Maira, jangan cari aku melalui keluarga. Cari siapa yang baru saja menjadi Ayu.
Maira tidak menyentuh lembar itu lagi setelah membacanya. Ia menutup ruang studio, meminta pegawai menggunakan pintu belakang, lalu menelepon Nadia dari perangkat berbeda.
Amplop dipotret di tempat sebelum dipindahkan. Cap pos berasal dari Teluk Aruna, kota pesisir selatan yang berjarak enam jam perjalanan. Waktu pemrosesan menunjukkan paket dikirim tiga hari lalu, dua puluh menit setelah verifikasi wajah rekening Bima.
Tinta tulisan masih mengeluarkan pelarut ringan. Ahli memperkirakan dibuat kurang dari satu minggu lalu. Pola huruf cocok dengan Bima pada surat lama, tetapi alat cetak dapat meniru tekanan jika memiliki sampel cukup.
'Ada perbedaan yang sulit dibuat mesin,' kata Maira. 'Bima selalu memperbaiki huruf a yang tertutup dengan goresan dari bawah. Pada pesan ini, kebiasaan itu muncul dua kali.'
'Apakah itu membuat Anda yakin dia menulis?' tanya Nadia.
'Tidak. Itu membuat pemalsunya sangat mengenal tulisan Bima, atau Bima memang menulis.'
Lembar pasien berasal dari buku ketiga Unit Utara, bagian yang hilang di antara halaman dua puluh satu dan dua puluh tiga. Nomor serat serta bekas jahitan cocok. Artinya pengirim memegang lembar yang diambil sebelum buku ditemukan.
Pada tepinya terdapat bekas garam dan jamur yang sama dengan dokumen Savitri Dua. Lembar kemungkinan ikut berada di kapal, lalu dipisahkan sebelum kabin dibakar. Jalurnya menghubungkan Unit Utara, Karang Hening, dan pengirim sekarang.
Sidik yang tertinggal terlalu tipis untuk identifikasi. Satu bekas sarung tangan menunjukkan pengirim menjaga agar namanya tidak masuk dokumen, bahkan ketika meminta Maira mencari identitas orang lain.
Halaman memuat perubahan penanggung alias. Ayu Lama berhenti pada tanggal Ratih masuk perlindungan. Ayu Baru diaktifkan sehari kemudian melalui notaris pemegang arsip.
Nama notaris tidak ditulis. Hanya kode HP-17.
Hadi Prabaswara memakai nomor protokol tujuh belas untuk akta perubahan Yayasan Purnama. Ia juga hadir dalam pencatatan perkawinan Bima dan Aira. Kemungkinan itu cukup untuk pemeriksaan, bukan penetapan.
Maira mengarahkan cahaya dari samping. Di bawah catatan Ayu Baru ada lekukan alamat yang sengaja dihapus: Sampul Selatan, Jalan Pelabuhan Lama.
Keterangan transfer bukan ungkapan. Itu nama sebuah usaha penjilidan dokumen di Teluk Aruna.
Nadia mengirim tim daerah memeriksa tanpa menyalakan sirene. Usaha tersebut masih buka dan tercatat milik seorang perempuan bernama Dara Kusuma. Nomor identitas Dara berasal dari pasien Purnama yang dinyatakan meninggal saat berumur sembilan tahun.
Kamera pos menunjukkan pengirim amplop memakai topi, masker, dan sarung tangan. Tubuhnya menyerupai lelaki pada lift laundry, tetapi kaki kirinya tidak menyeret. Ia memasukkan amplop sendiri dan membaca label dua kali.
Petugas loket mengingat lelaki itu bertanya apakah kiriman dapat tiba hari sama. Suaranya parau dan ia sesekali menekan sisi rusuk, seperti menahan nyeri. Ia membayar dengan uang baru dan menolak kembalian.
Uang tersebut berasal dari mesin ATM dekat klinik pesisir. Kamera ATM hanya menangkap topi dan tangan. Tidak ada kartu karena penarikan memakai kode tanpa rekening, diterbitkan oleh kustodian lama Purnama.
Pada satu bingkai, masker bergeser. Bekas luka tampak di sisi rahang, lokasi yang sama dengan luka Bima pada foto Purnama. Kualitas gambar belum cukup untuk pengenalan wajah.
Rendra mengetahui temuan melalui laporan resmi, bukan panggilan Maira. Ia mengirim daftar rekening Hadi dan akses protokol tanpa datang ke studio. Selena menyerahkan semua komunikasi dengan notaris. Tidak ada pesan baru.
Studio memperketat penerimaan paket. Setiap kiriman difoto sebelum dibawa masuk, pengirim tak dikenal ditempatkan pada kotak luar, dan naskah klien dipisahkan. Maira tidak menutup usaha hanya karena seseorang memakai alamatnya sebagai jalur bukti.
Ia juga memberi tahu pegawai apa yang terjadi tanpa memperlihatkan halaman pasien. Keamanan mereka membutuhkan informasi, tetapi rasa ingin tahu tidak memberi hak membaca identitas orang lain.
Aira menghubungi Maira melalui Kirana setelah berita cap pos bocor. 'Bima mengirim sesuatu kepadamu?'
'Satu pesan dan lembar pasien. Polisi sedang memeriksa.'
'Mengapa bukan kepadaku?'
'Aku tidak tahu.'
'Dia suamiku.'
'Dan dia memakai namaku. Mungkin pesannya berkaitan dengan itu.'
Aira menutup sambungan sebelum Kirana dapat menengahi. Pengakuan hukum atas nama sendiri belum menghilangkan ketakutannya ditinggalkan lagi.
Laboratorium bank menemukan verifikasi wajah berasal dari kamera fisik, bukan unggahan berkas. Namun video melewati perangkat virtual sebelum mencapai server. Seseorang dapat menampilkan wajah langsung di depan kamera lain atau memakai proyeksi tiga dimensi.
Suara pembaca angka memiliki luka napas yang sama seperti rekaman Sagara. Ahli menilai kemungkinan Bima tinggi, tetapi tetap tidak menyebut pasti.
Kustodian membandingkan angka acak dengan rekaman lama yang dimiliki keluarga. Tidak ada urutan sama. Jika dibuat dari potongan suara, pelaku menyusun suku kata dengan sangat halus. Analisis menemukan dua sambungan mikro, tetapi sambungan itu juga dapat berasal dari jaringan buruk.
Maira meminta laporan mencantumkan batas tersebut. Istilah kemungkinan tinggi mudah berubah menjadi pasti ketika dikutip media. Nadia mengeluarkan ringkasan hanya bahwa verifikasi sedang diuji dan tidak boleh dipakai mengubah status kematian.
Selena meminta menonton video, tetapi menunggu izin pengadilan. Rendra juga tidak memperoleh salinan pribadi. Bukti baru tidak menjadi milik keluarga hanya karena wajah di dalamnya Bima.
Polisi memeriksa kantor Hadi. Ia berada di Jakarta saat transfer terjadi dan bersedia menyerahkan perangkat. Pada komputer protokol ditemukan pemberitahuan bahwa akun HP-17 dialihkan kepada pengelola baru.
'Saya tidak mengalihkan,' kata Hadi. 'Portal mengirim persetujuan otomatis setelah Ratih masuk perlindungan.'
'Siapa penerimanya?' tanya Nadia.
'Sistem hanya menulis Ayu Legal.'
Hadi mengakui menyimpan kunci protokol Purnama agar dokumen pasien tidak disita keluarga. Ia mengatakan tidak tahu kunci itu juga dapat menunjuk penerus alias.
Audit protokol menunjukkan Hadi telah mengesahkan sembilan belas identitas perlindungan selama tujuh tahun. Empat menyelamatkan pasien dari pengejaran, enam kemudian dipakai membuka rekening, dan sisanya belum ditemukan.
Hadi tidak dapat menyebut seluruh pekerjaan sebagai bantuan atau seluruhnya sebagai penipuan. Setiap berkas perlu diperiksa berdasarkan persetujuan pemilik dan akibatnya.
Riwayat menunjukkan ia membuka pemberitahuan, memasukkan sandi, dan menyetujui. Hadi beralasan mengira sedang memperpanjang perlindungan arsip.
'Anda menandatangani sesuatu yang tidak menampilkan nama penerima,' kata Maira.
'Ya.'
Keputusan tersebut menjadikannya penghubung Ayu Baru meskipun belum membuktikan ia sendiri memakai alias.
Tim Teluk Aruna memasuki Sampul Selatan sore itu. Tempatnya kosong, mesin penjilid masih hangat, dan rak memuat dua puluh empat amplop yang belum dikirim.
Satu ditujukan kepada Aira Savitri dengan nama barunya yang baru disahkan dan belum diumumkan.
Di bawah amplop tersebut ada tiket bus malam atas nama Bima Adiprana, keberangkatan ke Teluk Aruna pada hari berikutnya.