'Kau seharusnya ikut terbakar di kamar 408.'
Genggaman Laras menguat sampai kukunya menekan kulit Maira. Mata perempuan tua itu tidak lagi memandang ruang keluarga kediaman Adiprana. Tatapannya menembus Maira, seakan melihat asap dan api dari tiga puluh tahun silam.
'Oma!' Rendra bergerak lebih cepat ketika lutut Laras kehilangan tenaga.
Ia menangkap tubuh neneknya sebelum jatuh. Jemari Laras terlepas dari pergelangan Maira, meninggalkan empat lekukan pucat. Napasnya memburu, bibirnya bergerak menyebut sebuah nama yang nyaris tenggelam oleh kepanikan para staf.
'Lestari.'
Maira membeku.
Rendra mengangkat Laras ke sofa. 'Panggil dokter keluarga. Sekarang.'
Seorang pelayan berlari keluar. Maira hendak mendekat, tetapi Rendra mengangkat telapak tangan, menyuruhnya menjaga jarak. Wajahnya kembali keras, namun kali ini kecurigaan itu bercampur ketakutan.
'Apa yang kaulakukan kepadanya?'
'Aku bahkan tidak tahu dia mengenal ibuku.'
'Namamu disebut dalam akta pernikahan Bima. Sekarang Oma mengenali wajahmu dan menyebut Lestari. Berapa banyak kebetulan yang harus kuterima?'
'Mungkin sama banyaknya dengan kebohongan yang baru kuketahui tentang keluargaku.' Maira menunjukkan bekas kuku di pergelangan tangannya. 'Dia mengatakan aku seharusnya terbakar di kamar itu. Aku berumur tiga puluh tahun, Rendra. Kebakaran Hotel Adiprana terjadi tiga puluh tahun lalu. Aku bahkan tidak tahu apakah saat itu aku sudah lahir.'
Rendra hendak menjawab, tetapi Laras kembali membuka mata. Tangannya meraba udara.
'Foto itu,' bisiknya. 'Jangan biarkan mereka mengambil foto itu lagi.'
'Foto apa, Nek?' Rendra berlutut di sampingnya.
'Perempuan dari kamar empat nol delapan.'
Dokter datang bersama dua perawat pribadi. Mereka meminta semua orang keluar saat memeriksa tekanan darah Laras. Di koridor, Maira berdiri dengan punggung menempel dinding. Keterangan tentang akta yang menjadikannya istri sah Bima sudah cukup mengguncang hidupnya. Kini nama ibunya ditarik masuk ke dalam rumah yang selalu diklaim Lestari tidak pernah dikenalnya.
Rendra berdiri beberapa langkah darinya. 'Ibumu pernah bekerja untuk keluarga kami?'
'Tidak.'
'Jawabanmu terlalu cepat.'
'Karena Ibu selalu bilang sebelum membuka usaha jahit, dia membantu kerabat di Solo. Dia bahkan menolak ketika aku pernah mendapat proyek restorasi buku tamu Hotel Adiprana. Katanya gedung hotel membuatnya sesak.' Maira menatap pintu kamar Laras. 'Kukira itu hanya alasan agar aku tidak bekerja terlalu jauh.'
Kini ia mengingat Lestari selalu menutup televisi setiap berita kebakaran muncul. Ibunya juga menyimpan satu koper besi yang tidak pernah boleh disentuh, bahkan saat mereka berpindah rumah. Kebiasaan-kebiasaan kecil itu dahulu tampak seperti kecemasan biasa. Di rumah Adiprana, semuanya berubah menjadi jejak yang sengaja ditinggalkan tanpa penjelasan.
Dokter keluar dan mengatakan Laras perlu beristirahat. Kondisinya stabil, tetapi tidak boleh diganggu lagi malam itu. Sebelum pintu ditutup, Laras sempat menoleh kepada Rendra.
'Arsip lama,' katanya. 'Cari Lestari di arsip lama.'
Rendra tidak menunggu perintah kedua. Ia membawa Maira ke sayap belakang kediaman, melewati galeri foto keluarga menuju ruang penyimpanan yang dinginnya dijaga sepanjang hari. Deretan lemari besi memenuhi dinding. Bau kertas tua dan kain penjilid membuat Maira merasa lebih akrab daripada seluruh kemewahan rumah itu.
'Hotel menyimpan catatan pegawai sejak pertama berdiri,' ujar Rendra. 'Sebagian dipindai, sebagian belum pernah dibuka lagi setelah kebakaran.'
Ia memasukkan kode ke komputer katalog. Maira berdiri di sampingnya saat nama Lestari Savitri diketik. Satu hasil muncul.
Nomor pegawai 408-LS. Bagian laundry. Mulai bekerja tiga puluh satu tahun lalu.
Maira membaca baris itu dua kali. 'Ini tidak mungkin.'
Rendra membuka gambar hasil pindai. Formulirnya memuat foto Lestari pada usia muda, jauh sebelum penyakit menguruskan wajahnya. Tidak ada keraguan. Bentuk mata, garis dagu, bahkan tahi lalat kecil di dekat alis kiri sama persis.
'Mungkin orang lain memakai nama yang sama,' kata Rendra, meski suaranya tidak lagi terdengar yakin.
'Matanya milik ibuku.' Maira menunjuk tanda tangan di bawah foto. 'Dan ini cara dia membuat huruf S. Dia selalu menarik garis terakhir kembali ke tengah.'
Keahlian Maira hidup justru ketika pikirannya kacau. Ia memperbesar pindai, memeriksa serat kertas, tekanan pena, dan perubahan warna tinta. Tidak ada jejak penempelan foto baru atau perubahan tulisan. Formulir itu benar-benar dibuat tiga puluh satu tahun lalu.
Rendra memperhatikannya tanpa menyela. Mungkin untuk pertama kalinya ia melihat Maira bukan sebagai perempuan yang namanya muncul dalam dokumen mencurigakan, melainkan seseorang yang juga sedang diburu oleh dokumen itu.
'Catatan terakhir menyebut dia dipindahkan ke lantai empat pada malam kebakaran,' kata Rendra.
'Bagian laundry berada di ruang bawah tanah.'
'Kamar 408 dipakai sebagai penyimpanan pribadi keluarga saat hotel belum dibuka penuh.'
Maira menatapnya. 'Apa yang disimpan di sana?'
'Aku tidak tahu. Semua laporan menyatakan kamar itu kosong.'
'Maka laporan itu berbohong.'
Mereka mencari kotak fisik yang terhubung dengan nomor pegawai tersebut. Labelnya pudar dan segelnya pernah dibuka paksa. Di dalamnya ada daftar jadwal, slip upah, dan laporan barang hilang. Tidak satu pun menjelaskan mengapa Lestari berada di lantai empat.
Maira mengangkat selembar kartu inventaris dan menemukan tepi foto menyembul dari bawah lapisan karton. Seseorang pernah merekatkannya di sana, lalu mencoba menutupinya.
'Jangan ditarik,' katanya ketika Rendra mengulurkan tangan. 'Emulsinya bisa terkelupas.'
Dengan pinset dari meja konservasi, ia mengangkat foto itu perlahan. Gambar hitam putih memperlihatkan Laras yang masih muda berdiri di depan pintu bernomor 408. Di sampingnya ada Lestari, mengenakan seragam laundry dan memegangi perut yang sudah jelas membesar.
Sisi kanan foto telah disobek. Hanya tersisa potongan lengan seseorang yang berdiri sangat dekat dengan Lestari. Sobekannya tidak kasar akibat usia; seratnya menunjukkan seseorang sengaja merobek bagian itu.
Maira menahan napas. 'Ibu sedang hamil.'
Rendra melihat tanggal di sudut foto. 'Tiga minggu sebelum kebakaran.'
'Kalau bayi itu aku, kenapa Ibu tidak pernah menceritakannya? Dan siapa yang dihilangkan dari foto ini?'
Rendra tidak menjawab. Ia menyalakan lampu pemeriksa sementara Maira membalik foto dengan hati-hati. Ada tulisan tangan di sisi belakang, nyaris pudar tertutup noda air. Maira mengarahkan cahaya dari samping agar lekukan pensilnya muncul.
Bukan tulisan Lestari. Bukan pula tulisan pada catatan perusahaan. Hanya lima kata yang membuat jarak tiga puluh tahun mendadak terasa seperti satu malam.
'Dua bayi, satu nama.'