Ujung kuas Maira Savitri bergerak perlahan di atas akta tanah berusia hampir delapan puluh tahun. Satu tekanan berlebih dapat merontokkan serat kertas yang telah rapuh. Di luar jendela Studio Aksara Pulih, hujan Jakarta memukul seng kanopi dan membuat ruangan sempit itu berbau tanah basah.
Maira menyukai pekerjaan yang menuntut kesabaran. Kertas tua tidak pernah berbohong. Noda air, lipatan, dan bekas tinta selalu meninggalkan jejak tentang apa yang pernah terjadi.
Manusia jauh lebih sulit dipulihkan.
Pintu studio terbuka. Danu Prasetya masuk membawa dua gelas kopi dan map cokelat. Lelaki yang menjadi tunangan Maira selama sebelas bulan itu mengibaskan air dari bahunya.
'Kau datang sebelum pukul tujuh lagi.'
'Klien mengambil akta ini besok.'
Danu meletakkan kopi di sisi meja yang jauh dari dokumen. Ia sudah cukup lama bekerja bersama Maira untuk mengetahui bahwa satu tetes cairan dapat membuatnya murka.
'Aku bertemu calon pembeli tadi pagi,' katanya.
Gerakan kuas Maira berhenti. 'Pembeli apa?'
'Studio.'
'Aku sudah bilang tidak.'
'Mereka menawarkan harga yang masuk akal. Kita bisa membayar utang, pindah ke tempat lebih kecil, lalu memakai sisanya untuk pernikahan.'
Maira melepas sarung tangan tipisnya. Studio itu memang tidak menghasilkan banyak uang, tetapi Lestari, ibunya, membangun tempat tersebut dari sebuah kios fotokopi kecil. Enam bulan setelah kematian Lestari, Maira belum sanggup membayangkan nama studio diganti papan perusahaan lain.
'Pernikahan kita tidak membutuhkan gedung mewah,' katanya. 'Dan utang studio masih bisa dicicil.'
Danu mengalihkan pandangan pada map di tangannya. 'Bunga pinjaman terus bertambah.'
'Kita sudah membahas ini.'
'Kau yang bicara. Aku yang berurusan dengan bank.'
Nada itu membuat Maira menatapnya lebih lama. Danu segera melunak dan meraih tangannya.
'Aku hanya tidak ingin kita memulai rumah tangga dengan beban.'
Sebelum Maira menjawab, seseorang mengetuk pintu. Seorang kurir berdiri di bawah payung dan meminta tanda tangannya untuk amplop bersampul tebal.
Nama Maira tercetak lengkap di bagian depan, disertai nomor identitasnya. Pengirimnya adalah Kantor Notaris Prabaswara dan Rekan.
Maira membuka amplop dengan pisau kertas. Isinya surat panggilan untuk hadir dalam pembacaan wasiat Bima Adiprana pada pukul dua siang.
'Bima Adiprana?' Danu membaca dari balik bahunya. 'Putra pemilik jaringan hotel itu?'
'Aku tahu siapa keluarganya. Aku tidak mengenalnya.'
Nama Bima pernah memenuhi berita dua tahun lalu setelah kapal pribadinya meledak di Laut Jawa. Serpihan kapal ditemukan, tetapi tubuhnya tidak. Pengadilan baru mengesahkan kematiannya beberapa minggu lalu setelah penyelidikan panjang.
Danu mengambil surat itu. 'Mungkin ibumu pernah bekerja untuk mereka.'
'Ibu memperbaiki buku dan dokumen. Bukan mengurus keluarga miliarder.'
'Namamu dan nomor identitasmu tercantum. Kau sebaiknya datang.'
Maira mengambil kembali surat tersebut. 'Ini pasti kesalahan administrasi.'
'Kalau benar salah, kau hanya perlu menunjukkan KTP dan pulang.'
'Kau ikut denganku?'
Danu menatap jam tangannya. 'Aku ada pertemuan dengan pihak bank. Ini soal studio.'
Maira ingin mengatakan bahwa studio itu milik mereka berdua hanya karena ia memercayainya. Namun Danu telah mencium keningnya, mengambil kopi, lalu keluar sebelum percakapan baru dimulai.
Menjelang pukul dua, Maira tiba di kantor notaris yang menempati lantai atas sebuah gedung di kawasan Sudirman. Ia mengenakan blus putih sederhana dan membawa surat panggilan dalam tas kain. Pakaiannya terasa terlalu biasa dibandingkan marmer mengilap serta lukisan mahal di ruang tunggu.
Resepsionis memeriksa identitasnya, lalu memintanya masuk tanpa menunjukkan keterkejutan.
Ruang pembacaan wasiat telah dipenuhi orang.
Rendra Adiprana berdiri di dekat jendela. Maira mengenalinya dari majalah bisnis. Kakak Bima itu menjabat CEO Adiprana Heritage Hotels sejak ayah mereka meninggal. Usianya tiga puluh tujuh, tubuhnya tinggi, dan setelan gelapnya seolah dirancang untuk menegaskan bahwa ia tidak suka membuang waktu.
Di sofa duduk Laras Adiprana, pendiri jaringan hotel sekaligus nenek Bima. Rambutnya seluruhnya putih, tetapi matanya masih tajam.
Seorang lelaki berwajah ramah memperkenalkan diri sebagai Galih Adiprana, paman Bima dan direktur keuangan grup. Di sampingnya berdiri Selena Wijaya, perempuan anggun yang pernah diberitakan sebagai tunangan Bima sebelum kecelakaan kapal.
Tatapan mereka jatuh kepada Maira hampir bersamaan.
Selena menjadi orang pertama yang bicara. 'Siapa dia?'
Notaris Hadi Prabaswara bangkit dari kursinya. 'Nona Maira Savitri adalah pihak yang tercantum dalam surat panggilan.'
Rendra menatap Maira seperti sedang memeriksa keretakan pada dinding hotel. 'Hubungan Anda dengan adik saya?'
'Tidak ada.'
'Kalau begitu, mengapa Anda berada di sini?'
'Aku juga ingin mengetahui jawabannya.'
Alis Rendra bergerak tipis mendengar perubahan sapaan Maira, tetapi ia tidak menegur.
Notaris meminta Maira duduk. Sebelum membuka map wasiat, ia memeriksa KTP Maira dan mencocokkannya dengan salinan di hadapannya.
'Nama lengkap?'
'Maira Savitri.'
'Tanggal lahir?'
Maira menjawab.
'Alamat sesuai identitas?'
Ia kembali menjawab. Tidak ada satu pun kesalahan dalam data yang dibacakan.
Kegelisahan mulai merayap di tengkuknya.
'Apa sebenarnya hubungan saya dengan pembacaan ini?' tanya Maira.
'Semua akan diterangkan menurut urutan yang ditetapkan almarhum Bima Adiprana,' jawab Hadi.
Selena menyilangkan tangan. 'Bima tidak pernah menyebut perempuan ini.'
Galih menenangkan, 'Kita dengarkan dahulu.'
Rendra tidak duduk. Ia tetap berdiri dengan satu tangan di saku, seakan siap menghentikan pembacaan jika menemukan sesuatu yang tidak disukainya.
Hadi menjelaskan bahwa Bima membuat wasiat tertutup sehari sebelum kapalnya meledak. Dokumen itu disimpan di dua tempat dan baru boleh dibuka setelah ada penetapan kematian yang sah.
Beberapa aset pribadi diberikan kepada yayasan penyelamatan laut. Koleksi mobilnya jatuh kepada Rendra. Sebuah rumah di Bali diberikan kepada Laras. Bima juga meninggalkan pesan agar utang para awak kapal yang bekerja untuknya dihapus.
Ketika Hadi membuka halaman berikutnya, suasana ruangan berubah.
Rendra memperhatikan setiap gerakannya. Selena mencengkeram sandaran kursi.
'Mengenai kepemilikan saham pribadi saya di Adiprana Heritage Hotels, hak atas suite tetap nomor 408 di Grand Adiprana, serta seluruh dokumen yang tersimpan atas nama saya di tempat tersebut,' baca Hadi, 'saya menyerahkannya kepada pasangan saya sesuai catatan sipil yang dilampirkan bersama wasiat ini.'
Selena berdiri. 'Bima tidak memiliki istri.'
Hadi tidak mengangkat wajah. 'Dokumen ini menyatakan sebaliknya.'
'Itu tidak mungkin.'
Laras berbisik, 'Biarkan dia membaca.'
Maira tiba-tiba ingin meninggalkan ruangan. Nalurinya mengatakan kesalahan ini jauh lebih besar daripada surat yang dikirim ke alamat keliru.
Hadi mengangkat lembar terakhir. Pandangannya bertemu dengan Maira sebelum ia membacakan kalimat yang mengubah seluruh ruangan menjadi sunyi.
'Kepada istri sahku, Maira Savitri.'