Kepada istri sahku, Maira Savitri.
Kalimat itu masih menggantung di udara ketika Maira berdiri begitu cepat hingga lututnya membentur meja.
'Itu bukan aku.'
Selena tertawa tanpa humor. 'Namanya baru saja dibacakan.'
'Aku mendengarnya. Aku tidak pernah menikah dengan Bima Adiprana.'
Rendra bergerak dari dekat jendela. Ia tidak meninggikan suara, tetapi tatapannya membuat Maira merasa sedang berdiri di bawah sorot lampu interogasi.
'Anda berharap kami memercayai bahwa nama lengkap dan nomor identitas Anda muncul secara kebetulan?'
'Aku berharap Anda memakai akal sehat. Aku tidak mengenal adik Anda.'
'Bima menghilang dua tahun lalu. Waktu yang cukup panjang untuk menyiapkan cerita.'
Maira meraih tasnya. 'Aku tidak perlu mendengarkan tuduhan ini.'
'Semua pihak tetap berada di ruangan,' kata Hadi tegas. 'Ada dokumen hukum yang harus diperiksa dan kemungkinan tindak pidana bila salah satunya dipalsukan.'
Kata tindak pidana menahan langkah Maira.
Hadi mengeluarkan sebuah map bening. Di dalamnya ada salinan akta perkawinan yang mencantumkan nama Bima Adiprana dan Maira Savitri. Tanggalnya dua hari sebelum ledakan kapal.
Maira memeriksa setiap baris. Nomor identitas, tempat lahir, nama Lestari sebagai ibu, bahkan alamat studio tertulis dengan benar.
Tanda tangan di bawah namanya menyerupai miliknya, termasuk tarikan panjang pada huruf terakhir. Di sampingnya terdapat cap sidik jari.
'Foto pengantinnya,' tuntut Selena.
Hadi menunjukkan salinan foto yang ditempel pada berkas. Wajah Bima terlihat jelas. Perempuan di sebelahnya mengenakan penutup kepala berwarna pucat, tetapi bayangan dan kualitas cetakan membuat bagian wajahnya kabur.
'Itu bisa siapa saja,' kata Maira.
'Posturnya sama denganmu,' balas Selena.
'Jutaan perempuan memiliki tinggi yang sama.'
Rendra mengambil akta itu dari tangan Maira. 'Tanda tangannya?'
'Mirip.'
'Bukan jawaban.'
'Aku tahu bagaimana dokumen dapat direkayasa. Pekerjaanku memeriksa tinta, kertas, dan perubahan tulisan. Kemiripan bukan bukti bahwa aku menandatanganinya.'
'Pekerjaan yang sangat berguna bagi pemalsu.'
Maira menatapnya lurus. 'Dan jabatan CEO sangat berguna bagi orang yang ingin menghilangkan bukti. Apakah itu membuat Anda pelaku?'
Galih berdeham, tetapi sudut mulutnya hampir membentuk senyum. Rendra tidak bereaksi selain mengembalikan berkas kepada Hadi.
Hadi menjelaskan bahwa akta asli telah disita untuk pemeriksaan laboratorium. Kantor catatan sipil mengonfirmasi nomor registrasinya sah, tetapi petugas yang mengesahkan perkawinan itu sudah tidak bekerja di sana.
Maira mengeluarkan telepon. 'Pada tanggal ini aku berada di Surabaya. Aku mengerjakan restorasi naskah untuk museum selama tiga minggu.'
'Buktinya?' tanya Rendra.
'Ada kontrak kerja, tiket, foto harian, dan rekaman kamera museum.'
'Bisa diperiksa,' kata Galih. Nada suaranya ramah, tetapi matanya tetap mengamati Maira. 'Kalau Nona Maira benar, berarti seseorang menggunakan identitasnya.'
Selena berbalik kepadanya. 'Jangan bersikap seolah dia korban. Bima bertunangan denganku. Kami memilih tanggal pernikahan.'
Laras, yang sejak tadi diam, menatap akta di meja. 'Bima juga menyimpan banyak hal dari kita.'
Selena tampak terluka. 'Oma mengenalnya. Dia tidak akan melakukan ini.'
'Ternyata tidak seorang pun di ruangan ini mengenalnya sebaik yang kita kira,' ujar Laras.
Hadi melanjutkan penjelasan wasiat. Delapan belas persen saham pribadi Bima, hak atas suite nomor 408, dan beberapa rekening investasi diwariskan kepada istri sahnya. Namun seluruh aset dibekukan sampai identitas penerima serta keabsahan perkawinan dipastikan.
'Berapa nilainya?' tanya Maira.
Galih menyebut angka yang membuat Maira mengira ia salah dengar.
Nilainya cukup untuk membeli puluhan bangunan seperti studionya.
'Aku tidak menginginkannya,' kata Maira.
Selena mendengus. 'Kalimat yang mudah diucapkan sebelum saham dipindahkan.'
'Kalau akta ini palsu, warisan itu bukan milikku.'
Rendra mendekat satu langkah. 'Kalau akta ini benar?'
'Itu tetap tidak membuatku mengenal adik Anda.'
Hadi meminta salinan telepon, paspor, dan contoh tanda tangan Maira untuk pemeriksaan. Ia juga memperingatkan agar Maira tidak meninggalkan wilayah hukum sampai penyidik mengambil keterangannya.
Telepon Maira bergetar berkali-kali. Ketika melihat layar, ia menemukan puluhan pesan dari nomor tidak dikenal. Satu portal berita telah menerbitkan artikel tentang istri rahasia Bima Adiprana. Foto KTP Maira, dengan sebagian nomor masih terlihat, menyertai berita itu.
'Bagaimana mereka mendapatkannya?' tanyanya.
Galih langsung menghubungi tim keamanan. Selena memucat ketika membaca judul berita, lalu menatap Maira dengan kebencian terbuka.
'Kau bahkan sudah menjual cerita ini.'
'Aku baru mengetahui semua ini bersama kalian.'
Panggilan dari Danu masuk. Maira menjawab dengan tangan dingin.
'Beri tahu aku berita itu bohong,' kata Danu tanpa sapaan.
'Aku tidak pernah menikah dengan Bima.'
'Tetapi ada akta.'
'Akta itu memakai identitasku. Seseorang memalsukannya.'
Danu terdiam beberapa detik. 'Wartawan sudah datang ke studio.'
'Jangan biarkan mereka mengambil gambar dokumen klien.'
'Bagaimana dengan namaku? Mereka tahu kita bertunangan.'
Maira memejamkan mata. 'Aku baru dituduh memalsukan pernikahan dengan orang mati, Danu.'
'Aku hanya tidak ingin usaha kita hancur.'
'Kunci studio. Aku akan menelepon lagi.'
Ketika sambungan terputus, Maira menyadari Rendra mendengar sebagian percakapan. Ia tidak menunjukkan simpati.
Dari balik pintu terdengar suara gaduh. Resepsionis masuk dan melaporkan bahwa wartawan memenuhi lobi serta pintu parkir. Beberapa orang telah meneriakkan nama Maira.
'Kebocoran ini terlalu cepat,' kata Galih.
'Dan terlalu lengkap,' tambah Rendra. 'Seseorang sudah menyiapkan bahan sebelum wasiat dibacakan.'
Maira memasukkan telepon ke tas. 'Aku akan pulang lewat pintu belakang.'
'Ke studio yang alamatnya sudah tersebar?' tanya Rendra.
'Aku bisa menjaga diri.'
'Anda tidak memahami keluarga yang sedang Anda hadapi.'
'Aku juga tidak memahami mengapa Anda mengira berhak mengaturku.'
Rendra meminta Dimas dari tim keamanan keluarga menyiapkan kendaraan. Ia lalu menjelaskan bahwa semua arsip pribadi Bima, termasuk dokumen kamar 408, disimpan di kediaman Adiprana. Jika Maira benar-benar ingin membuktikan identitasnya dicuri, ia membutuhkan akses ke sana.
'Saya tidak akan tinggal bersama orang-orang yang menganggapku penipu,' kata Maira.
'Polisi akan meminta Anda berada di lokasi yang dapat dipantau. Wartawan sudah mengetahui studio dan apartemen Anda. Di rumah kami, bukti dan keselamatan Anda bisa dijaga.'
'Atau kalian bisa mengawasi setiap gerakku.'
'Keduanya tidak saling meniadakan.'
Maira membenci ketenangannya. Ia lebih membenci bahwa untuk kedua kalinya hari itu, perkataan Rendra memiliki dasar yang sulit dibantah.
Hadi mengatakan Maira bebas menolak, tetapi menyarankan tempat aman sampai pemeriksaan awal dilakukan. Di luar, seruan wartawan semakin keras.
Maira berjalan menuju pintu.
Rendra mendahuluinya dan menahan daun pintu dengan satu tangan. Tidak ada sentuhan di antara mereka, tetapi tubuhnya menjadi penghalang yang nyata.
'Sampai terbukti siapa dirimu, kau tinggal di bawah atap keluargaku.'