Teknisi memerlukan tiga jam untuk menyalin cakram tanpa mengubah waktu akses. Selama itu, Maira duduk di ruang pemeriksaan kantor polisi dengan pakaian yang masih berbau asap. Rendra menunggu di kursi seberang, cukup jauh agar kehadirannya tidak menjadi tuntutan untuk bicara.
Pelacak dari tas hotel terletak di dalam kantong bukti di meja Nadia.
'Perangkat ini dipasang pada seluruh tas tamu berisiko tinggi,' kata Rendra. 'Tetapi Maira tidak pernah diberi tahu. Tanggung jawabnya milikku.'
'Kapan terakhir perangkat mengirim lokasi?' tanya Nadia.
'Saat aku membukanya di luar gudang.'
'Siapa dapat mengakses?'
'Kepala keamanan dan aku.'
Nadia meminta daftar akses lengkap. Rendra memberikannya tanpa menyentuh perangkat. Maira menghargai bahwa ia tidak mencoba menyebut tindakan itu perlindungan, tetapi rasa diawasi tetap melekat seperti asap pada rambutnya.
'Aku akan pindah dari rumah Menteng setelah polisi selesai memeriksa,' kata Maira.
Rendra mengangguk. 'Aku dapat menyediakan tempat lain tanpa sistem perusahaan.'
'Aku yang memilih tempatnya.'
'Baik.'
Percakapan berhenti ketika teknisi membawa layar tambahan. Cakram berisi dokumentasi proyek Surabaya yang utuh. Video memperlihatkan Maira bekerja di museum pada tanggal akta dari pukul delapan pagi hingga hampir tengah malam, dengan beberapa saksi masuk dan keluar ruangan.
Di bawah folder tersebut ada partisi tersembunyi bernama DN-C7. Isinya satu berkas video serta rekaman teks yang menunjukkan data disalin tiga hari setelah kapal Bima meledak.
Nama pengguna yang melakukan penyalinan adalah Lestari Savitri.
Maira mendekat. 'Ibu bahkan tidak mahir memasang aplikasi baru.'
'Nama pengguna bukan bukti dia sendiri yang menyalin,' Nadia mengingatkan. 'Dari mana cakram ini berasal?'
'Studio menyimpan puluhan cakram proyek. Danu mengelola cadangan dan Ibu memegang kunci lemari.'
Video Dermaga Nila dimulai pukul sembilan lewat empat puluh tiga. Gambar kehijauan memperlihatkan dermaga kecil, gudang es, dan tiga perahu. Hujan membuat wajah siapa pun sulit dikenali.
Pada menit kedua, kapal Bima memasuki bingkai. Lampu buritannya berkedip dua kali. Seorang perempuan turun lebih dahulu dengan kerudung gelap. Tinggi serta geraknya menyerupai Aira dalam video perkawinan.
Bima turun di belakangnya.
Maira menahan napas. Waktu kamera menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh enam, dua menit setelah transponder kembali aktif di sekitar Dermaga Nila. Bima masih hidup dan kapalnya belum meledak.
Perempuan itu menyerahkan kantong tahan air kepada seseorang yang berdiri di luar jangkauan lampu. Hanya ujung tongkat serta sepatu putih orang ketiga terlihat. Bima menunjuk ke arah kamera. Layar segera dipenuhi gangguan.
Ketika gambar kembali dua puluh sembilan detik kemudian, kapal sudah bergerak menjauh. Bima dan perempuan itu tidak terlihat di dermaga.
'Apakah mereka kembali naik?' tanya Maira.
'Bagian yang menjawab hilang,' kata teknisi. 'Bukan kerusakan acak. Dua puluh sembilan detik diganti pola statis.'
Nadia meminta kamera lain, tetapi Dermaga Nila sudah ditutup setahun lalu dan pengelolanya bangkrut. Salinan dalam cakram mungkin satu-satunya rekaman yang tersisa.
Rendra menunjuk pantulan pada pintu gudang es. 'Ada kendaraan di belakang kamera.'
Teknisi memperbesar bidang logam. Bentuk mobil tampak terbalik, termasuk garis putih pada pintu yang menyerupai armada hotel Adiprana.
'Kendaraan keluarga dipakai puluhan orang,' kata Rendra sebelum Galih dapat dijadikan kesimpulan tanpa bukti. 'Kita perlu nomor unit.'
Maira mengarahkan cahaya layar lebih rendah. Pada pantulan, hanya dua angka terakhir pelat tampak: empat dan delapan.
Angka itu kembali muncul. Kamar, nomor pegawai Lestari, dan kini kendaraan di dermaga.
'Bisa saja nomor unit, bukan pelat,' katanya. 'Jangan menganggap semua angka berkaitan hanya karena sama.'
Nadia mengangguk. 'Kami periksa daftar armada.'
Danu dibawa masuk untuk mengidentifikasi cakram. Ia mengatakan menemukan tulisan Dermaga Nila pagi itu setelah cairan dari alat asap mengenai label. Ia tidak tahu siapa membuat partisi tersembunyi, tetapi mengingat Lestari pernah memindahkan cakram tersebut dari lemari kerja ke brankas pribadi.
'Kenapa Anda dapat mengambilnya?' tanya Nadia.
'Saya punya kode brankas.'
'Tanpa sepengetahuan Maira?'
Danu menunduk. 'Ya.'
Maira tidak bertanya lagi. Setiap jawaban Danu hanya menunjukkan berapa banyak pintu hidupnya yang pernah ia buka untuk lelaki itu.
Pemeriksaan rekening Nawasena Data menghasilkan alamat kantor kosong. Direktur tercatat bernama Ratih Kusuma, perawat yang disebut Laras. Usianya kini enam puluh delapan tahun. Tanda tangan pendirian perusahaan dibuat tujuh tahun lalu, tetapi nomor identitas Ratih dinyatakan meninggal tiga belas tahun sebelumnya.
'Orang mati lagi,' kata Maira.
'Atau identitas orang yang dibuat mati,' jawab Nadia.
Data kependudukan menyebut Ratih meninggal akibat gagal jantung di Semarang. Tidak ada foto jenazah karena keluarga meminta pemakaman cepat. Pelapor kematian adalah Yayasan Purnama Sehat, badan yang dahulu mengelola klinik bersalin di kamar 408.
Yayasan itu seharusnya dibubarkan setelah kebakaran.
Rendra menelepon tim hukum untuk mencari akta yayasan. Nadia menghentikannya sebelum sambungan terjadi.
'Mulai sekarang, keluarga Anda tidak melakukan pencarian internal tanpa salinan untuk penyidik. Seseorang memakai akses perusahaan berulang kali.'
Rendra memutus panggilan. 'Saya setuju.'
Teknisi kemudian menemukan berkas suara sangat kecil di ujung partisi. Durasi sebelas detik. Tanggalnya sama dengan video Dermaga Nila. Suara Lestari terdengar lelah dan terburu-buru.
'Aira, kalau kau menerima ini, jangan kembali ke kamar. Bawa Bima ke Ratih. Maira tidak boleh tahu sebelum aku bisa menjelaskan sendiri.'
Rekaman berakhir dengan bunyi pintu dibanting.
Maira memejamkan mata. Ibunya mengetahui Aira hidup. Bahkan setelah akta dicatat dan Bima membawa Aira ke Dermaga Nila, Lestari masih membantu mereka.
Ia meminta mendengar rekaman sekali lagi. Pada latar belakang terdapat bunyi lonceng kecil serta pengumuman kereta. Teknisi membandingkannya dengan arsip stasiun dan menemukan pola nada yang dahulu dipakai Stasiun Tawang. Lestari kemungkinan merekam pesan di Semarang, bukan Jakarta.
'Ibu pernah bilang pergi merawat sepupu selama satu minggu,' kata Maira. 'Waktunya sekitar ledakan. Aku tidak pernah meminta alamat karena sedang mengejar tenggat museum.'
Rasa bersalah muncul, tetapi ia menolaknya sebagai kesimpulan palsu. Seorang anak dewasa tidak wajib mencurigai setiap perjalanan ibunya. Rahasia itu dibuat oleh Lestari serta orang-orang yang menekannya, bukan oleh pertanyaan yang lupa diajukan Maira.
Teknisi memeriksa apakah suara Lestari ditempel pada video. Derau ruang, frekuensi pintu, dan cap waktu menunjukkan berkas direkam terpisah lalu disimpan pada menit sama. Orang yang membuat partisi mengetahui kedua bukti berkaitan, tetapi tidak mengubah isi.
Danu mengaku Lestari pernah meminta ia mengajarkan cara menyembunyikan folder. Ia mengira perempuan itu ingin melindungi surat pelanggan. Pengakuan tersebut membuat penyidik menambahkan Danu sebagai saksi sumber, bukan mengurangi tuduhan penjualan identitas.
Nadia mengingatkan Maira bahwa keterlibatan Lestari dapat memiliki lebih dari satu arti. Ia mungkin menolong Aira, membantu Bima, menyembunyikan kejahatan, atau mencoba memperbaiki keputusan lama. Bukti saat ini belum memilih salah satunya.
'Mengapa Ibu tidak pernah menjelaskan?' tanyanya, bukan kepada siapa pun.
Nadia memeriksa gelombang suara. 'Kita belum tahu apakah pesan ini pernah terkirim.'
Ponsel Rendra berbunyi. Kepala keamanan mengirim daftar lama armada hotel. Kendaraan dengan nomor unit 48 adalah mobil milik direktur keuangan pada tahun ledakan.
Pemakainya tercatat Galih Adiprana.
Namun pada malam itu, formulir peminjaman kendaraan ditandatangani oleh Lestari Savitri.