Hasil DNA penuh tiba malam itu dan mengonfirmasi lelaki dalam perlindungan adalah Bima Adiprana. Pengadilan membuka proses pencabutan penetapan kematian, tetapi menunda pengumuman alamat serta kondisi medisnya.
Keesokan hari, Bima memberi keterangan dalam sesi-sesi pendek. Maira hadir hanya pada bagian pencurian identitas dan dokumen. Ia tidak duduk sebagai istri, keluarga, atau perwakilan perusahaan.
Bima mengaku menemukan Aira tiga tahun lalu melalui Ratih. Mereka saling mencintai, tetapi Aira tidak memiliki dokumen yang dapat dipakai untuk menikah, menyewa rumah, atau menjadi saksi atas daftar Purnama.
Ia meminta Hadi mencatat perkawinan memakai putusan adopsi palsu yang menyatukan Aira dengan Maira. Bima percaya dapat membatalkan dan membuat akta baru setelah bukti perdagangan aman.
'Mengapa tidak memberi tahu Maira?' tanya Malik.
'Lestari menolak. Dia takut Maira dijadikan sasaran. Aku menerima alasan itu karena waktuku sempit.'
'Anda tahu identitas orang lain dipakai.'
'Ya.'
Urgensi menjelaskan rencana, bukan membenarkannya. Bima menandatangani pengakuan bahwa Maira tidak pernah hadir, menyetujui, atau menerima manfaat dengan sadar.
Ia juga memberi kuasa terbatas agar Maira dapat memakai pengakuan itu di kantor pajak, bank, dan pengadilan tanpa menunggu perkara pidananya selesai. Pengacara Maira mengubah satu klausul yang semula memberi Bima hak melihat setiap permohonan. Pemulihan identitas Maira tidak boleh berubah menjadi cara baru bagi Bima mengawasi hidupnya.
Bima membaca perubahan dan menandatangani lagi. 'Aku tidak perlu tahu rekening mana yang ingin dia bersihkan.'
'Kau memang tidak berhak tahu,' kata Maira.
Wasiat dibuat sehari sebelum kapal berangkat. Delapan belas persen saham diberikan kepada pasangan dalam catatan sipil agar Aira memiliki kekuatan menghadapi Nawasena bila Bima mati. Ia tidak memperkirakan penetapan kematian berlangsung dua tahun atau Maira dipanggil sendiri.
'Kau memperkirakan aku akan melakukan apa ketika saham jatuh atas namaku?' tanya Maira.
'Lestari seharusnya menjelaskan dan membawamu kepada Aira.'
'Jadi sekali lagi, rencanamu membutuhkan perempuan lain mengatur pilihanku.'
'Ya.'
Bima tidak menghindari jawaban.
Tentang ledakan, ia menjelaskan Damar menawarkan jalur aman ke Dermaga Nila dengan imbalan salinan daftar pembeli. Bima pura-pura setuju agar dapat merekam transaksi. Damar kemudian menjual waktu keberangkatan kepada pihak lain dan menutup kanal barat saat serangan terjadi.
Bima tidak tahu siapa yang menaruh bahan bakar tambahan pada perahu kedua. Perangkat koordinat menunjukkan perintah berasal dari terminal Damar, tetapi token pengesahan memakai salinan Harun.
Harun mengaku memberi token untuk perlindungan pasien, bukan serangan. Pemeriksaan harus menentukan apakah token dicuri, dipinjamkan, atau digunakan dengan pengetahuannya.
Santi menekan batal pada koreksi Narto. Galih menutup perbedaan laporan setelahnya. Rendra menyembunyikan transponder dan pertemuan Purnama. Tidak satu tindakan menggantikan tindakan lain.
Bima membenarkan Rendra tidak meledakkan kapal atau memindahkannya dari Purnama. Ia takut kepada kakaknya setelah melihat nomor Rendra pada ambulans dan menerima pesan palsu. Ketika kemudian mengetahui nomor dipakai Aira, ia sudah berada di Unit Utara tanpa jalur keluar.
'Mengapa tidak menghubungi Rendra setelah bebas?' tanya Malik.
'Karena dia membiarkan dunia menganggapku mati. Aku tidak tahu apakah itu perlindungan atau kesempatan.'
'Sekarang?'
'Sekarang aku tahu dia mencari dan berbohong pada saat sama.'
Bima tidak menawarkan pengampunan kepada kakaknya dan tidak meminta Rendra dihukum atas serangan yang tidak dilakukan.
Untuk Aira, ia menandatangani pernyataan terpisah bahwa hubungan mereka tidak boleh dibatalkan hanya demi meringankan kesalahannya memakai nama Maira. Ia bersedia mengulang pencatatan dengan identitas Aira bila pengadilan, Aira, dan pemeriksaan pidana mengizinkan. Pernyataan itu tidak menjadi janji bahwa mereka akan tetap bersama. Pilihan terakhir tetap milik Aira.
Maira meminta salinan disampaikan langsung kepada pengacara Aira. Ia tidak ingin lagi menjadi lorong yang harus dilewati saudara kembarnya untuk mencapai kehidupan sendiri.
Selama empat belas bulan terakhir, Bima berpindah bersama saksi yang hendak keluar dari Purnama. Ia mengumpulkan daftar pembeli, membuat arsip terpecah, dan menunggu dapat menyerahkan tanpa membocorkan lokasi pasien.
'Anda juga menggunakan wajah palsu, identitas Bram, dan pekerja yang tidak tahu risiko,' kata Malik.
'Ya. Saya mengulang sebagian sistem yang ingin saya bongkar.'
Aditya membantunya membuat verifikasi Bima agar rekening dapat mengirim pesan. Setelah mengetahui Bima hendak menyerahkan diri, Aditya mencuri halaman pembeli dan berusaha mengambil kartu Narto. Bima tidak tahu apakah Aditya bekerja untuk Damar atau ingin melindungi Ratih dengan caranya sendiri.
Tiga halaman daftar pembeli memuat perusahaan pelayaran, dua bank bayangan, agen properti, serta lima individu. Damar tercatat sebagai penghubung jalur. Nita sebagai pemroses. Hadi sebagai pengesah. Harun sebagai penyedia token lama.
Galih tidak terdaftar sebagai pembeli, tetapi dana perusahaan yang ia setujui mengalir ke layanan jaringan. Rendra tidak ada pada daftar, tetapi aturan kantor CEO membuat transaksi terlihat sah. Laras menciptakan akses pendiri yang bertahan tiga puluh tahun.
Setiap nama tetap menghadapi pemeriksaan berdasarkan tindakannya.
Pengadilan mencabut sementara hak eksekusi wasiat karena pembuatnya hidup. Saham kembali dibekukan atas nama Bima sampai perkara pidana dan tata kelola selesai. Maira tidak lagi menjadi penerima aktif. Aira belum mendapat saham sebagai istri, tetapi klaim hubungan faktualnya tetap berjalan.
Catatan sipil menambahkan keterangan bahwa perkawinan atas nama Maira disengketakan karena identitas dipakai tanpa persetujuan. Pembatalan final menunggu sidang, tetapi bank serta pajak wajib berhenti menyebutnya janda.
Tiga lembaga mengirim formulir koreksi pada hari yang sama. Dua meminta Maira membuktikan bahwa ia tidak pernah menikah, seolah beban masih berada padanya. Pengacaranya mengembalikan formulir dengan penetapan pengadilan dan menuntut sistem diperbaiki tanpa wawancara pribadi berulang. Lembaga ketiga langsung membekukan label pasangan dan membuka kanal pengaduan.
Maira menyimpan daftar tanggapan. Pemulihan tidak selesai dengan satu putusan jika setiap meja masih meminta korban mengulang cerita. Ia berniat membawa pola itu ke sidang, bukan hanya untuk dirinya tetapi juga orang-orang Purnama yang namanya pernah dipinjam.
Maira membaca surat koreksi pertama. Nama Bima masih terhubung sebagai perkara, bukan pasangan yang harus ia terima.
Setelah sesi, Rendra menunggu di halaman pengadilan tanpa mencoba bertemu Bima. Maira menghampirinya karena pilihannya sendiri.
'Dia mengatakan kau tidak menyerangnya,' katanya.
'Itu tidak menghapus kebohonganku.'
'Tidak.'
Rendra mengangguk. 'Apakah dia aman?'
'Untuk sekarang. Tanyakan detail kepada Malik ketika diizinkan.'
Maira tidak menjadi pembawa hubungan dua saudara. Mereka berdiri sebentar, lalu berpisah menuju kendaraan berbeda.
Malamnya, ahli memeriksa lembar terakhir daftar pembeli. Di bawah tinta Damar ada lapisan lebih tua yang dipindahkan dari buku Purnama.
Satu paket identitas diberi nama Proyek Janda 408. Tujuannya bukan hanya memberikan saham kepada Aira, melainkan mempertahankan Maira sebagai pemegang legal bila Bima kembali hidup.
Paket itu memiliki tiga lapisan instruksi. Lapisan pertama mengaktifkan wasiat saat Bima dinyatakan mati. Lapisan kedua menunda pembetulan akta bila sidik hidupnya muncul. Lapisan ketiga memindahkan hak suara melalui wali sementara yang namanya belum terbaca. Tanggal pembuatannya dua minggu sebelum Bima meminta Hadi mencatat perkawinan.
Dengan demikian, seseorang telah menyiapkan jebakan sebelum keputusan Bima sendiri selesai dibuat. Pelaku mengetahui rencananya, lalu memperluas akibatnya. Ahli menolak menyimpulkan siapa hanya dari urutan tinta. Daftar orang yang mengetahui rencana awal mencakup Ratih, Hadi, Lestari, dan satu penghubung Purnama yang masih memakai kode kamar.
Pembelinya tidak dicantumkan. Kolom penerima hanya memuat gelar: Penerus Kamar 408.
Bima bersumpah tidak pernah membuat bagian tersebut.
Seseorang telah menumpang pada perkawinan palsunya dan merancang agar Maira tetap menjadi janda bahkan setelah lelaki yang disebut suaminya pulang.