'Anda tidak bisa menahanku,' kata Maira.
Ia berdiri hanya beberapa langkah dari Rendra. Di belakang pintu, suara wartawan merembes sampai ruang pembacaan wasiat. Di belakangnya, keluarga Adiprana menunggu seolah jawabannya adalah bagian lain dari dokumen yang harus dibacakan.
Rendra menurunkan tangan dari pintu. 'Aku tidak menahanmu.'
'Anda baru saja menghalangi jalanku.'
'Aku mencegahmu membuka pintu menuju tiga puluh kamera.'
'Aku bisa memilih risiko sendiri.'
'Dan setelah wajahmu tersebar, siapa pun yang membuat akta itu dapat memilih risiko untukmu.'
Hadi menyela sebelum pertengkaran membesar. Ia menegaskan bahwa Maira tidak wajib tinggal di kediaman Adiprana. Namun penyidik akan mengambil keterangannya pada pagi hari, sedangkan alamat studio dan apartemennya sudah beredar.
'Menginap satu malam di tempat yang memiliki keamanan bukan pengakuan apa pun,' katanya.
Maira menatap Rendra. 'Aku punya syarat.'
'Katakan.'
'Aku berada di sana sebagai tamu, bukan tahanan. Telepon dan barangku tidak diperiksa tanpa izin. Aku boleh menghubungi pengacara sendiri. Tidak ada seorang pun masuk kamarku. Besok aku ikut memeriksa arsip Bima.'
'Kau belum memiliki hak atas arsipnya.'
'Kalau begitu aku pulang.'
Rendra menahan tatapannya beberapa detik. 'Kau boleh melihat dokumen yang berkaitan dengan akta dan kamar 408. Dengan pendamping.'
'Aku memilih pendampingnya.'
'Aku yang mendampingi.'
'Itu bukan pilihan.'
'Itu syaratku.'
Maira ingin menolak hanya untuk menghapus sedikit kepastian dari wajahnya. Namun berita di telepon terus bertambah, dan ada seseorang di luar sana yang memiliki salinan identitasnya.
'Satu malam,' katanya.
Rendra mengangguk. 'Kita mulai dari satu malam.'
Selena mengambil tasnya dengan gerakan tajam. 'Kalian terdengar seperti sedang merundingkan liburan.'
Maira menghadapnya. 'Aku tidak meminta nama Bima ditaruh di sebelah namaku.'
'Tetapi namamulah yang ada di sana, bukan namaku.'
Kesedihan dalam suara Selena muncul sesaat sebelum tertutup kemarahan. Perempuan itu keluar bersama Galih melalui jalur khusus. Laras dibawa lebih dahulu oleh perawat pribadinya.
Maira dan Rendra menunggu sampai kendaraan siap. Dalam keheningan, Maira kembali memeriksa akta perkawinan yang dipotret melalui telepon. Tanda tangan itu begitu mirip hingga menimbulkan rasa tidak nyaman. Bahkan tekanan pada huruf S tampak seperti kebiasaannya.
'Di mana Bima menikah?' tanyanya.
'Catatan sipil mencantumkan Jakarta Pusat.'
'Mengapa foto itu begitu buruk?'
'Itu yang ingin kutanyakan kepadamu.'
Maira mengembalikan telepon ke tas. 'Kalau Anda terus menuduhku, pemeriksaan arsip besok tidak akan berjalan jauh.'
'Kalau aku berhenti mencurigaimu hanya karena kau marah, aku tidak pantas memimpin apa pun.'
Rendra berjalan menuju pintu samping. 'Tetap dekat denganku ketika kita keluar.'
'Aku tidak perlu berpegangan pada Anda.'
'Aku tidak memintanya.'
Lorong servis membawa mereka ke parkir gedung sebelah. Meski begitu, beberapa wartawan berhasil menunggu di sana. Pertanyaan dilemparkan begitu mereka terlihat.
'Maira, apakah Anda menikahi Bima demi saham?'
'Pak Rendra, apakah keluarga akan menggugat janda Bima?'
'Apakah pertunangan Maira dengan lelaki lain hanya penyamaran?'
Rendra membuka pintu mobil untuk Maira dan berdiri menutupi arah kamera. Ia tidak menyentuhnya. Sikap kecil itu menunjukkan ia mengingat batas yang baru ditetapkan, meskipun Maira tidak tahu mengapa hal tersebut membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Di dalam mobil, teleponnya kembali berdering. Danu.
'Aku akan pulang ke studio untuk mengambil pakaian,' kata Maira setelah menjawab.
'Jangan,' balas Danu cepat. 'Wartawan masih di luar. Pemilik ruko juga menelepon. Dia tidak mau ada keributan.'
'Aku perlu pakaian dan laptop.'
'Aku bisa mengirim tas lewat kurir.'
Maira menatap pantulan dirinya di jendela. 'Aku menginap di rumah Adiprana malam ini.'
Danu terdiam.
'Itu saran notaris,' lanjutnya. 'Polisi mengambil keterangan besok.'
'Kau akan tinggal bersama kakak lelaki yang disebut suamimu?'
'Bima yang disebut suamiku. Rendra kakaknya.'
'Itu tidak membuat keadaan lebih baik.'
Maira menahan kesal. 'Aku membutuhkanmu untuk memeriksa arsip studio. Cari kontrak museum Surabaya pada tanggal akta itu.'
'Aku akan lihat kalau suasana sudah tenang.'
'Aku membutuhkan bukti itu sekarang.'
'Aku juga perlu memikirkan bagaimana berita ini memengaruhi usaha dan pernikahan kita.'
Bukan keselamatan Maira. Bukan ketakutan bahwa identitasnya telah dicuri.
Nama usaha dan rencana pernikahan mereka lebih dahulu disebut Danu.
'Kirimkan pakaianku,' kata Maira, lalu memutus sambungan.
Rendra duduk di seberang, dipisahkan ruang luas di dalam mobil. Ia menatap tablet, tetapi Maira tahu ia mendengar percakapan tadi.
'Jangan mengatakan apa pun,' katanya.
'Aku tidak berniat memberi nasihat tentang tunanganmu.'
'Bagus.'
'Tetapi orang yang menguasai dokumen studiomulah yang mungkin memberikan data kepada pemalsu.'
Maira menoleh. 'Danu tidak akan melakukan itu.'
Rendra menatapnya tanpa berkedip. 'Semoga kau mengenalnya lebih baik daripada kami mengenal Bima.'
Kediaman Adiprana berdiri di jalan tenang di Menteng, tersembunyi di balik pagar tinggi dan pohon tua. Bangunan utamanya memadukan rumah kolonial dengan sayap modern dari kaca. Cahaya kamera berkedip di luar pagar, tetapi kendaraan mereka masuk tanpa berhenti.
Seorang pengurus rumah membawa tas Maira ke kamar tamu di lantai dua. Sebelum Maira mengikutinya, suara pecahan porselen terdengar dari ruang keluarga.
Laras duduk di dekat meja teh. Sebuah cangkir jatuh di karpet, tetapi perempuan tua itu tidak melihatnya. Tatapannya terkunci pada Maira.
'Lestari,' bisiknya.
Maira berhenti. 'Itu nama ibu saya.'
Rendra mendekati neneknya. 'Oma mengenal Lestari Savitri?'
Laras berkedip, seperti baru terbangun. 'Tidak.'
'Oma baru memanggil namanya.'
'Aku salah melihat.'
Maira melangkah mendekat. 'Ibu saya pernah bekerja untuk keluarga ini?'
Laras memalingkan wajah. 'Banyak orang bekerja di hotel.'
'Notaris tidak mungkin mengirim surat kepadaku tanpa alasan. Bima memakai identitasku. Sekarang Oma mengenali nama ibuku.'
'Aku sudah tua. Ingatanku mencampur wajah.'
Perawat membungkuk untuk mengambil pecahan cangkir. Maira ikut membantu secara refleks. Salah satu keping tajam menggores sisi jarinya.
Ia menarik napas dan membuka telapak tangan. Bekas luka berbentuk bulan sabit terlihat jelas di bawah pangkal ibu jari kanan, lebih pucat daripada kulit di sekitarnya.
Laras menatap bekas luka itu.
Wajahnya seketika kehilangan warna.
Ia bangkit dengan tenaga yang mengejutkan, meraih pergelangan Maira, lalu membalik telapak tangannya ke arah cahaya. Jari-jarinya dingin dan gemetar.
'Dari mana kau mendapat luka ini?'
'Kata Ibu, tanganku terkena loyang panas ketika kecil.'
'Bohong.'
Rendra memegang bahu neneknya. 'Oma, lepaskan dia.'
Namun Laras justru mencengkeram Maira lebih kuat. Di matanya kini tidak ada kebingungan, hanya ketakutan yang tampak telah disimpan puluhan tahun.
'Kau seharusnya ikut terbakar di kamar 408.'