Kantor catatan sipil lama digeledah bersama inspektur lembaga, bukan sebagai wilayah tanpa pemilik.
Ruang yang masih dialiri listrik berada di lantai dua. Dari luar tampak seperti gudang formulir rusak. Di dalamnya terdapat server kecil, mesin pemindai tanda tangan, dan rak berisi akta yang seharusnya sudah dimusnahkan.
Tim tidak membuka semua map di tempat. Kelembapan tinggi membuat beberapa halaman menempel, dan nama warga tidak boleh dibaca oleh petugas yang tidak berkaitan. Maira diminta menilai kondisi kertas dari ambang pintu. Ia menyarankan kotak bebas asam serta pengeringan perlahan, lalu mundur agar ahli independen mengerjakan bukti.
Server memiliki dua sistem. Satu menyalin formulir lama secara sah sebelum pemusnahan. Satu lagi memotong tanda tangan, foto, serta cap menjadi komponen yang dapat dirakit. Sistem kedua tidak tercantum pada inventaris pemerintah dan memakai lisensi milik Nawasena Data.
Dalam daftar kerja terdapat ratusan dokumen latihan. Sebagian tidak pernah diterbitkan. Lima puluh dua memiliki nomor registrasi nyata, termasuk penetapan kematian Bima. Inspektur membuka pemeriksaan terpisah agar korban lain tidak hanya menjadi lampiran cerita Maira.
Nama Maira muncul pada map merah. Isinya draf perwalian Studio Aksara Pulih, surat ketidakmampuan, serta wasiat yang memberikan pengelolaan kepada Rendra. Tidak satu pun pernah dibuat atau ditandatangani Maira.
Surat ketidakmampuan menyebut trauma setelah kebakaran dan keterikatan emosional kepada keluarga Adiprana. Kalimatnya mengambil keterangan psikologis dari berkas pengadilan, lalu mengubah respons wajar menjadi alasan mencabut kendali.
Dokter yang tercantum sudah pensiun dan tidak pernah memeriksa Maira. Tanda tangannya diambil dari surat kematian Lestari. Ketika dihubungi, dokter marah dan bersedia memberi sampel tulisan. Ia juga meminta semua pasien lama diberi tahu bahwa namanya mungkin dipakai.
Wasiat palsu menempatkan pegawai studio sebagai saksi, padahal tanggalnya hari saat mereka berada di pameran luar kota. Foto acara menjadi bukti waktu. Maira tidak perlu meminta pegawainya bersumpah tentang keadaan mentalnya; pelaku sudah memilih tanggal yang dapat dibantah secara objektif.
Tanda tangannya disusun dari empat sumber: akta studio, laporan pajak, penerimaan barang bukti, dan tanda tangan digital pada permohonan koreksi. Semakin Maira berusaha memperbaiki identitasnya, semakin banyak bahan baru dikumpulkan sistem.
'Kita hentikan semua pengajuan daring atas namamu,' kata pengacaranya.
'Hentikan sampai jalurnya aman, bukan selamanya. Aku tidak mau dipaksa kembali memakai kertas hanya karena mereka mencuri sistem.'
Bank dan pengadilan memasang verifikasi tatap muka sementara. Maira memilih dua lokasi yang tidak dikelola Adiprana. Setiap permohonan harus memakai frasa keamanan serta pemberitahuan kepada pengacaranya.
Rendra membuat pernyataan penolakan atas wasiat palsu. Pengacara mengingatkan ia tidak dapat menolak harta yang belum pernah sah diberikan, tetapi pernyataan berguna untuk mencegah orang mengklaim ia mengandalkan draf tersebut.
Direksi ingin menerbitkan pernyataan bersama bahwa Rendra dan Maira tidak memiliki hubungan. Keduanya menolak. Perusahaan tidak berhak menentukan hubungan pribadi demi meredakan harga saham. Yang perlu diumumkan hanya bahwa dokumen perwalian palsu dan tidak mempunyai akibat hukum.
Harga saham tetap turun. Rendra memerintahkan tidak ada pemecatan atau penjualan aset cepat atas alasan kepanikan. Auditor menyiapkan laporan kas agar pegawai mengetahui operasi dapat bertahan enam bulan tanpa transaksi Nawasena.
Maira melihat bagaimana nama mereka kembali diubah menjadi angka pasar. Ia mematikan berita setelah membaca pemberitahuan resmi. Tidak setiap rumor perlu dijawab oleh tubuh orang yang menjadi sasaran.
'Saya tidak meminta pengelolaan studio dalam keadaan apa pun,' tulisnya. 'Bila Maira membutuhkan wali, ia menentukan sendiri tanpa hak istimewa keluarga Adiprana.'
Maira membaca sebelum dokumen diajukan. Ia mengubah kalimat terakhir karena terdengar seolah ketidakmampuannya sudah mungkin terjadi.
'Tulis bila aku memilih menunjuk wakil,' katanya. 'Bukan bila aku membutuhkan wali.'
Rendra menerima perubahan.
Server menyimpan templat dari kantor Hadi. Hadi mengenali formatnya sebagai karya mantan atasannya, Yudhistira Salim, pejabat yang menandatangani koreksi klinik lama. Yudhistira meninggal sepuluh tahun lalu. Akunnya tetap aktif melalui sertifikat yang tidak pernah dicabut.
Hadi mengaku menggunakan sertifikat itu untuk memeriksa arsip ketika sistem baru gagal. Ia tidak tahu sertifikat juga dapat menerbitkan surat ketidakmampuan. Kelalaian kantor memberi Pengelola Nol tanda tangan orang mati yang dipercaya sistem.
Daftar akses menunjukkan Gendis memakai sertifikat Yudhistira saat bekerja di Adiprana. Gita mengaku hanya menggunakannya untuk membaca dua akta. Aditya memakai sekali. Keisha tidak pernah mendapat kata sandi menurut pengakuannya. Lima penerbitan lain berasal dari kantor catatan sipil lama setelah gedung ditutup.
Di meja server ditemukan cangkir baru dan obat untuk radang sendi. DNA pada bibir cangkir milik perempuan, bukan Keisha, Gita, Ratih, Laras, Maira, atau Aira. Sidik tidak ada karena permukaan dilapisi minyak tipis.
Kamera jalan menunjukkan taksi menurunkan perempuan tua setiap Kamis malam. Wajahnya tertutup topi. Ia berjalan tanpa cedera bahu, menulis dengan tangan kiri, dan membawa tongkat yang tidak selalu menyentuh tanah.
Gita melihat rekaman dan menjadi pucat. Ia mengenali cara tongkat dilipat.
'Kepala administrasi klinik memakai tongkat seperti itu setelah kebakaran,' katanya. 'Namanya Marlina Ghozali.'
Laras mula-mula mengatakan tidak ingat. Ketika diperlihatkan foto lama, ia mengakui Marlina mengelola register dan penempatan arsip sementara. Perempuan di tepi foto Ratih dan Gita kemungkinan dirinya.
'Apakah dia mati?' tanya Malik.
'Dia menghilang saat klinik ditutup.'
'Itu bukan jawaban.'
'Saya tidak pernah melihat jenazah.'
Dokumen perusahaan menunjukkan Marlina menerima pesangon melalui yayasan pesisir. Setelah itu namanya berubah menjadi Marni Lazuardi, konsultan data yang mendirikan pendahulu Nawasena.
Akta Marni disahkan Yudhistira dengan saksi Laras. Alamat pertamanya rumah singgah Purnama. Tiga tahun kemudian, ia mendirikan perusahaan pencocokan data rumah sakit yang kemudian dibeli Nawasena. Nilai penjualannya menjadi modal dana luar negeri.
Riwayat perjalanannya menunjukkan ia tinggal bergantian di Singapura dan Jakarta. Dalam lima tahun terakhir, ia kembali setiap kali salah satu proyek warisan memasuki pengadilan. Ia berada di Jakarta saat kapal Bima meledak, tetapi catatan hotel menempatkannya jauh dari dermaga. Keberadaan membuktikan kesempatan mengelola, bukan menaruh bahan bakar.
Marni memiliki hubungan pembayaran dengan Damar sejak delapan tahun lalu. Deskripsi transfer menyebut pemetaan risiko marina. Besarnya naik tiga kali lipat sebulan sebelum ledakan.
Nomor pajak Marni masih aktif. Ia tercatat sebagai penasihat pada dana luar negeri yang memegang saham Nawasena Properti.
Pengelola Nol akhirnya memiliki calon nama.
Namun sebelum polisi dapat mendatangi alamatnya, pengacara Marni mengirim surat. Marni bersedia memberi keterangan dan menyangkal menanam alat di tas Bima.
Ia juga melampirkan salinan wasiat palsu Maira dengan satu catatan tulisan tangan.
Tulisan catatan cocok tanda tangan Marni pada dokumen perusahaan. Tidak ada racun atau alat dalam amplop. Surat dikirim melalui firma hukum bereputasi dan pengacaranya mengaku menerima bahan langsung dari Marni.
Malik meminta firma mempertahankan kerahasiaan lokasi klien sambil mengajukan perintah hadir. Hak komunikasi pengacara tidak dapat diterobos hanya karena pesannya provokatif. Pada saat sama, bank menahan transfer besar dari dana Marni agar aset tidak hilang sebelum pemeriksaan.
Maira membaca undangan sebagai upaya mengatur ruang. Ia tidak membalas dengan kemarahan pribadi. Jawabannya satu paragraf: saya akan hadir bila dipanggil secara sah, dengan orang yang saya pilih dan tanpa pengakuan atas dokumen apa pun yang Anda kirim.
Kalau Maira ingin mengetahui siapa yang menulis pilihannya, datanglah tanpa lelaki yang ingin mewarisinya.