Tiket Bima belum digunakan. Sistem bus mencatat kursi dibeli tunai di terminal, tanpa nomor telepon. Kamera loket rusak sejak hujan besar dua minggu sebelumnya.
Nadia tidak mengubah tiket menjadi pengumuman penangkapan. Jika Bima benar-benar datang, kerumunan polisi dapat membuatnya lari. Jika tiket adalah umpan, pengawasan terbuka hanya memberi pengirim bukti bahwa rencananya berhasil.
Maira pergi ke Teluk Aruna bersama tim kecil setelah pengadilan mengizinkan dirinya membantu mengenali dokumen. Ia tidak berangkat sendiri dan tidak membawa Rendra. Aira ditawari perlindungan bila ingin datang, tetapi Kirana menyarankan menunggu sampai amplopnya diperiksa.
Sampul Selatan berada di antara bengkel kapal dan gudang garam. Papan namanya baru, sedangkan bangunan kayunya berusia puluhan tahun. Di dalam, mesin press, lem, serta kain penjilid tersusun rapi. Bau minyak cengkih mengingatkan Maira pada studio Lestari.
Dua puluh empat amplop diberi nomor, bukan hanya nama. Penerimanya terdiri atas pasien Purnama, petugas lama, Selena, Rendra, Galih, dan Laras. Tidak ada amplop untuk Danu atau Harun.
Urutan nomor tidak mengikuti abjad. Maira menemukan pola berdasarkan halaman buku yang hilang. Setiap surat tampaknya membawa satu potongan kronologi, sehingga pengirim mencegah satu penerima menguasai seluruh bukti.
Cara itu juga memaksa orang yang saling tidak percaya untuk bekerja bersama. Maira mencatat bahwa pembagian dapat melindungi arsip, tetapi tetap menjadikan penerima bagian rencana tanpa persetujuan.
'Pemilihan penerima menunjukkan pengirim mengenal peran mereka,' kata Nadia. 'Tetapi kita belum tahu apakah isinya benar.'
Maira memeriksa sampul tanpa membuka. Lem berasal dari resep Lestari, tetapi komposisinya pernah diajarkan dalam bengkel konservasi. Serat kain dibuat produsen umum di Solo. Tidak ada satu ciri yang hanya dapat diketahui Bima.
Di meja belakang ditemukan cetakan telapak tangan untuk membuka rekening. Cetakan wajah Bima berdiri di depan dua kamera kecil. Perangkat itu dapat menjelaskan verifikasi hidup bank tanpa Bima hadir.
Harapan yang sejak semalam tidak berani disebut Maira runtuh sedikit.
'Jadi pesan itu palsu,' kata seorang petugas.
'Belum tentu,' jawab Maira. 'Bima dapat memakai alat untuk menyembunyikan lokasi, atau orang lain memakainya untuk meniru. Perangkat hanya memperluas dua kemungkinan.'
Cetakan wajah dibuat dari pemindaian medis Unit Utara. Pada bagian mata ada mekanisme yang dapat berkedip sesuai perintah. Suara angka dimainkan dari rekaman terpisah. Verifikasi bank tidak lagi menjadi bukti kuat Bima hidup tiga hari lalu.
Namun tulisan pada amplop tetap memakai tinta segar dan pola tangan yang sulit ditiru. Polisi menyimpan kedua hasil tanpa memaksa salah satunya menang.
Di lantai atas, tim menemukan kamar sederhana dengan kasur yang baru dipakai, obat luka lama, dan tiga kemeja ukuran Bima. Rambut pada bantal cocok dengan garis ayah Adiprana, tetapi dapat berasal dari Bima, Rendra, Galih, atau bahan lama tanpa pengujian lanjut.
Obat diresepkan untuk pasien dengan luka bakar kronis dan kerusakan paru akibat asap. Nomor resep berasal dari Klinik Bahari Selatan, fasilitas yang belum muncul dalam bukti sebelumnya. Tanggal penebusan lima hari lalu.
Apoteker mengenali pembeli sebagai lelaki berbekas luka yang datang sendiri. Ia tidak meminta identitas karena resep dibayar tunai. Kesaksian tersebut menambah jejak, tetapi foto toko terlalu buram.
Satu gelas menyimpan sidik parsial yang mirip Bima dari arsip, tidak cukup titik untuk kepastian pengadilan. Orang dengan kondisi fisiknya mungkin tinggal di sana, atau seseorang menanam barangnya.
Pemilik resmi Dara Kusuma tidak dikenal tetangga. Mereka menyebut pengelola toko sebagai Pak Daru, lelaki berusia sekitar lima puluh dengan suara pelan dan bekas luka pada leher. Deskripsi tidak cocok usia Bima, tetapi dapat menunjuk Yosa atau orang baru.
Pak Daru pergi pagi sebelum polisi datang. Ia membawa satu koper dan meninggalkan dua pekerja lepas yang tidak tahu alamatnya. Kedua pekerja mengatakan menerima instruksi dari Ayu melalui surat tercetak.
Upah mereka dibayar tepat waktu melalui koperasi lokal, bukan rekening Nawasena. Keduanya mengira sedang menjilid arsip korban bencana. Tidak ada bukti mereka mengetahui identitas mati atau umpan wajah.
Nadia mengambil keterangan lalu membebaskan mereka dengan kewajiban melapor. Bekerja di tempat perkara tidak otomatis menjadikan mereka anggota jaringan.
Instruksi terakhir menyuruh mereka menyiapkan amplop, tiket, dan satu buku tamu untuk penumpang yang akan datang besok.
Maira membuka buku tamu setelah difoto. Halaman pertama memuat daftar dua puluh empat nama hidup yang pernah memakai identitas mati. Halaman berikutnya berisi nama pembeli yang memperoleh rekening, tanah, atau akses keluarga.
Tiga halaman akhir hilang.
Pada tepi sobekan, Maira menemukan bekas tinta hijau yang sama dengan lembar pasien dalam amplop. Halaman yang hilang kemungkinan dibagikan ke surat berbeda agar tidak satu orang memegang seluruh daftar.
'Dua puluh empat amplop adalah arsip terpecah,' katanya. 'Setiap penerima mungkin mendapat bagian serta petunjuk yang membutuhkan bagian lain.'
Nadia meminta pengadilan menunjuk kustodian untuk membuka amplop bersama penerima. Polisi tidak boleh membaca surat pribadi yang tidak berkaitan dengan pidana hanya karena berada di toko mencurigakan.
Kustodian membuat tiga kategori: bukti pidana, catatan pemulihan identitas, dan pesan pribadi. Penerima boleh menolak membaca pesan pribadi, tetapi bagian bukti tetap disimpan pengadilan. Tidak ada surat yang diserahkan langsung sebelum dipindai untuk memastikan tidak mengandung alat pelacak atau zat berbahaya.
Laras meminta amplopnya dibuka tanpa media. Galih menuntut pengacaranya hadir. Selena memberi izin hanya untuk halaman yang menyebut Bima. Perbedaan itu dihormati.
Menjelang sore, Aira setuju amplopnya dibuka di hadapannya melalui video. Isinya selembar surat Bima dan setengah peta kota Teluk Aruna.
Surat itu memakai nama Aira, bukan Maira.
Istriku, aku tidak berhak menjadikan nama saudaramu sebagai rumah untukmu. Jika aku belum kembali, bebaskan Maira dari akta kita. Hakmu harus dicari sebagai dirimu sendiri.
Aira berhenti membaca. Wajahnya mengeras, tetapi matanya basah.
'Dia menyuruhku membatalkan satu-satunya bukti bahwa kami menikah.'
Aira mengatakan video perkawinan menunjukkan janji, saksi, dan cincin, sedangkan negara hanya melihat nama salah. Kirana menjelaskan pengadilan dapat mengakui hubungan faktual tanpa mempertahankan identitas palsu, tetapi hasilnya tidak dijamin.
'Aku lelah hidup dari kemungkinan hakim akan berbaik hati,' kata Aira.
'Maka kita meminta aturan yang dapat diperiksa, bukan belas kasihan,' jawab Maira.
'Dia menyuruh kita membetulkan nama,' kata Maira.
'Mudah bagimu berkata begitu. Semua dokumenmu tetap ada.'
'Nama barumu sudah diakui. Aku akan bersaksi bahwa kau perempuan dalam video. Tetapi aku tidak akan mempertahankan akta yang mengatakan aku menikah.'
Aira memutus sambungan.
Setengah peta miliknya berakhir di gambar kantor arsip pelabuhan. Pada sisi potongan tertulis satu kalimat: bagian lain untuk Maira.
Polisi membuka amplop Maira yang datang sebelumnya dan memeriksa lapisan ganda. Di dalam sampul terdapat setengah peta yang cocok sempurna.
Ketika digabung, kedua peta menunjukkan ruang bawah tanah kantor arsip serta waktu: besok, pukul lima pagi.
Tiket bus Bima tiba di Teluk Aruna satu jam sebelum waktu tersebut.