"Kalian siapa?" Pak Darto melangkah maju, mencoba terdengar tegas meski suaranya bergetar.
Lelaki plontos itu tak menggubrisnya. Matanya terpaku pada Arga. "Bos nyariin kamu seminggu, Bocah. Utang bapakmu nggak bakal lunas cuma karena dia mati."
"Saya bukan bapak saya," kata Arga, mundur selangkah.
"Tapi darahnya darah kamu. Dan utang darah dibayar darah." Lelaki itu melangkah maju. "Tujuh puluh juta. Atau kamu kerja buat Bos sampai lunas."
Bima berdiri di antara mereka tanpa sadar. Tubuhnya bergerak sendiri, posisi yang sudah tertanam dalam tulangnya. Kuda-kuda. Berat badan seimbang. Tangan setengah terangkat.
"Sasana mau tutup," kata Bima tenang. "Kalian salah tempat."
Plontos itu menatapnya, lalu tertawa. "Wah, ada pahlawan. Minggir, Om. Ini urusan bisnis."
"Bocah ini di sasana saya. Itu bikin jadi urusan saya."
Salah satu dari tiga lelaki itu, yang bertubuh paling besar, melangkah maju dan mengayunkan tinjunya ke wajah Bima. Pukulan jalanan, lebar, penuh tenaga tapi tanpa arah.
Bima bahkan tak perlu berpikir. Kepalanya bergeser, pukulan itu lewat, dan tangan kanannya melepaskan satu jab ke ulu hati lelaki besar itu. Hanya satu. Tapi lelaki itu langsung tertekuk, jatuh berlutut, memuntahkan isi perutnya ke lantai.
Ruangan hening. Bahkan hujan di luar seperti menahan napas.
Plontos itu tak lagi tersenyum. Ia menatap Bima dengan ekspresi berbeda sekarang—bukan takut, tapi penasaran. Ia memandang tubuh Bima, posisinya, cara ia memukul.
"Tunggu," katanya pelan. "Saya kenal kamu. Kamu... Bima Aditya. Si Palu Garuda." Ia tertawa, kali ini ada kekaguman aneh di dalamnya. "Astaga. Mantan juara nasional yang bunuh lawannya di ring. Kamu jadi tukang pel sasana sekarang?"
Bima tak menjawab. Rahangnya mengeras mendengar julukan itu. Si Palu Garuda. Julukan yang dulu ia banggakan, sekarang terasa seperti kutukan.
"Bos pasti suka denger ini," lanjut plontos itu, mundur perlahan sambil menyeret rekannya yang masih kesakitan. "Oke, Om Juara. Kami pergi malam ini. Tapi soal utang bocah ini—" ia menunjuk Arga, "—itu belum selesai. Tujuh puluh juta, tiga hari lagi. Kalau nggak ada uang..."
Ia menatap Bima dengan senyum licik.
"...mungkin kita bisa atur cara lain buat lunasin. Cara yang lebih... menghibur."
Mereka pergi, meninggalkan bau ancaman di udara. Pintu menutup, dan hujan kembali terdengar.
Arga terduduk di lantai, gemetar. Bukan karena dingin.
"Bapak saya," katanya lirih, tanpa diminta, "pinjam uang ke rentenir buat berobat ibu saya. Tapi ibu meninggal duluan. Terus bapak juga, kecelakaan tahun lalu. Utangnya jatuh ke saya." Ia mengepalkan tangan. "Mereka mau saya berkelahi di tinju bawah tanah buat lunasin. Tapi saya nggak bisa berkelahi. Makanya saya cari kamu."
Bima menatap bocah itu lama. Tinju bawah tanah. Ia tahu tempat itu. Dunia gelap tempat orang-orang putus asa bertarung sampai salah satu tak bisa berdiri, di mana taruhan mengalir lebih deras dari darah, dan nyawa cuma angka di buku judi.
Tempat yang sama yang dulu hampir menelannya sebelum ia jadi juara.
"Pak Darto," kata Bima pelan. "Buka gudang. Yang ada peralatan latihan lama."
Pak Darto mengangkat alis. "Bima, kamu—"
"Tiga hari," potong Bima. Ia menatap Arga. "Saya nggak bisa bikin kamu jago dalam tiga hari. Tapi saya bisa bikin kamu cukup kuat buat nggak mati. Itu pun kalau kamu sanggup ikut cara saya."
Untuk pertama kalinya, mata Arga berbinar dengan sesuatu selain amarah. Harapan.
"Saya sanggup," katanya.
Bima mengangguk. Dalam hatinya, sesuatu yang sudah lama mati mulai bergerak lagi. Entah itu kutukan atau kesempatan, ia belum tahu.