Maira meminta formulir asli dibawa ke laboratorium, bukan dipotret melalui telepon. Dua jam kemudian, seorang petugas Adiprana menyerahkan buku peminjaman kendaraan yang sampulnya telah mengelupas. Galih datang bersama pengacara dan langsung menolak diperiksa tanpa surat resmi.
'Mobil perusahaan dipakai untuk ratusan urusan,' katanya. 'Nama pada formulir tidak membuktikan aku berada di Dermaga Nila.'
'Belum ada yang mengatakan Anda berada di sana,' jawab Nadia. 'Kami sedang menentukan siapa memakai kendaraan Anda.'
Galih menatap Rendra. 'Ini cara baru menyingkirkan aku dari dewan?'
'Aku bahkan tidak tahu formulir itu ada,' kata Rendra.
Maira mengenakan sarung tangan, lalu memeriksa tanda tangan Lestari di bawah lampu portabel. Bentuk hurufnya tepat, tetapi garis awal terlalu ragu. Tinta berkumpul pada tiga titik yang biasanya tidak muncul dalam tulisan ibunya.
'Ini ditiru perlahan,' katanya.
Galih mengembuskan napas lega terlalu cepat.
'Belum selesai.' Maira memiringkan halaman. 'Ada lekukan tulisan lain di bawah tinta. Seseorang menandatangani lembar di atasnya, lalu penjiplak memakai bekas tekanannya.'
Teknisi memindai permukaan dengan cahaya menyamping. Lekukan tersebut membentuk tanda tangan Lestari yang lebih alami, tetapi letaknya tiga sentimeter lebih tinggi daripada kolom peminjam.
'Lembar atasnya sudah hilang,' kata Maira. 'Kita tidak tahu apa yang semula Ibu tanda tangani.'
Nadia meminta catatan halaman. Dua lembar sebelum formulir unit 48 telah disobek. Nomor urut menunjukkan salah satunya adalah permintaan kendaraan sementara, satunya lagi izin akses dermaga.
'Jadi ibumu mungkin memang meminta mobil,' ujar Galih. 'Pemalsu hanya memindahkan tandatangannya ke halaman yang masih ada.'
'Atau orang yang ingin menuduh Ibu memakai jejak dari dokumen lain,' balas Maira.
Galih dipisahkan untuk diperiksa. Dalam keterangannya, ia mengaku bertemu Lestari seminggu sebelum ledakan. Lestari membawa salinan register kamar 408 dan meminta akses ke arsip kendaraan lama. Sebagai imbalan agar perkara klinik tidak dibawa ke wartawan, Galih meminjamkan unit 48 selama dua hari.
'Mengapa Anda tidak pernah mengatakan ini?' tanya Nadia.
'Karena kapal Bima meledak, mobil kembali tanpa pengemudi, dan Lestari bersumpah dia tidak mengambilnya. Saya tidak ingin polisi menghubungkan perusahaan dengan dermaga gelap.'
'Anda kembali memilih nama baik perusahaan daripada penyelidikan,' kata Maira.
'Ibumu juga memilih diam.'
Kalimat itu menyakitkan karena tidak seluruhnya salah. Maira ingin membela Lestari sebagai korban yang dibayar untuk kehilangan anak. Namun rekaman suara, cakram tersembunyi, dan pertemuan dengan Galih menunjukkan ibunya membuat keputusan setelah Maira dewasa.
Ia keluar dari ruang pemeriksaan sebelum kemarahannya berubah menjadi jawaban yang dapat dipakai pengacara Galih.
Rendra menyusul sampai lorong, lalu berhenti pada jarak aman. 'Aku tidak akan bertanya apakah kau baik-baik saja.'
'Bagus, karena aku tidak tahu.'
'Aku tahu rasanya menemukan orang tua melindungi sesuatu dengan mengorbankan kebenaran.'
Maira menatapnya. 'Jangan samakan ibuku dengan ayahmu hanya agar kita merasa lebih dekat.'
'Aku tidak bermaksud begitu.'
'Setiap orang di keluargamu berkata ingin melindungi. Laras melindungi hotel, Galih melindungi dewan, kau melindungi Bima. Hasilnya sama: dokumen diubah dan orang lain membayar.'
Rendra menerima kata-kata itu tanpa membela diri. 'Kau benar tentang bagianku.'
Nadia keluar membawa salinan akta Yayasan Purnama Sehat. Badan itu tidak dibubarkan setelah kebakaran. Namanya berubah dua kali, lalu menjadi pemegang saham utama Nawasena Data melalui perusahaan perantara.
Alamat terakhirnya sebuah rumah pemulihan ibu dan bayi di luar Semarang. Rumah itu tutup lima tahun lalu setelah audit menemukan anak-anak tercatat dengan dua nomor kelahiran.
'Kami meminta polisi daerah memeriksa lokasi,' kata Nadia. 'Tidak ada Ratih Kusuma dalam daftar penduduk sekarang.'
Maira melihat nama notaris pada perubahan akta yayasan. Hadi Prabaswara.
Notaris yang membacakan wasiat Bima juga mengesahkan perubahan yayasan pemilik klinik ilegal.
Hadi dipanggil sore itu. Ia datang membawa buku protokol dan tampak lebih tua daripada saat pembacaan wasiat. Ia mengakui membuat perubahan, tetapi mengatakan kliennya selalu diwakili seorang perempuan bernama Ratna Kusuma, keponakan Ratih.
'Anda memeriksa identitasnya?' tanya Nadia.
'Dokumennya sah.'
'Sama sahnya dengan akta Maira dan Aira?'
Hadi menunduk. Ia tidak menyangkal bahwa dirinya hadir di kamar 408 pada video perkawinan. Bima membawa Aira dengan identitas Maira serta dua saksi dari kantor catatan sipil. Hadi mengetahui wajah perempuan itu mirip, tetapi Bima menunjukkan putusan pengadilan yang menyatakan Aira dan Maira adalah nama orang yang sama.
'Putusan dari pengadilan mana?' tanya Maira.
'Salinannya disegel oleh Bima. Saya hanya mencatat nomor.'
Nomor tersebut merujuk perkara adopsi tertutup tiga puluh tahun lalu. Berkas fisiknya hilang saat gudang pengadilan kebanjiran, sedangkan salinan digital dibuat dua minggu sebelum perkawinan.
'Anda tidak merasa janggal?' desak Maira.
'Saya merasa sangat janggal. Saya tetap melanjutkan karena Bima mengancam melaporkan keterlibatan kantor lama ayah saya dalam klinik Purnama.'
Sekali lagi, seseorang mengaku terpaksa setelah memilih melindungi nama sendiri.
Hadi menyerahkan satu informasi yang belum pernah dicatat. Seusai pencatatan, Aira meminta dibuatkan surat kuasa medis atas nama Ratna Kusuma. Alamat penerimanya sama dengan rumah pemulihan di Semarang.
Nadia menunjukkan foto Ratih dari kartu pegawai lama kepada Hadi. Notaris itu mengenali perempuan yang selalu duduk di mobil saat Ratna mengurus dokumen, tetapi ia tidak pernah berbicara dengannya. Ratih mungkin hidup, sakit, atau sengaja dipertontonkan agar identitas Ratna tampak memiliki keluarga.
Pemeriksa lalu membuka catatan pajak Rumah Purnama. Selama sebelas tahun setelah dinyatakan tutup, tempat itu masih membayar listrik minimum dan membeli obat luka bakar melalui klinik keliling. Pembayaran terakhir dilakukan dua minggu lalu memakai rekening Nawasena Data.
'Kalau Ratih sudah meninggal, seseorang merawat pasien lain di sana,' kata Maira.
Laras meminta bicara tanpa Galih. Di ruang terpisah, ia mengaku Ratih pernah datang setahun setelah kebakaran dan menuduh keluarga menjual bayi kedua. Laras memberinya uang agar membawa perkara ke pengacara, tetapi Ratih pergi setelah melihat nama pengacara yang dipilih.
'Ayah Hadi?' tanya Maira.
Laras mengangguk. 'Kantornya membuat dokumen klinik. Ratih pasti mengira aku sedang mengirimnya kembali kepada orang yang menutup kasus.'
'Apakah Oma mencari Aira setelah itu?'
'Aku menyewa penyelidik. Dia melapor bayi kedua meninggal sebelum dibawa keluar Jakarta.'
'Siapa penyelidiknya?'
Laras menyebut nama seorang mantan kepala keamanan hotel yang meninggal lima tahun lalu. Nadia tetap mencatatnya; kematian tidak membuat laporannya benar. Arsip pembayaran menunjukkan ia menerima bonus besar dari ayah Galih sepekan setelah menyerahkan kabar kematian bayi.
Maira menatap Laras. 'Oma menerima laporan yang paling memudahkan keluarga, lalu berhenti mencari.'
'Ya,' jawab Laras. 'Aku menyebutnya kepastian karena takut menyebutnya pilihan.'
Maira tidak memaafkan, tetapi ia membawa kalimat itu sebagai pengakuan yang dapat diperiksa.
Ponsel Maira bergetar. Pesan tanpa nomor muncul bersama foto halaman buku kelahiran. Dua cap kaki bayi terlihat berdampingan.
Kalau ingin bukti bahwa aku hidup, datang ke Purnama. Bawa gelang kedua. Jangan bawa polisi atau Rendra.
Pesan berikutnya datang sebelum Maira sempat menjawab.
Kalau kau membawa mereka, Ratih akan mati untuk kedua kalinya.