Rapat direksi dihentikan sebelum satu suara pun dihitung.
Rendra memerintahkan sekretaris mencatat bahwa hak suara masuk melalui identitas disengketakan. Ia tidak menghapus entri, sebab penghapusan akan menghilangkan jejak. Auditor mengambil citra sistem dan memutus jaringan ruang rapat.
Maira datang bersama pengacaranya setelah menerima pemberitahuan resmi. Ia duduk sebagai korban penggunaan identitas, bukan pemegang saham. Pada layar, namanya tampak lengkap dengan nomor pajak dan tanda tangan digital yang tidak pernah dibuatnya.
'Saya menolak seluruh tindakan yang diajukan melalui profil ini,' katanya. 'Penolakan saya bukan pengakuan bahwa profil tersebut milik saya.'
Kalimat itu dimasukkan ke berita acara. Dua direktur meminta rapat diteruskan memakai suara lain. Kustodian menolak sampai jalur masuk diketahui.
Pengacara Maira meminta sistem menampilkan riwayat profil palsu. Profil itu pernah dipakai melihat laporan dividen, daftar pemegang obligasi, dan jadwal rapat. Tidak ada transfer uang, tetapi akses informasi dapat membantu pembeli menentukan kapan perusahaan paling lemah.
Satu direktur bertanya apakah Maira akan menuntut hotel. Ia menjawab bahwa keputusan hukum akan dibuat setelah audit, bukan ditukar dengan kursi atau penyelesaian tertutup. Pertanyaan tersebut ikut dicatat. Selama dua tahun, orang-orang perusahaan membicarakan namanya sebagai aset; kali ini mereka harus mendengar pemilik nama menentukan prosesnya.
Rendra tidak berbicara atas namanya. Ia hanya memerintahkan staf tidak mengirim dokumen apa pun ke alamat profil sebelum izin kustodian.
Token suara diterbitkan dari terminal Kamar 408 tiga menit sebelum rapat. Polisi masih menjaga pintu dan tidak seorang pun masuk. Terminal ternyata terhubung ke kabel tua yang menuju P-408. Di ruang klinik, sebuah modem analog menyala di belakang lemari baja.
Perangkat menggunakan saluran telepon internal yang tidak tersentuh pemutusan jaringan. Panggilan pemicu berasal dari pesawat di rumah peristirahatan Laras. Rekaman operator hanya menyimpan enam detik suara perempuan yang mengucapkan kode aktivasi.
Laras sedang berada di rumah itu bersama perawat dan dua petugas pengawas. Mereka mengatakan ia tidur ketika panggilan dibuat. Telepon berada di lorong dan dapat dijangkau ketiganya. Kamera luar tidak menunjukkan pengunjung.
Suara dalam rekaman mirip Laras, tetapi alat Aditya mampu membangun tiruan dari sampel pendek. Nadia meminta pemeriksaan perangkat perawat, petugas, dan sistem rumah dengan persetujuan atau surat izin. Tidak seorang pun langsung disebut pelaku.
Ahli suara memecah enam detik rekaman menjadi napas, vokal, dan gema ruangan. Napas terdengar alami, tetapi ujung tiga suku kata terpotong pada frekuensi sama. Itu ciri suara yang dirakit dari rekaman berbeda. Gema cocok lorong rumah Laras karena penelepon memutar hasil tiruan di dekat pesawat telepon, bukan mengirim file langsung.
Pada gagang ditemukan sidik perawat, Laras, dan petugas malam. Semua memiliki alasan wajar menyentuhnya. Debu di bawah meja terganggu oleh sepatu kecil, namun ukuran itu dipakai Laras dan perawat. Bukti fisik mempersempit waktu tanpa memilih pelaku.
Perawat mengingat telepon sempat berdering sekali tanpa suara pagi hari. Panggilan itu mungkin uji sambungan. Catatan nomor berasal dari kios dekat kantor pemakaman Lestari, menghubungkan jalur sekarang dengan transaksi setelah kematiannya tanpa menjelaskan siapa penelepon.
Aditya mendengar rekaman dari tahanan. Ia mengenali bentuk kompresi buatan perangkatnya, tetapi mengatakan file suara bukan buatannya.
'Saya menjual dua alat lama,' katanya. 'Satu kepada Damar, satu kepada orang dari sekretariat Laras.'
'Siapa namanya?'
'Dia pakai surat tugas Galih. Wajahnya perempuan, tetapi saya tidak percaya wajah lagi.'
Surat tugas ditemukan dalam surel Galih. Tanda tangan digitalnya sah dan dikirim dari akunnya. Galih mengaku pernah menyetujui pembelian perangkat restorasi suara untuk rekaman pendiri, bukan alat spoof. Deskripsi barang diubah setelah ia menandatangani anggaran.
Ia tetap bertanggung jawab karena menyetujui vendor tanpa pemeriksaan dan membiarkan akunnya dipakai sekretariat bersama. Namun bukti belum menunjukkan ia memicu suara hari itu.
Malik menanyakan siapa yang diuntungkan oleh rapat. Agenda pertama adalah penjualan jaringan hotel kepada Nawasena Properti. Suara delapan belas persen akan membuat persetujuan mencapai batas minimum. Damar menerima pembayaran dari perusahaan saudara Nawasena, tetapi pemilik akhirnya tersembunyi di balik dua dana luar negeri.
Agenda kedua lebih tersembunyi: pemberian hak mengelola arsip tamu selama dua puluh tahun kepada vendor data. Vendor itu baru berdiri enam bulan lalu dan direkturnya memakai alamat kantor kosong. Jika disahkan, jutaan salinan identitas tamu berpindah ke sistem yang terhubung Nawasena.
'Mereka bukan hanya menginginkan gedung,' kata Maira. 'Mereka menginginkan nama orang yang pernah tidur di dalamnya.'
Auditor setuju, tetapi menambahkan bahwa motif keuangan dan identitas dapat dimiliki pihak berbeda. Damar mungkin menjual suara untuk uang, sementara pembeli memakai transaksi untuk data. Penyelidikan tidak boleh memaksa keduanya menjadi satu dalang sebelum kepemilikan vendor dibuka.
Rendra meminta agenda penjualan dicabut permanen. Direksi hanya dapat menunda sampai penyelidikan selesai karena ia tidak memiliki suara tunggal. Ia kemudian mengumumkan konflik kepentingannya dan menyerahkan negosiasi kepada komite independen.
'Kalau jaringan dijual murah, pekerja dan kreditur tetap terkena akibat,' katanya kepada Maira setelah rapat. 'Aku tidak dapat sekadar membakar perusahaannya.'
'Aku tidak memintamu membakar apa pun.'
'Aku tahu. Dulu aku sering menjelaskan keputusan seolah orang lain sudah menuduhku.'
Maira menatapnya. Pengakuan kecil itu tidak menyelesaikan kebohongan besar, tetapi menunjukkan ia mulai mendengar kalimat yang benar-benar diucapkan.
Tim kembali memeriksa terminal Kamar 408. Pita cetak menyimpan formulir aktivasi suara dengan baris persetujuan berlapis. Bima tercantum sebagai pemilik yang hidup, Maira sebagai pemegang legal, dan Penerus sebagai wali. Sistem tidak peduli ketiganya tidak pernah menyetujui pada saat sama.
Pada catatan pemrograman terdapat inisial GK. Galih Kertanegara memakai inisial sama. Begitu pula Gita Kusuma, nama lama Ratih sebelum adopsi keluarga. Ratih mengatakan ia tidak pernah memakai nama Gita, tetapi register klinik mencatat seorang petugas bernama itu.
Laras akhirnya setuju memberi keterangan di kantor, lalu tidak tiba pada waktu yang ditentukan. Petugas di rumah peristirahatan menemukan kamarnya kosong. Jendela terkunci dari dalam, tidak ada tanda kekerasan, dan mobil tetap di garasi.
Pencarian dimulai dari rumah, kebun, klinik terdekat, serta jalur kendaraan umum. Polisi tidak mengumumkan Laras buronan karena belum ada perintah penahanan. Foto yang disebar hanya kepada petugas menyebut kondisi jantung dan obat yang diperlukan.
Rendra menyerahkan akses pelacak keluarga, lalu memperingatkan datanya sering salah karena Laras mematikan ponsel. Titik terakhir berada di rumah, sedangkan jam pintarnya ditemukan di laci. Ia pergi dengan sengaja tanpa perangkat yang biasa mengungkap lokasi, tetapi niat menghindari pelacakan belum membuktikan ia hendak melarikan diri dari perkara.
Di lemari hilang satu map medis, selendang, dan sepatu datar. Uang serta paspor tetap ada. Malik menilai Laras kemungkinan menuju tempat yang dapat dicapai dalam kota dan berkaitan dengan arsip, bukan bandara atau perbatasan.
Perawat mengaku Laras memintanya mengambil selendang dari lemari. Ketika kembali, tempat tidur hanya berisi bantal di bawah selimut. Pintu layanan menuju kebun terbuka memakai kunci mekanis.
Rendra tidak menyebut ibunya diculik atau melarikan diri. Ia menyerahkan daftar tempat Laras biasa pergi dan meminta pencarian orang rentan karena kondisi jantungnya.
Maira memeriksa foto kamar. Di meja Laras tertinggal satu potong kertas restorasi dengan bekas gosokan grafit. Polanya cocok lekukan formulir Penyerahan Ruang 408.
Di bawah dua huruf AS, grafit mengangkat nama yang sebelumnya terpotong.
Lestari Savitri.