Nadia tidak menyentuh kartu memori setelah melihat kode ayahnya. Ia memanggil atasannya, melaporkan konflik kepentingan, dan meminta bagian koordinat dipindahkan kepada tim lain.
'Saya tetap dapat menangani pencurian identitas dan perlindungan saksi jika pengawas menyetujui,' katanya. 'Tetapi saya tidak memeriksa apakah ayah saya terlibat.'
Komisaris Malik Ardhana ditunjuk memimpin cabang koordinat. Ia menerima salinan bukti yang sama dan melarang Nadia melihat temuan sebelum prosedur mengizinkan.
Maira melihat perbedaan antara kehilangan kendali dan menyerahkan kendali. Nadia tidak menunggu bukti memaksanya mengaku hubungan keluarga.
Keputusan itu juga berarti Nadia tidak boleh membahas temuan baru dengan ibunya atau membuka arsip pribadi Narto untuk Malik tanpa pencatatan. Ia menyerahkan kunci lemari rumah kepada pengacara keluarga dan meminta setiap halaman dipindai di hadapan saksi. Malik mencatat tindakan tersebut sebelum menerima perkara, supaya kedekatan mereka sebagai rekan tidak menjadi jalur belakang.
'Kalau ada bukti yang meringankan ayah saya, perlakukan sama seperti bukti yang memberatkannya,' kata Nadia.
'Dan bila bukti itu melibatkan keputusanmu sendiri?' tanya Malik.
'Periksa juga.'
Arsip NK-17 disegel sejak Narto meninggal. Pengadilan membuka lemari di hadapan Malik, pengacara keluarga Narto, serta auditor independen. Nadia tidak hadir.
Catatan malam ledakan menunjukkan pesan darurat pertama masuk dengan koordinat timur. Tiga puluh detik kemudian, Narto menerima panggilan radio dari nelayan yang melihat cahaya di barat daya. Ia memerintahkan dua kapal penyelamat dibagi.
Rekaman radio nelayan berhasil dipulihkan dari pusat cuaca. Suara angin menutup sebagian kalimat, tetapi dua ahli mendengar kata perahu kedua dan api. Narto mengulang koordinat barat daya dengan benar. Ia kemudian meminta operator mempertahankan kapal timur sambil mengirim satu unit lain ke barat. Jadi perintahnya bukan mengganti tujuan secara serampangan, melainkan menambah pencarian.
Namun Narto tidak memakai kanal darurat nasional ketika saluran marina gagal. Catatan prosedur menunjukkan ia memiliki kewenangan itu. Tidak diketahui apakah ia mengira perintah sudah diterima atau sengaja menghindari perhatian lembaga lain. Kelalaian tersebut tetap masuk laporan meski perintah awalnya dapat menyelamatkan Bima lebih cepat.
Perintah pembagian tidak pernah mencapai operator marina.
Pada log pusat, Santi Rukmana menekan batal sebelas detik setelah instruksi Narto. Santi mengaku layar menunjukkan perintah kedua tidak terverifikasi. Sistem meminta token keamanan yang hanya dimiliki Harun dan Damar.
Harun sedang berada di Makassar berdasarkan penerbangan, tetapi tokennya dapat dijadwalkan. Damar berada di ruang marina. Galih mengikuti perjalanan Bima melalui dashboard perusahaan dari rumah.
Narto menulis catatan tangan: kanal barat ditutup dari dalam, periksa DK.
Inisial dapat berarti Damar Kuncoro. Damar menyangkal dan berkata DK adalah data kapal. Ahli dokumen memastikan catatan dibuat malam itu, tetapi maksud singkatan tetap perlu bukti lain.
Rekening Damar menerima tiga pembayaran Nawasena: satu sebelum ledakan, satu sehari sesudahnya, dan satu setelah Bima dipindahkan ke Unit Utara. Damar menyebutnya honor konsultasi keselamatan.
Kontrak memang ada. Pekerjaannya menilai jalur darurat, tetapi laporan hanya dua halaman dan menyalin standar umum. Nilai pembayaran jauh lebih besar daripada pekerjaan.
Auditor membandingkan metadata kontrak dengan transfer. Dokumen dibuat sesudah pembayaran pertama, lalu tanggalnya dimundurkan enam hari. Tanda tangan Galih asli, tetapi ia mengaku meneken setumpuk persetujuan tanpa memeriksa lampiran. Damar mengirim tagihan melalui perusahaan milik adik iparnya yang tidak mempunyai pegawai tetap.
Satu transfer kemudian dipecah ke lima rekening dan kembali sebagai pembelian alat keselamatan marina. Barangnya tercatat tiba, tetapi nomor seri dipakai di dermaga berbeda. Malik membekukan sisa dana tanpa menyebut seluruh keluarga Damar sebagai penerima kejahatan. Pemilik rekening diberi kesempatan menunjukkan asal dan penggunaan uang masing-masing.
'Anda dibayar untuk menemukan kelemahan jalur,' kata Malik. 'Lalu kelemahan yang sama dipakai pada malam ledakan.'
Damar memandang meja. 'Itu tidak membuktikan saya yang memakainya.'
'Benar. Karena itu kami menanyakan perangkat dan keputusan Anda, bukan hanya rekening.'
'Apakah Anda menjual rute kapal?' tanya Malik.
'Tidak.'
'Apakah Anda menutup perintah barat?'
'Saya menolak perintah tanpa token sah.'
'Token siapa yang Anda tunggu?'
'Harun atau kantor CEO.'
Kantor CEO malam itu memakai akses Rendra. Rendra telah mengakui meneruskan koordinat timur, tetapi tidak menerima instruksi pembagian Narto. Log surelnya menunjukkan pesan tersebut dialihkan ke folder karantina oleh aturan keamanan.
Aturan dibuat Harun enam bulan sebelumnya atas permintaan Damar, setelah beberapa perintah palsu. Tujuan awalnya masuk akal; penerapan tanpa jalur darurat alternatif membuat satu orang dapat menutup koreksi.
Santi mengaku melihat lampu peringatan dan tetap membatalkan karena takut dihukum bila menerima pesan palsu. Sesudah ledakan, Damar menyuruhnya menulis kerusakan sistem. Ia menerima uang lembur Adiprana yang sah, tetapi menandatangani laporan tidak lengkap.
Galih menyetujui pembayaran lembur dan laporan akhir tanpa membaca log mentah. Ia juga meminta media tidak menyebut koordinat berbeda agar harga saham tidak jatuh.
Harun menyediakan aturan karantina dan token cadangan. Damar berada di posisi memutuskan kanal. Santi menekan batal. Galih menutup perbedaan setelahnya. Rendra menyembunyikan pemadaman transponder Bima.
Santi menyerahkan buku catatan sif yang selama ini ia simpan di rumah. Pada halaman malam ledakan, ia menulis bahwa Damar berdiri di belakang kursinya ketika peringatan muncul. Ia tidak menulis ancaman, hanya kalimat jangan buat kapal kedua. Tulisan diuji dan sesuai usia tinta. Santi mengakui baru menyerahkannya sekarang karena takut kehilangan pensiun.
Malik tidak menjanjikan kekebalan. Ia menjelaskan bahwa keterlambatan, laporan palsu, dan tekanannya sebagai bawahan akan dinilai terpisah. Santi menangis, lalu menandatangani izin pemeriksaan seluruh perangkatnya. Untuk pertama kali, kesaksiannya memberi bentuk pada sebelas detik yang selama dua tahun disebut gangguan sistem.
Harun meminta wawancara ulang setelah mendengar tokennya dipakai. Ia membawa bukti bahwa satu salinan disimpan dalam brankas marina berdasarkan perintah Damar. Bukti serah terima bertanda tangan keduanya. Itu mempersempit akses, tetapi belum menjawab siapa yang membuka brankas.
Tindakan mereka bertemu, tetapi belum semua memiliki niat sama.
Catatan terakhir Narto dibuat sebulan setelah ledakan. Ia menulis bahwa Damar menolak menyerahkan perangkat pribadi dan seorang saksi marina menghilang. Narto meminta perlindungan untuk saksi, tetapi permohonannya ditolak karena tidak ada nama legal.
Saksi itu kemungkinan salah satu pasien Purnama.
Nadia diperbolehkan membaca catatan setelah Malik menandai bagian yang berkaitan. Ia tidak membela ayahnya sebagai pahlawan. Narto mencoba membuka kanal kedua, tetapi juga menandatangani penutupan perkara tanpa memastikan saksi aman.
'Dia melakukan satu hal benar dan satu hal yang membuat pencarian berhenti,' katanya. 'Keduanya harus dicatat.'
Maira menerima salinan terbatas. Nama saksi disegel. Ia tidak membutuhkan identitas orang itu untuk memahami bahwa sistem kembali menolak manusia karena dokumennya tidak lengkap.
Malik menyita perangkat Damar. Riwayatnya menunjukkan akses ke pusat sortir satu jam sebelum amplop Bima ditukar. Lokasi ponsel Damar berada dekat terminal, bukan kantor seperti keterangannya.
Damar meminta pengacara dan berhenti menjawab.
Pada penyimpanan terenkripsi ditemukan foto Bima turun dari kereta perawatan serta alamat kios pengiriman. Foto diambil sebelum polisi mengetahui rute tersebut.
Damar atau seseorang yang memakai perangkatnya mengikuti Bima secara langsung.
Folder lain memuat jadwal penjagaan Studio Aksara Pulih untuk malam itu.
Maira segera menghubungi pegawai. Alarm studio baru saja mati memakai kode lama Danu yang seharusnya sudah dihapus.