Maira tidak menjawab pesan itu sebelum Nadia menyimpan tangkapan layar, memisahkan data gambar, dan memastikan gelang kedua tetap berada di ruang bukti. Ancaman terhadap Ratih dapat berarti perempuan itu hidup, tetapi juga dapat dipakai untuk memancing Maira membawa barang asli.
'Saya akan pergi ke Semarang,' kata Maira.
'Bukan malam ini dan bukan tanpa rencana,' jawab Nadia.
'Kalau Aira melihat polisi, dia mungkin menghilang.'
'Kalau Anda datang sendiri, Anda yang mungkin menghilang.'
Mereka sepakat membuat replika gelang dari foto tiga dimensi. Nomor, noda hitam, dan bagian plastik yang meleleh ditiru, tetapi sebuah titik biru kecil ditambahkan di sisi dalam. Gelang asli tetap disegel.
Rendra mengetahui tujuan itu ketika Maira kembali ke rumah Menteng untuk mengambil pakaian. Ia berdiri di depan pintu kamar tamu, tidak menghalangi jalan.
'Aku ikut,' katanya.
'Pesannya khusus melarangmu.'
'Orang yang mengirimnya menuduhku membunuh Bima. Itu alasan untuk berhati-hati, bukan menuruti semua syaratnya.'
'Nadia mengatur pengamanan.'
'Kau memercayai polisi yang baru kaukenal, tetapi menyimpan rencana dariku.'
Maira menutup tas. 'Polisi tidak memasang pelacak tanpa izin dan berbohong tentang laporan kapal.'
Rendra menerima pukulan itu dengan rahang mengeras. 'Apa yang kauperlukan dariku?'
'Daftar semua fasilitas medis yang pernah dibayar Adiprana setelah ledakan. Berikan kepada Nadia, bukan kepadaku. Dan jangan mengikuti kendaraan kami.'
'Baik.'
Jawaban itu tidak menghilangkan ketegangan, tetapi membuktikan ia dapat mendengar batas setelah melanggarnya.
Maira berangkat menjelang subuh bersama seorang pengemudi polisi berpakaian sipil. Nadia tidak duduk dalam kendaraan. Tim daerah memasang pengawasan di jalan utama, cukup jauh agar rumah pemulihan tidak tampak dikepung.
Perjalanan hampir enam jam memberi Maira terlalu banyak waktu untuk membayangkan wajah sendiri menunggunya. Ia membawa foto Lestari di dalam tas, bukan untuk ditukar, melainkan agar ibunya hadir sebagai manusia yang pernah membuat pilihan salah dan bukan hanya nama dalam dokumen.
Rumah Purnama berdiri di balik kebun mangga yang tidak terawat. Cat dindingnya terkelupas, papan nama sudah dilepas, dan gerbang terbuka. Tidak ada kendaraan di halaman.
Pesan baru memerintahkannya masuk sendiri melalui pintu samping. Pengemudi berhenti di warung dua ratus meter dari lokasi. Pemancar Maira aktif, tetapi tim berjanji tidak masuk kecuali mendengar kata api atau kehilangan sinyal lebih dari tiga menit.
Di dalam, bau antiseptik lama bercampur jamur. Lorong dipenuhi kamar kecil dengan nomor yang dicat ulang. Maira mengikuti cahaya menuju ruang bayi. Seorang perempuan tua duduk di kursi roda di balik dinding kaca.
'Ratih Kusuma?' tanya Maira.
Perempuan itu mengangkat wajah. Bekas luka bakar menutupi sisi kiri lehernya. 'Kau tumbuh seperti Lestari.'
'Di mana Aira?'
'Selalu langsung pada nama yang hilang. Sama seperti ibumu.'
Pintu di ujung ruangan terbuka.
Perempuan yang masuk mengenakan kemeja abu-abu dan celana hitam. Rambutnya lebih pendek daripada Maira, tubuhnya sedikit lebih kurus, tetapi wajah mereka nyaris sama. Tidak ada kerudung atau cahaya yang menyembunyikannya.
Maira melihat dirinya dengan kehidupan berbeda: garis tipis di dahi, tindik kecil pada telinga kiri, dan tatapan yang tidak membawa satu pun kenangan bersama.
Aira berhenti di sisi lain meja. 'Kau membawa gelangnya?'
'Kau bahkan tidak bertanya bagaimana keadaanku setelah kamar 408 dibakar.'
'Aku tahu kau keluar bersama Rendra.'
'Karena kau mengawasi?'
'Karena semua berita menjadikanmu janda yang selamat.'
Maira mengeluarkan kotak replika, tetapi tidak membukanya. 'Aku ingin tes DNA dan koreksi identitas sebelum membahas saham.'
Aira tertawa pendek. 'Mudah bagimu meminta prosedur. Kau memiliki akta lahir, sekolah, pekerjaan, dan makam ibu yang memakai namamu. Aku berpindah dari satu dokumen pinjaman ke dokumen lain.'
'Itu tidak memberimu hak memakai milikku.'
'Bima tidak punya waktu membuat identitas baru. Pernikahan memberi perlindungan hukum agar keluarganya tidak dapat mengusirku.'
'Perlindungan yang membuatku dituduh penipu dan hampir dibakar.'
Wajah Aira berubah, tetapi bukan menjadi penyesalan penuh. 'Aku tidak menyalakan api.'
'Siapa?'
'Orang yang sama yang membakar klinik dulu tidak bekerja sendirian. Sebagian sudah mati, sebagian mewariskan ketakutan kepada anak-anak mereka.'
Jawaban itu terlalu luas. Maira tidak membiarkannya menjadi kebenaran hanya karena diucapkan saudara kembar.
'Apa bukti Rendra menenggelamkan Bima?'
Aira membuka tas dan menaruh tablet di meja. Video memperlihatkan Bima berbaring pada ranjang perawatan. Rambutnya dipotong pendek, sisi wajahnya diperban, tetapi mata dan suaranya jelas.
'Kapal itu diledakkan setelah kami turun di Dermaga Nila,' kata Aira. 'Bima pindah ke perahu kecil untuk menemui sumber. Perahu kedua diserang. Ratih menemukan dia dua hari kemudian di klinik pesisir.'
Tanggal video menunjukkan tujuh belas hari setelah ledakan.
Dalam rekaman, Bima berusaha duduk. 'Aira, jangan hubungi rumah. Ren mengetahui jalur Nila. Aku belum tahu apakah dia mengirim koordinat salah atau seseorang memakai aksesnya.'
Video berhenti.
'Dia tidak menuduh Rendra,' kata Maira. 'Dia mengatakan belum tahu.'
'Lihat berikutnya.'
Aira memperlihatkan formulir pemindahan pasien dari Rumah Purnama enam minggu setelah ledakan. Nama pasien ditulis Bram Pradana. Pada kolom penanggung jawab ada paraf RA dan nomor pegawai kantor CEO Adiprana.
'Rendra menemukan Bima di sini,' katanya. 'Dia memindahkannya malam-malam. Setelah itu aku tidak pernah melihat suamiku lagi.'
Maira memotret formulir dengan perangkat yang diberikan Nadia. 'Paraf dapat dipalsukan. Nomor pegawai dapat dicuri.'
'Kau membelanya karena dia menarikmu dari api?'
'Aku menolak menuduh orang hanya karena sebuah kertas menyuruhku.'
Ratih tersenyum tipis dari kursi roda. 'Benar-benar anak Lestari.'
Suara mobil terdengar di halaman. Aira berdiri cepat. 'Kau membawa polisi.'
'Mereka tidak akan masuk kalau kita tetap aman.'
'Kau tidak pernah berniat memercayaiku.'
'Aku datang. Sekarang tunjukkan identitasmu dan ikut melakukan tes.'
Aira menatap kotak gelang, lalu Maira. Untuk sesaat, kemarahan pada wajahnya runtuh dan menyisakan kelelahan seorang perempuan yang hidup terlalu lama dengan nama pinjaman.
'Bima mengatakan kau akan memilih bukti daripada saudaramu.'
'Bukti mencegah kita saling memakai.'
Lampu padam. Maira mengucapkan kata api dengan keras, meski tidak mencium asap. Tim bergerak dari luar. Dalam gelap, kursi roda berderit dan kaca pecah di ruangan belakang.
Saat lampu darurat menyala, Aira serta Ratih telah hilang melalui pintu servis. Kotak replika masih berada di tangan Maira. Tablet dibawa pergi, tetapi satu lembar tertinggal di bawah meja.
Itu foto cetak Bima di ranjang Rumah Purnama, dengan tanggal tujuh belas hari setelah dunia menyatakan ia mati.
Nadia membungkus foto di hadapan Maira dan mencatat bahwa pintu servis mengarah ke saluran lama di belakang kebun. Tim menemukan jejak roda kursi, dua pasang kaki, serta kendaraan yang sudah menunggu. Tidak ada darah atau tanda bahwa Ratih dibawa dengan paksa.
Maira menyerahkan replika gelang untuk diperiksa. Aira tidak menyentuhnya. Pertemuan itu belum menghasilkan DNA, tetapi kamera tubuh Maira merekam wajah dan suara saudara yang selama tiga puluh tahun hanya ada sebagai angka kedua.
Di belakang foto, ada tulisan tangan Bima.
Rendra datang malam itu. Jangan biarkan kakakku membawaku pulang.