Jejak Bima kembali berakhir pada celah yang hanya diketahui orang dengan akses operasional.
Pintu servis kereta dibuka menggunakan kunci mekanis, bukan sistem digital. Hanya masinis, kepala rangkaian, teknisi depo, dan petugas darurat yang seharusnya memiliki salinan.
Inventaris menunjukkan satu kunci teknisi hilang delapan bulan lalu. Laporan kehilangannya baru dibuat minggu berikutnya dan ditandatangani kepala gudang yang sudah pensiun. Tanggal pada formulir tampak dicetak ulang. Petugas forensik menemukan jejak serat stiker di nomor inventaris, seolah label kunci lain ditempel di atasnya sebelum dipindai.
Nadia tidak langsung menuduh kepala gudang. Ia meminta daftar orang yang pernah meminjam lemari, catatan pergantian sif, serta contoh formulir asli dari bulan yang sama. Tiga pekerja mengaku pernah disuruh menandatangani daftar kosong ketika sistem rusak. Kebiasaan buruk itu menciptakan celah yang dapat dipakai siapa pun berbulan-bulan kemudian.
Nadia meminta daftar tanpa menahan seluruh pekerja. Kereta tetap harus beroperasi, dan keberadaan satu kunci palsu tidak membuat setiap pegawai terlibat.
Maira datang ke depo karena amplop cokelat Bima mungkin berisi dokumen rapuh. Ia menunggu area dinyatakan aman dan tidak masuk gerbong sendirian.
Di bawah kursi dua belas ditemukan serat kertas krem, satu tetes darah kering, dan sobekan tiket. Darah cocok dengan sampel cangkir Bima. Ia benar-benar berada dalam kereta, bukan sekadar ditampilkan pada kamera.
Rekaman kabin menunjukkan Bima berjalan menuju toilet lima belas menit sebelum depo. Ia membawa amplop. Dua menit kemudian seorang petugas teknis keluar dari lorong dengan tas lebih besar. Wajah tertutup masker kerja, tetapi bentuk tubuhnya lebih pendek.
Bima tidak terlihat lagi.
Pemeriksaan toilet menemukan panel langit-langit terbuka. Jalur sempit menuju ruang antar-gerbong memungkinkan seseorang berpindah ke kereta perawatan yang dirangkaikan sesaat saat pemeriksaan rem.
'Dia mengetahui jadwal depo,' kata Nadia.
'Atau dibantu orang yang mengetahui,' jawab Maira.
Kereta perawatan meninggalkan depo menuju gudang selatan sebelum polisi menyegel jalur. Pengemudinya, Anton Wira, mengaku melihat seorang lelaki terluka bersembunyi di ruang alat. Lelaki itu menunjukkan kartu Bima dan meminta turun di jembatan inspeksi.
'Kenapa Anda menuruti?' tanya Nadia.
'Dia bilang ada orang berseragam yang ingin membawanya kembali ke hotel. Saya melihat berita, tetapi saya tidak tahu siapa yang benar.'
Anton tidak menerima uang. Ia tetap membantu orang menghindari pemeriksaan tanpa memastikan keselamatan. Tindakannya dicatat sebagai pelanggaran prosedur dan mungkin penghalangan, bukan langsung perdagangan.
Ponsel Anton memperlihatkan pesan dari akun depo palsu yang memerintahkannya membawa kereta perawatan ke gudang selatan lebih cepat. Pesan masuk lima menit sebelum Bima berpindah. Anton mengira itu perubahan jadwal resmi karena akun memakai foto atasannya dan mengetahui nomor rangkaian. Penyidik menyita ponselnya sebagai bukti, tetapi membiarkannya pulang setelah ia menyerahkan seluruh riwayat tanpa menghapus apa pun.
'Saya seharusnya menelepon pengawas,' katanya.
'Ya,' jawab Nadia. 'Kesalahan itu akan diperiksa. Kejujuran Anda sekarang tidak menghapusnya, tetapi membantu kami memisahkan kelalaian dari rencana.'
Bima turun dua kilometer sebelum gudang. Kamera jalan menunjukkan ia berjalan ke kios pengiriman, masih membawa amplop cokelat. Pemilik kios mengenal foto Bima dan mengatakan lelaki itu menitipkan satu paket untuk wartawan bernama Nara Wijaya.
Paket diambil kurir lima belas menit kemudian. Catatan aplikasi menyebut pengemudi bernama Dara Kusuma.
Identitas Ayu Baru kembali muncul.
Kurir asli menyangkal menerima pesanan. Akunnya dibajak menggunakan verifikasi wajah palsu. Motor yang terlihat pada kamera memakai pelat milik Nita Prameswari.
Nita berada dalam pemeriksaan pada waktu itu dan motornya disita di Jakarta. Pelat pada kamera merupakan salinan.
'Mereka menumpuk nama agar setiap jejak menunjuk orang yang sudah kita curigai,' kata Maira.
Nadia memisahkan pelat, akun, pengendara, dan pembuat pesanan sebagai empat bukti berbeda. Tidak satu nama dipakai sebagai jalan pintas.
Nara Wijaya adalah wartawan investigasi yang pernah menulis klinik ilegal Adiprana tiga puluh tahun lalu. Artikelnya ditarik setelah gugatan dan ia kini tinggal di luar negeri. Ia membenarkan Bima pernah menghubunginya sebelum ledakan.
Nara menyimpan draf asli artikelnya. Di sana terdapat kesaksian bidan yang melihat bayi tanpa gelang dipindahkan antara dua kamar serta nota pembayaran kepada pejabat pencatatan sipil. Nama Hadi belum muncul, tetapi tanda tangan atasannya ada pada tiga koreksi kelahiran. Nara menolak menyerahkan nama sumber melalui panggilan terbuka. Malik menyiapkan jalur terenkripsi dan perjanjian perlindungan sumber sebelum meminta salinan.
'Bima tahu artikel saya belum mati,' ujar Nara. 'Yang mati hanya penerbit yang berani mencetaknya.'
Keterangan itu membuat paket bukan sekadar pesan seorang buronan. Jika amplop memuat sambungan antara klinik lama dan jaringan sekarang, orang yang menukarnya mungkin sedang melindungi sejarah yang lebih tua daripada perkara Bima.
'Dia berjanji mengirim daftar orang yang membeli identitas,' kata Nara melalui video. 'Paket tidak pernah tiba.'
Nomor resi hari ini menunjukkan paket berhenti di pusat sortir Jakarta, lalu dipindahkan ke jalur salah. Polisi menahan distribusi dan menemukan amplop pengganti berisi kertas kosong. Amplop asli telah ditukar.
Pada perekat paket kosong ada sidik Aditya Kusuma. Ia masih berada di sekitar Jakarta, bukan di feri Pulau Serunai seperti tiketnya.
Penyidik memeriksa jembatan tempat Bima turun. Di bawah pagar ditemukan kartu memori kecil dibungkus plastik. Bima mungkin menjatuhkannya sebagai cadangan sebelum pergi ke kios.
Isinya foto empat orang yang memiliki akses terhadap koordinat penyelamatan malam ledakan: Harun, pengawas marina bernama Damar Kuncoro, operator pusat bernama Santi Rukmana, dan Galih.
Foto-foto itu tidak diambil pada satu pertemuan. Harun berdiri di ruang server, Santi di meja kendali, Damar di marina, dan Galih di ruang rapat. Bima menyatukannya menjadi satu montase, lalu menambahkan waktu akses di bawah tiap gambar. Ahli memastikan lapisan montase dibuat setelah ledakan, sedangkan foto dasarnya berasal dari kamera perusahaan pada malam kejadian.
Kartu memori memiliki bekas panas dan satu sudut terkelupas. Nomor serinya cocok dengan paket perangkat yang dibeli Studio Aksara Pulih untuk proyek digitalisasi Lestari. Maira mengenali tulisan kecil ibunya pada plastik pembungkus: kata salinan, bukan asli. Lestari pernah memegang bukti ini sebelum menyembunyikannya kembali.
'Kalau Ibu membuat salinan, versi pertama mungkin ada pada orang yang memberikannya,' kata Maira.
Nadia memerintahkan pencarian tetap berfokus pada rantai penguasaan. Tulisan Lestari membuktikan benda pernah berada di studio, bukan bahwa ia mengetahui siapa pengubah koordinat. Maira menyetujui batas itu meski pengetahuan bahwa ibunya telah diam lagi terasa berat.
Rendra tidak ada dalam foto, tetapi pesan yang ia teruskan melewati terminal keempat orang tersebut.
Tiga catatan pembayaran Nawasena muncul di bawah nama Damar. Santi menerima uang dari Adiprana untuk lembur yang sah. Harun memakai rekening perlindungan. Galih menyetujui anggaran keselamatan.
Pembayaran saja belum menentukan siapa mengubah koordinat.
Di file terakhir, suara Bima berbicara pelan.
'Satu dari empat orang menjual jalur kapal. Satu mencoba menolong setelahnya. Dua menutup kesalahan berbeda. Jangan jadikan mereka satu komplotan hanya karena berada dalam bingkai sama.'
Maira mendengar kalimat itu dua kali. Bahkan dalam pelarian, Bima berusaha mencegah bukti dipakai seperti nama Ayu.
Namun foto memiliki satu detail yang tidak disebutnya. Di belakang Damar terdapat papan jadwal dengan kode NK-17, kode internal tim penyidik laut.
Nadia mengenal kode tersebut. Itu tim yang dipimpin ayahnya, Komisaris Narto Pranoto, sebelum meninggal setahun lalu.