Lembar Proyek Janda 408 dipindahkan ke meja cahaya tanpa dilepaskan dari selubung bening.
Maira berdiri di sisi ahli dokumen sebagai pengamat, bukan pemeriksa utama. Ia mengenali cara serat menahan tinta, tetapi perkara itu menyangkut namanya sendiri. Setiap pendapatnya dicatat sebagai informasi yang masih harus diuji orang lain.
Lapisan tertua dibuat pada kertas register Purnama sekitar tiga tahun lalu. Judul proyek ditambahkan dua minggu sebelum Bima meminta Hadi mencatat perkawinan. Instruksi penundaan koreksi identitas ditulis tujuh hari kemudian dengan tinta dari pena lain. Tiga waktu, sedikitnya dua tangan.
'Jadi orang pertama belum tentu merancang seluruh jebakan,' kata Malik.
'Dan orang terakhir mungkin hanya mengubah fungsi yang sudah ada,' jawab Maira.
Ahli menemukan lekukan di balik kolom penerima. Lembar itu pernah ditumpuk di bawah formulir bertuliskan P-408, tanpa kata janda. Tekanan pena menyisakan sebagian kalimat: penerus menerima ruang, bukan nama.
Pemindaian inframerah memisahkan tinta judul dari instruksi di bawahnya. Judul ditulis memakai pena yang dijual bebas, sedangkan instruksi berasal dari tinta arsip tahan air yang dahulu dipesan khusus oleh Studio Aksara Pulih. Catatan pembelian menunjukkan Lestari memasok tinta serupa kepada Purnama untuk memulihkan register kebakaran. Ribuan halaman pernah disentuh pena itu; asal barang tidak menunjuk penulis tunggal.
Bekas staples di tepi juga berbeda usia. Formulir dasar pernah dijilid dalam buku, lalu dicabut dengan hati-hati. Judul proyek ditambahkan ketika lembar sudah terpisah. Maira menunjukkan serat yang terlipat ke dalam, tetapi ahli lain mengonfirmasi sebelum temuan dimasukkan laporan.
'Orang yang mencabutnya memahami konservasi dasar,' kata ahli.
'Banyak orang pernah belajar dari Ibu,' jawab Maira. Ia menolak membiarkan keahlian Lestari berubah menjadi tuduhan terhadap orang yang sudah tidak dapat membela diri.
Ruang dapat berarti kamar hotel, ruang server, atau kedudukan hukum. Malik melarang tim memilih arti yang paling dramatis sebelum menemukan formulir atasnya.
Bima diperiksa kembali mengenai siapa yang mengetahui rencana perkawinannya. Ia menyebut Ratih, Lestari, Hadi, dan Aira. Rendra baru mengetahui setelah akta tercatat. Laras tahu Bima sedang mencari jalan melindungi Aira, tetapi menurut Bima tidak tahu nama Maira akan dipakai.
'Kau pernah menyebut kamar 408 kepada mereka?' tanya Malik.
'Kepada Hadi. Aku bilang dokumen akan kusimpan di kamar itu setelah pencatatan.'
'Mengapa kamar hotel?'
'Karena brankasnya tidak masuk daftar inventaris keluarga.'
Bima mengakui ia menganggap rahasia sebagai pengamanan. Kebiasaan itu membuat setiap orang hanya memegang satu potongan dan tidak dapat melihat ketika rencana lain menempel di atasnya.
Hadi dibawa dari tahanan pemeriksaan ke ruang wawancara. Ia tidak menyangkal mendengar nomor 408. Bima memintanya mencari cara agar pasangan tanpa identitas menerima hak darurat. Hadi menyusun pendapat hukum yang menyatakan hal itu tidak dapat dilakukan memakai nama orang lain.
'Lalu Anda tetap mengesahkan akta palsu,' kata Malik.
'Setelah foto anak saya dikirim dari sekolah. Saya panik.'
'Siapa yang memiliki pendapat hukum pertama?'
Hadi menatap pengacaranya sebelum menjawab. 'Saya kirim kepada Ratih dan sekretariat Laras. Saya berharap orang yang lebih tua menghentikan Bima.'
Sekretariat Laras saat itu dikelola Galih. Surel pendapat masuk, dibuka dari terminal kantor CEO, lalu dicetak. Galih mengaku tidak mengingatnya di antara ratusan berkas. Log menunjukkan hasil cetak dikirim ke mesin kecil di lantai kamar tamu, bukan ruang direksi.
Mesin itu berada di Kamar 408.
Hotel menutup kamar sejak penetapan kematian Bima. Polisi telah memeriksanya, tetapi hanya mencari bahan peledak, surat bunuh diri, dan perangkat komunikasi. Tidak ada yang memeriksa mesin cetak sebagai bagian jaringan identitas.
Selena dimintai keterangan karena pernah masuk kamar. Ia mengatakan Bima menggunakannya untuk menyimpan hadiah pertunangan dan berkas renovasi. Dua minggu sebelum ledakan, ia melihat sebuah map bertanda 408 di meja, tetapi Bima menutupnya ketika ia datang.
'Saya mengira itu rencana pemindahan hotel,' kata Selena. 'Kami bertengkar karena dia selalu memisahkan hidupnya menjadi ruangan yang tidak boleh saya masuki.'
'Apakah Anda menyentuh mesin cetak?' tanya Malik.
'Saya pernah mencetak daftar tamu. Kata sandinya tanggal lahir Bima. Semua orang dekatnya mungkin tahu.'
Selena menyerahkan foto lama dari kamar. Di pantulan cermin terlihat map biru di tangan Galih, tetapi tanggalnya enam bulan sebelum pendapat Hadi. Foto itu membuktikan Galih memakai ruangan untuk pekerjaan, bukan bahwa ia menulis proyek. Selena setuju perangkatnya diperiksa dan tidak meminta keterangannya dirahasiakan dari penyidik lain.
Rendra menyerahkan akses hotel kepada Malik tanpa meminta hadir dalam penggeledahan. Ia juga memberikan daftar staf yang pernah memasuki kamar: petugas kebersihan, teknisi, Bima, Selena, Galih, dan Laras. Aira tidak pernah tercatat, meski ia mengaku pernah berada di sana melalui lorong layanan.
Daftar elektronik tidak lengkap. Beberapa pembukaan memakai kunci mekanis yang tidak meninggalkan waktu. Kunci tersebut hilang setelah ledakan, lalu muncul lagi di brankas keluarga dua bulan kemudian.
Kotak tempat kunci ditemukan dibawa ke laboratorium. Label inventarisnya ditulis Rendra, sedangkan segel luarnya dipasang Galih. Di bagian dalam terdapat sidik Laras dan seorang petugas rumah tangga yang telah meninggal. Karena kotak berpindah dalam rumah keluarga, jejak itu tidak memberi waktu pemakaian.
Rendra menyerahkan buku penerimaan asli. Satu halaman robek tepat pada minggu kunci kembali. Bekas tekanannya menunjukkan tiga benda lain masuk bersama kunci: cincin safir, kartu klinik, dan token tanpa nomor. Cincin sudah menjadi bukti Selena. Kartu klinik belum ditemukan. Token mungkin berkaitan dengan ruang 408, tetapi bentuknya belum diketahui.
'Aku ingat kotaknya terasa terlalu ringan,' kata Rendra. 'Aku tetap menaruhnya tanpa membuka.'
Maira tidak menghiburnya. Ingatan yang terlambat berguna sebagai arah, bukan sebagai pengganti tanggung jawab.
'Siapa mengembalikannya?' tanya Maira.
'Tidak ada catatan,' jawab Rendra. 'Aku menandatangani penerimaan kotak tanpa memeriksa isinya satu per satu.'
Ia tidak mencari alasan. Malik mencatat kelalaian itu terpisah dari dugaan pembuatan proyek.
Ratih mengakui membaca pendapat Hadi. Ia memotretnya dan mengirim kepada Aditya karena putranya membuat alat yang dapat membantu Aira melewati verifikasi. Ratih mengaku tidak mengetahui Proyek Janda 408 sampai lembar tersebut ditemukan.
'Kau memberi Aditya rencana, nama, dan kelemahan sistem,' kata Nadia dari cabang identitas.
'Aku memberi jalan agar anak yang tak punya dokumen dapat menikah dengan orang yang dicintainya.'
'Dengan nama anak lain yang juga tidak kau beri pilihan.'
Ratih menutup mata. 'Ya.'
Ponsel lamanya memuat foto pendapat Hadi. Di sudut foto terlihat bayangan lembar lain di meja. Pembesaran menampilkan cap Purnama dan tiga angka terakhir: 408.
Foto dibuat di rumah Ratih, sehari sebelum judul Proyek Janda ditulis. Aditya berada di rumah malam itu. Namun sinyal ponselnya juga muncul di kantor Damar beberapa jam kemudian.
Malik memperoleh izin memeriksa Kamar 408. Pintu dibuka oleh kustodian hotel, disaksikan Rendra, pengacara Bima, dan auditor. Maira menunggu sampai seluruh sudut difoto.
Mesin cetak masih berada dalam lemari. Kartridnya telah diganti setelah ledakan, tetapi pita pemindah menyimpan bayangan halaman-halaman lama. Ahli mengangkat citra pendapat Hadi, daftar pasien Purnama, dan sebuah formulir berjudul Penyerahan Ruang 408.
Nama penerima terpotong. Bagian yang tersisa hanya dua huruf: AS.
Di bawah mesin, terselip kartu akses baru yang belum pernah dipakai. Kartu itu dicetak empat hari lalu, setelah Bima menyerahkan diri.
Nama pemegangnya adalah Maira Savitri.