam foto. Pilihan pribadi dan analisis bukti tetap dapat dipisahkan.
Rendra melihat salinan setelah pengacaranya datang. Ia tidak bertanya apakah Maira pernah membayangkan rumah bersama. Ia hanya menunjukkan logo kontraktor Adiprana pada pagar, petunjuk yang dapat melacak properti.
Penerus keluar dari rumah perawatan sehari sebelum Marni diperiksa. Kendaraan membawanya ke terminal bus, tetapi tidak ada gambar wajah asli. Di kamar tertinggal lembar latihan tanda tangan.
Salah satunya bukan nama Maira, Gendis, atau Sri.
Nama yang dilatih berulang adalah Lestari Savitri.