Koridor menuju klinik lama dibuka dengan kartu bukti duplikat, bukan kartu atas nama Maira.
Malik memperoleh perintah penggeledahan baru karena izin Kamar 408 tidak otomatis mencakup ruang medis di bawah hotel. Rendra menutup satu sayap hotel dan memindahkan tamu tanpa memberi alasan yang menimbulkan kepanikan. Biayanya ditanggung perusahaan, bukan dibebankan kepada pegawai sif.
Maira masuk setelah tim bahan berbahaya memastikan udara aman. Dinding koridor dilapisi cat baru, tetapi angka P-408 masih timbul di bawah permukaannya. Di balik pintu terdapat tiga kursi pemeriksaan, lemari baja, dan kamera foto dokumen yang tidak tercantum dalam inventaris.
Ruangan itu tidak dipakai untuk melahirkan. Ia dipakai sesudahnya.
Register mencatat bayi dan pasien yang keluar dari klinik tanpa akta, lalu memasangkan mereka dengan arsip sementara. Inisial AS memang berarti arsip sementara. Nomor 408 adalah kelompok terakhir sebelum klinik ditutup. Empat belas orang berada di dalamnya; dua nama kemudian muncul pada daftar pasien Purnama.
Setiap baris mempunyai dua tanggal: hari orang masuk dan hari arsip harus dimusnahkan setelah akta sah terbit. Pada sembilan baris, tanggal pemusnahan dicoret dan diganti kata simpan. Artinya identitas sementara tetap dipelihara meski orangnya telah memperoleh nama legal. Sisa itulah yang kemudian dapat dijual atau dipakai kembali.
Malik meminta tim tidak menghubungi empat belas orang lewat alamat pada register. Sebagian alamat mungkin milik keluarga yang membeli identitas. Lembaga bantuan memakai pengumuman berkode dan saluran sukarela. Orang yang datang berhak menolak tes DNA serta membawa penasihat sendiri.
Seorang perempuan berusia tiga puluh tahun menjadi orang pertama yang menjawab. Ia hanya ingin tahu apakah kredit atas nama lamanya masih hidup. Nadia menemukan dua pinjaman dibuat setelah ia mengganti nama. Perkara Proyek Janda kini memperlihatkan korban lain, tetapi kisah mereka tidak dibuka di depan Maira tanpa izin.
Maira dan Aira tidak tercatat sebagai nama. Keduanya muncul sebagai satu baris: bayi perempuan kembar, satu dipulangkan, satu dialihkan.
Kolom pemilik keputusan kosong.
Aira menerima salinan melalui pengacaranya. Ia tidak datang ke ruang bawah tanah. Pilihan itu bukan tanda ia menolak kebenaran, melainkan cara mengendalikan kapan tubuhnya harus menghadapi tempat yang pernah menghapus namanya.
'Aku akan membacanya di ruang yang kupilih,' katanya kepada Maira melalui telepon.
'Aku mengirim salinan lengkap, bukan ringkasan.'
'Terima kasih.'
Mereka tidak memaksa percakapan menjadi pelukan.
Dalam lemari baja ditemukan formulir wali sementara. Wali tidak menunjuk orang tua bagi bayi, melainkan pemegang dokumen sampai identitas legal tersedia. Kolom nama memakai kode jabatan Penerus Kamar 408. Siapa pun yang memegang cap jabatan dapat mengubah arsip, mengajukan akta, dan mengendalikan harta yang ditempelkan pada identitas sementara.
'Ini bukan wali untuk melindungi manusia,' kata Maira. 'Ini wali atas nama.'
Ahli tata kelola membenarkan. Jabatan tersebut dapat berpindah tanpa mengubah dokumen dasar. Bila proyek Bima ditempelkan pada mekanisme lama, Penerus dapat mengendalikan suara saham sambil membiarkan Maira terlihat sebagai pemilik.
Perjanjian wali mewajibkan dua tanda tangan dan satu cap timbul. Pada formulir proyek, dua tanda tangan diganti persetujuan digital dari kantor CEO serta catatan sipil. Cap timbul hanya terlihat sebagai gambar pindai. Seseorang tidak perlu memiliki cap asli bila sistem hotel menerima salinan lama.
Maira meminta contoh semua cap diperiksa. Satu cetakan pada register berbeda setengah milimeter dari yang lain, tanda bahwa cap pernah dibuat ulang. Bengkel pembuat cap sudah tutup, tetapi buku pesanannya tersimpan di rumah pemilik. Nama pemesan salinan ditulis sebagai sekretariat pendiri, tanpa nama pribadi.
Tanggal pesanannya sehari setelah Bima menemukan register kelahiran.
Cap asli tidak ada di lemari. Jejak kotaknya menunjukkan benda dipindahkan baru-baru ini. Debu di rak terputus dan satu serat kain biru tersangkut pada engsel.
Serat cocok dengan map direksi Adiprana yang dipakai Galih. Namun map serupa berjumlah ratusan. Malik meminta daftar distribusi, bukan langsung menangkap Galih atas dasar satu serat.
Galih datang didampingi pengacara. Ia mengakui pernah turun ke P-408 setelah ledakan atas perintah Laras. Ia mengambil map biru berisi arsip pasien dan membawanya ke ruang direksi.
'Apakah cap ada di dalamnya?' tanya Malik.
'Saya tidak membuka map.'
'Anda menyetujui pemindahan arsip tanpa inventaris.'
'Laras mengatakan itu catatan keluarga yang dapat menghancurkan hotel.'
'Lalu Anda menurut.'
'Ya.'
Map dikembalikan ke Laras malam yang sama. Laras membenarkan menerima arsip, tetapi mengatakan cap tidak ada ketika ia memeriksa. Keterangan keduanya tidak dapat diuji karena kamera lantai direksi mati selama renovasi.
Auditor menemukan map biru itu di lemari Galih, sudah kosong. Nomor inventaris cocok dengan serat di P-408. Galih mengaku Laras mengembalikannya seminggu kemudian dan ia memakai lagi untuk rapat lain. Di bagian karton terdapat bekas lingkaran sebesar cap serta noda minyak mesin.
'Kalau cap pernah ada di map, Anda mungkin tidak melihatnya?' tanya Malik.
'Mungkin.'
'Kalau Anda melihatnya dan menyerahkan kepada orang lain?'
'Saya tidak melakukannya.'
Galih mengizinkan pemeriksaan rekening dan kantor, tetapi menolak menyerahkan komunikasi pribadinya di luar rentang surat izin. Malik menerima batas hukum itu dan meminta perluasan kepada pengadilan dengan bukti yang ada.
Di tengah pemeriksaan, Aira meminta bertemu Bima. Pertemuan dilakukan melalui kaca, disaksikan pengacara, tanpa Maira atau keluarga Adiprana lain. Aira membawa akta kelahiran barunya dan meletakkannya menghadap Bima.
'Ini namaku,' katanya melalui telepon ruangan.
Bima menempelkan telapak pada meja, bukan kaca. 'Aku tahu.'
'Dulu kau bilang nama hanya kertas.'
'Aku salah.'
Aira menanyakan apakah ia masih ingin mempertahankan perkawinan. Bima menjawab iya, tetapi tidak meminta keputusan hari itu. Aira mengatakan ia belum tahu apakah cinta yang dibangun bersama rahasia dapat hidup setelah seluruh nama dibetulkan.
'Ketika kau memanggilku Maira di depan petugas, apakah kau masih melihat aku?' tanya Aira.
Bima lama menjawab. 'Aku melihatmu dan memilih kenyamanan rencanaku. Itu yang paling sulit kuakui.'
'Bukan paling sulit bagimu. Akibatnya paling lama bagiku dan Maira.'
'Benar.'
Aira tidak bertanya apakah Ratih menyuruhnya atau keadaan memaksanya. Ia sudah mendengar alasan itu dari banyak orang. Ia meminta Bima menulis daftar setiap tempat nama Maira pernah dipakai, termasuk kegagalan yang menurutnya tidak penting. Bima setuju menyerahkannya kepada penyidik, bukan langsung kepadanya agar bukti tetap utuh.
'Aku tidak menunggumu sebagai istri yang patuh,' katanya. 'Kalau aku datang lagi, itu pilihanku.'
Bima mengangguk dengan mata basah. Pertemuan berakhir tanpa janji.
Di atas hotel, rapat direksi darurat berlangsung karena saham Bima beku. Rendra menolak memakai suara saudaranya dan meminta kustodian independen. Dua direktur menuduhnya sengaja melemahkan keluarga.
Maira tidak hadir. Ia kembali ke studio dan menemukan Rendra menunggu di kedai seberang, bukan di dalam ruang kerjanya.
'Aku ingin memberitahumu rapat tidak memakai namamu,' katanya.
'Itu seharusnya memang tidak terjadi.'
'Ya.'
Maira duduk karena ia memilih minum teh, bukan karena Rendra menahannya. Mereka berbicara tentang biaya penjagaan dan keadaan pegawai. Rendra tidak menanyakan Bima melalui dirinya.
Lima belas menit kemudian, ponselnya bergetar. Sistem rapat telah menerima hak suara baru sebesar delapan belas persen.
Pemegangnya tercatat Maira Savitri, diwakili Penerus Kamar 408.