Aira datang ke Teluk Aruna menjelang tengah malam bersama Kirana dan petugas perlindungan. Ia menolak berbicara dengan Maira selama pemeriksaan hotel, tetapi tidak meminta kamar menggunakan nama saudaranya.
Nama Aira Savitri tercatat untuk pertama kali pada daftar tamu resmi. Petugas tidak menanyakan suami atau wali.
Aira meminta salinan tanda terima kamar dan menyimpannya dalam map kecil. Dokumen biasa itu memiliki nilai yang tidak dapat dipahami Maira sepenuhnya: bukti Aira dapat menyewa ruang tanpa mencuri nama siapa pun.
Maira tidak mengatakan seharusnya sejak dulu. Kalimat itu hanya akan mengabaikan tiga puluh tahun yang dirampas.
Pukul tiga pagi, kedua saudari duduk di ruang rapat polisi daerah. Peta gabungan terletak di antara mereka. Sobekannya menyatu pada gambar ruang bawah tanah, tetapi setiap bagian memiliki tinta tak terlihat yang baru muncul di bawah ultraviolet.
Bagian Aira memuat nomor rak. Bagian Maira memuat kode kunci. Tidak satu pun dapat dipakai sendiri.
'Bima masih membuat kita saling membutuhkan tanpa bertanya,' kata Maira.
'Kalau dia memberi semuanya kepadamu, aku tidak akan pernah melihatnya.'
'Itu tidak membuat cara ini benar.'
Aira ingin masuk ke arsip bersama polisi. Nadia mengizinkan karena surat ditujukan kepada keduanya, dengan syarat mereka memakai rompi, mengikuti jalur keluar, dan tidak menyentuh bukti sebelum didokumentasikan.
Sebelum berangkat, Maira dan Aira menyepakati kata berhenti. Jika salah satu merasa jebakan memaksa mereka menyerahkan sidik, nama, atau dokumen, keduanya keluar tanpa berdebat di lokasi. Kesepakatan itu tidak membuat mereka akrab, tetapi memberi cara bertindak yang tidak ditentukan Bima.
Rendra tidak datang. Ia mengirim denah lama kantor arsip melalui saluran resmi dan memberitahu bahwa bangunan pernah dimiliki yayasan pelabuhan Adiprana. Galih mengaku tidak mengetahui basement.
Kantor arsip tutup pada pukul empat. Petugas membuka pintu menggunakan surat penggeledahan. Ruang bawah tanah ditemukan di balik lemari peta, bukan melalui jebakan rahasia. Kunci kode membuka gembok mekanis setelah ahli memastikan tidak ada bahan berbahaya.
Di dalam terdapat rak dokumen yang disimpan dalam kotak tahan air. Nomor pada peta Aira menunjuk tiga kotak: kelahiran Purnama, perubahan identitas, dan penerus Ayu.
Maira memeriksa segel. Dua kotak pertama belum dibuka selama puluhan tahun. Kotak penerus Ayu memakai pita baru dan sidik Hadi Prabaswara pada penutup.
'Dia mungkin memegangnya sebagai notaris,' kata Aira.
'Atau membukanya setelah menerima pemberitahuan,' jawab Maira. 'Kita tunggu catatan waktunya.'
Kotak kelahiran memuat register asli yang halamannya pernah disobek dari kamar 408. Dua cap kaki Maira serta Aira berada pada halaman berbeda. Lestari menulis dua nama dengan pensil: Maira untuk bayi pertama, Aira untuk bayi kedua.
Di bawah nama ada catatan Ratih tentang luka bulan sabit pada bayi pertama dan tanda lahir kecil di bahu bayi kedua. Aira membuka kerah secukupnya; tanda itu masih ada.
Pemeriksaan fisik sederhana menghubungkan tubuhnya dengan register tanpa menjadikan kemiripan wajah satu-satunya bukti. Nadia memotret hanya setelah Aira memberi izin dan meminta gambar disegel.
Aira menyentuh udara di atas namanya tanpa mengenai kertas. 'Ibu memberiku nama sebelum mereka mengambilku.'
'Ya.'
Untuk pertama kali, Maira dapat memberikan jawaban tanpa syarat tambahan.
Kotak perubahan identitas menjelaskan Ratih mencatat Aira sebagai meninggal agar orang yang mengambil bayi tidak dapat memperoleh akta baru melalui klinik. Keputusan itu mencegah satu penjualan, tetapi membuat Aira hidup tanpa dokumen. Ratih kemudian memakai identitas mati lain untuk membesarkannya.
Register juga mencatat Lestari kembali dua minggu setelah kebakaran mencari bayi kedua. Ia ditolak oleh petugas yang menunjukkan surat kematian palsu. Selama bertahun-tahun, Lestari mungkin percaya Aira mati sebelum Ratih akhirnya menghubunginya.
Aira membaca baris itu dan berhenti menyalahkan ibunya karena tidak datang sejak awal. Ia belum memaafkan tahun-tahun diam setelah mereka bertemu kembali, tetapi urutan kesalahan berubah.
Tidak ada pilihan yang hanya menyelamatkan atau hanya merusak.
Kotak penerus Ayu berisi kontrak peran. Ayu Legal bertugas mengesahkan identitas perlindungan, menyimpan bukti asli, dan menunjuk penerus bila pengelola lama tertangkap. Pada versi awal, penerus dipilih tiga penjaga. Pada versi baru, hak penunjukan dapat dibeli melalui pembayaran kepada Nawasena.
Perlindungan telah resmi berubah menjadi jabatan yang dapat dijual.
Kontrak terbaru bertanggal sehari setelah Ratih masuk perlindungan. Hadi menandatangani sebagai notaris. Kolom penerima ditutup stiker hitam.
Maira tidak menarik stiker. Ahli memotretnya, memeriksa perekat, lalu mengangkat dengan uap rendah. Nama di bawahnya bukan Hadi.
Dara Kusuma.
Identitas pemilik Sampul Selatan yang berasal dari pasien meninggal dipakai sebagai Ayu Baru. Belum jelas siapa manusia di belakang nama itu.
Sebuah kamera kecil menyala di sudut ruangan. Nadia memutus jaringan, tetapi perangkat sudah mengirim gambar mereka. Pada penyimpanan lokal terdapat rekaman satu jam sebelumnya.
Seorang lelaki memakai masker masuk membawa koper. Ia membuka kotak penerus Ayu, menaruh kontrak, dan menatap kamera.
Ketika masker dilepas, wajah Hadi terlihat.
'Saya sudah melakukan yang diminta,' katanya pada rekaman. 'Sekarang biarkan Bima datang sendiri.'
Hadi tidak berada di hotel atau kantor Jakarta. Pelacak ponselnya mati sejak malam. Polisi mengeluarkan pencarian terbatas dan menjaga terminal bus.
Pukul lima kurang sepuluh, suara langkah terdengar di lantai atas arsip. Tim bersenjata mengambil posisi. Maira dan Aira dipindahkan ke belakang rak pelindung.
Orang yang turun adalah Hadi. Ia membawa koper yang sama, kedua tangan terlihat kosong.
'Saya datang menyerahkan arsip,' katanya.
'Anda sudah menaruh kontrak satu jam lalu,' kata Nadia.
Hadi menggeleng. 'Saya baru tiba dari Jakarta.'
Rekaman memperlihatkan wajah, suara, dan pakaian Hadi. Namun tiket tol mobilnya menempatkan kendaraan tiga jam dari Teluk Aruna saat video dibuat.
Seseorang menggunakan wajah Hadi dengan kualitas yang sama seperti verifikasi Bima.
Ahli menemukan gerakan mata pada rekaman Hadi berulang setiap sebelas detik, ciri model buatan. Latar ruang asli, tetapi wajah serta suara ditimpa. Pelaku memiliki pemindaian Hadi dari verifikasi notaris.
Hadi pernah menyerahkan pemindaian tersebut kepada vendor protokol Nawasena. Kelalaiannya menyediakan bahan pemalsuan, tetapi belum membuktikan ia membuat video.
Hadi membuka koper setelah dipindai. Di dalamnya ada perangkat autentikasi wajah dari Sampul Selatan serta surat yang memerintahkannya mengambil alih Ayu Legal.
'Saya tidak pernah menyetujuinya,' katanya.
Nadia menunjukkan log protokol. 'Anda memasukkan sandi.'
'Karena pesan menyatakan jika tidak, semua identitas perlindungan akan dipublikasikan.'
Sekali lagi, Hadi memilih menandatangani ancaman tanpa memberi tahu siapa pun.
Dari lantai atas terdengar mesin bus berhenti di depan kantor arsip. Kamera jalan memperlihatkan seorang lelaki turun dari kursi nomor dua belas.
Wajahnya tertutup topi, tetapi tidak memakai masker.
Bekas luka pada rahangnya sama dengan Bima.