Laboratorium museum lama dipilih karena memiliki dua pintu, dinding tanpa jaringan nirkabel, dan kamera milik negara yang dapat diaudit. Tim menyapu ruangan, memeriksa ventilasi, serta menutup akses pengunjung satu hari.
Setiap petugas menerima kartu warna yang hanya berlaku di satu zona. Nama Bima tidak tertulis pada jadwal; ia disebut objek restorasi agar pegawai administratif tidak mengetahui pertemuan. Malik menyimpan kunci pintu kedua, sedangkan kustodian memegang kunci pertama. Tidak ada satu orang yang dapat mengunci atau membuka seluruh ruangan sendirian.
Nadia memantau gambar dari gedung sebelah tanpa suara dari ruang utama. Konflik kepentingannya berlaku pada keterangan koordinat, tetapi keahliannya masih diperlukan jika identitas palsu dipakai. Batas itu diterangkan kepada seluruh tim, bukan disepakati diam-diam di antara para penyidik.
Malik menyiapkan surat perlindungan saksi sementara. Bima dapat menyerahkan bukti dan menjalani pemeriksaan medis sebelum status penahanan atau saksi ditentukan. Surat itu bukan kekebalan atas akta palsu, penghalangan, atau penggunaan identitas.
Maira membaca seluruh syarat. Ia menambahkan bahwa dokumen miliknya tidak boleh disalin ke Adiprana tanpa perintah. Kustodian menyetujui.
Aira mengetahui rencana melalui Kirana karena statusnya berkaitan langsung dengan Bima. Ia marah tidak diizinkan masuk.
'Dia memanggilmu, bukan aku,' katanya kepada Maira. 'Seperti namaku selalu menjadi bagian yang disembunyikan.'
'Dia meminta tanpa keluarga. Kau istrinya menurut hubungan kalian, Rendra kakaknya, Selena mantan tunangannya. Aku hadir sebagai orang yang identitasnya dia pakai.'
'Kau juga saudara kembarku.'
'Benar. Tetapi pertanyaan yang kubawa tentang namaku.'
Aira akhirnya memberikan satu pertanyaan tertulis: apakah Bima masih menganggap perkawinan mereka pilihan yang ingin dipertahankan setelah nama dibetulkan. Maira setuju menyerahkan, bukan menjawab untuknya.
'Kalau dia meminta aku datang setelah ini?' tanya Aira.
'Kau memutuskan dengan pengacaramu dan dengan informasi lengkap,' jawab Maira. 'Aku tidak akan melarangmu. Aku juga tidak akan membujukmu.'
Aira melipat pertanyaan sendiri dan menulis namanya di depan. Untuk pertama kali, pesan kepada Bima tidak memakai Maira sebagai pengirim resmi. Perubahan kecil itu membuat tangannya gemetar, tetapi ia tidak mengganti tanda tangan.
Rendra menerima larangan tanpa mencoba mengubah tim. Ia menyerahkan satu foto masa kecil untuk verifikasi bekas luka, lalu meminta Malik mengatakan kepada Bima bahwa ia bersedia diperiksa langsung kapan pun.
Selena tidak mengirim pesan pribadi. Ia hanya meminta Bima diberi tahu bahwa cincin telah diserahkan sebagai bukti dan ia tidak menunggu hubungan mereka kembali.
Hari pertemuan, Maira tiba dua jam lebih awal. Ia membawa alat pemeriksa dokumen, kartu identitas sendiri, dan tidak memakai cincin apa pun.
Pukul dua belas, pintu depan tetap kosong. Sebuah mobil pengiriman berhenti di pintu belakang, tetapi hanya membawa bahan museum yang sudah dijadwalkan.
Pukul dua belas lewat tujuh, alarm kelembapan berbunyi. Teknisi museum masuk dari lorong servis. Malik menghentikannya dan memeriksa identitas.
Wajah pada kartu berbeda dari lelaki di balik masker.
Ketika masker dilepas, Bima Adiprana berdiri di depan mereka.
Ia lebih kurus daripada video, rambutnya pendek, dan bekas luka membentang dari rahang ke leher. Kaki kirinya masih sedikit menyeret. Kedua tangannya terbuka tanpa senjata.
'Aku tidak membawa alat teknisi,' katanya. 'Seragam diberikan di luar oleh orang kustodian.'
Petugas yang dimaksud telah diperiksa dan menyatakan mendapat instruksi kode dari Malik. Kode itu palsu. Bahkan rencana aman memiliki kebocoran kecil yang dimanfaatkan Bima untuk menguji jalur.
Malik tidak mengagumi ujian tersebut. 'Anda menyuruh staf negara melanggar prosedur dan masuk memakai identitas orang lain.'
'Saya perlu tahu apakah orang yang memberi seragam melapor.'
'Dan jika dia tidak melapor, Anda membawa risiko ke ruangan ini.'
Bima mengangguk. 'Benar.'
Sidik jarinya dipindai di hadapan semua pihak. DNA cepat diambil setelah persetujuan medis. Bekas luka, rekam gigi, dan gerak tangan dibandingkan. Hasil awal mengonfirmasi identitas dengan tingkat tinggi; sampel laboratorium penuh tetap diproses.
Petugas membandingkan bekas patah tulang pada pergelangan dengan foto masa kecil dari Rendra. Dokter juga menemukan jahitan lama pada bahu yang cocok dengan operasi Bima sebelum mengenal Aira. Pemeriksaan suara hanya menjadi pendukung karena dapat dipalsukan. Hasil wajah dari kamera tidak dipakai sama sekali sampai alat spoof di mobil Aditya selesai diuji.
Bima diminta menyebut tiga kenangan yang tidak terdapat dalam arsip perusahaan. Dua dapat dikonfirmasi Rendra kemudian; satu berkaitan dengan Lestari dan harus diperiksa melalui catatan studio. Malik menegaskan jawaban emosional tidak menentukan identitas hukum. Urutan verifikasi dibuat berlapis agar kerinduan keluarga tidak mengalahkan bukti tubuh.
Maira melihat lelaki yang selama berminggu-minggu hadir sebagai nama mati, video buram, dan surat. Ia tidak merasakan ikatan yang diwajibkan akta. Ia melihat orang asing yang membuat keputusan atas hidupnya.
Bima memandang bekas bulan sabit pada tangan Maira. 'Lestari bilang kau akan memeriksa tanganku sebelum wajah.'
'Ibumu meninggalkan catatan tentang itu,' katanya, lalu membetulkan, 'Ibu kami.'
Bima menurunkan kepala. 'Aku turut berduka.'
'Kau tahu dia sakit dan tetap membiarkannya membawa rahasia sampai mati.'
'Ya.'
Malik meminta semua percakapan resmi dimulai setelah pemeriksaan. Bima menyerahkan tas kedap air. Di dalamnya ada tiga halaman daftar pembeli yang hilang dari Savitri Dua, perangkat asli koordinat, serta catatan pemindahan dari kereta.
Tas difoto tertutup, ditimbang, lalu dibuka oleh kustodian dengan sarung tangan baru. Setiap benda mendapat nomor sebelum Bima menjelaskannya. Satu perangkat memiliki segel rusak dan satu halaman terkena air. Malik meminta Bima tidak menyentuh apa pun lagi, bahkan ketika ia ingin menunjukkan celah kartu memori.
'Kalau ini akan dipakai melawan orang lain, rantainya harus lebih bersih daripada cara aku membawanya,' kata Bima.
'Rantai sebelumnya tetap akan dipertanyakan,' jawab Malik. 'Penyerahan yang benar hari ini tidak memutihkan perpindahan kemarin.'
Bima menyebut semua tempat ia menyimpan benda dan orang yang sempat memegangnya. Beberapa jawabannya memalukan, termasuk penggunaan loker atas nama pekerja yang tidak mengenalnya. Ia tidak meminta bagian itu dihapus dari berita acara.
'Aditya mengejarku untuk perangkat ini,' katanya. 'Damar ingin daftar pembeli. Aku tidak tahu siapa dari keduanya yang masuk studio.'
'Kamera menunjukkan tubuh mirip Aditya,' kata Maira. 'Jangan gabungkan dugaan.'
Bima menatapnya, lalu mengangguk. 'Lestari benar tentangmu.'
'Jangan pakai Ibu untuk membuat kita terasa dekat.'
Bima menerima batas itu.
Pemeriksaan medis menemukan infeksi lama, fungsi paru menurun, dan dehidrasi ringan. Dokter menyatakan ia dapat memberi keterangan, tetapi perlu istirahat setiap tiga puluh menit.
Sebelum sesi pertama, Maira menyerahkan pertanyaan Aira. Bima membaca lama.
'Aku menikahinya karena mencintainya dan karena kami sedang terdesak,' katanya. 'Keduanya benar. Aku ingin hubungan kami diakui memakai namanya sendiri. Tetapi aku tidak berhak meminta dia menunggu setelah semua yang kusembunyikan.'
Maira tidak membawa jawaban lebih jauh dari kalimat tersebut.
Bima lalu menghadap kamera resmi.
'Nama saya Bima Adiprana. Saya hidup. Saya menggunakan identitas Maira Savitri tanpa persetujuan untuk mencatat perkawinan dengan Aira Savitri. Saya siap memberi keterangan dan menerima pemeriksaan atas tindakan saya.'
Ia menandatangani dengan tinta serta sidik hidup. Malik menerima penyerahan dirinya dan memindahkannya ke fasilitas perlindungan yang tidak terhubung Adiprana.
Sebelum dibawa keluar, Bima menatap Maira.
'Maaf karena menjadikanmu janda dari lelaki yang tidak pernah kaukenal.'
'Permintaan maafmu baru mulai berarti setelah catatannya dibetulkan.'
'Aku akan membetulkannya.'
Pintu tertutup di antara mereka tanpa api, kunci rahasia, atau janji keluarga.