Pukul empat pagi. Langit masih hitam ketika Bima menggedor pintu kamar belakang sasana tempat Arga tidur semalam.
"Bangun. Lari."
Arga mengerang. "Masih gelap—"
"Pukul empat itu jam latihan. Lawan-lawan kamu tidur sekarang. Itu artinya kamu menang sebelum mereka bangun." Bima melempar sepatu lari butut ke arahnya. "Sepuluh kilometer. Ikuti saya."
Mereka berlari menembus kota yang masih sepi. Bima di depan, langkahnya stabil dan tenang meski tiga tahun absen. Arga tertatih di belakang, paru-parunya seperti terbakar dalam dua kilometer pertama, kakinya seperti diikat batu di kilometer kelima.
"Saya... nggak kuat...," ia terbungkuk, memuntahkan air ke selokan.
Bima berhenti, menoleh tanpa kasihan. "Kamu mau hidup atau mati, Arga? Di ring nanti, nggak ada yang berhenti karena kamu capek. Lawan kamu bakal terus mukul sampai kamu nggak bangun. Capek itu pilihan. Berdiri."
Ada sesuatu dalam suara Bima yang membuat Arga berdiri. Bukan kelembutan. Sebaliknya, kekerasan yang justru terasa seperti perhatian. Mereka melanjutkan lari, lebih lambat, tapi tak berhenti lagi.
Kembali di sasana, matahari baru saja muncul. Bima tak memberi Arga waktu istirahat.
"Skipping. Tiga ratus lompatan."
"Saya baru lari sepuluh kilo—"
"Dua ratus tambahan karena protes."
Arga menggertakkan gigi, mengambil tali skipping. Kakinya kacau, tali tersangkut berkali-kali. Bima mengamati dari samping, lengannya bersedekap.
"Tinju itu bukan soal tangan," katanya. "Tinju itu soal kaki. Tenaga datang dari tanah, naik lewat kaki, pinggang, baru ke tinju. Kalau kaki kamu lambat, pukulan kamu cuma elusan. Lihat."
Bima mengambil tali skipping yang lain. Tubuh besarnya tiba-tiba bergerak ringan, kaki melompat dengan irama hipnotis, tali berputar begitu cepat sampai hanya terdengar seperti dengung. Arga menatap dengan mulut terbuka.
"Tubuh kamu itu senjata," lanjut Bima sambil terus melompat. "Tapi senjata tumpul cuma bikin kamu mati lebih lama. Saya bikin kamu jadi senjata tajam. Itu butuh sakit. Banyak sakit."
Siang hari, Bima mengajarkan kuda-kuda. Berjam-jam Arga harus menahan posisi yang sama, lutut sedikit ditekuk, berat seimbang, sampai pahanya bergetar dan air mata menetes karena nyeri.
"Salah." Bima menendang pelan kaki belakang Arga. "Tumit kamu jangan menempel. Kamu harus selalu siap bergerak. Petinju yang berdiri diam itu petinju yang mati."
Sore hari, baru pukulan. Tapi bukan ke samsak. Bima memegang dua pad di tangannya.
"Jab. Cuma jab. Seribu kali."
"Seribu?"
"Jab itu nyawa kamu. Jab itu yang jaga jarak, yang baca lawan, yang buka pertahanan. Petinju amatir suka pukulan keras yang bikin keren. Petinju beneran cinta sama jab." Bima mengangkat pad. "Mulai."
Arga memukul. Sekali, sepuluh kali, seratus kali. Lengannya mati rasa. Keringatnya membanjiri lantai. Tapi pelan-pelan, pukulannya mulai berubah. Lebih lurus. Lebih cepat. Putaran pinggang mulai masuk.
Di pukulan ketujuh ratus, untuk pertama kalinya, pad di tangan Bima berbunyi nyaring. *Plak.* Pukulan bersih, bertenaga, dengan teknik yang benar.
Bima menurunkan pad. Untuk sepersekian detik, sudut bibirnya hampir terangkat.
"Itu," katanya pelan. "Itu jab."
Arga, dengan napas tersengal dan tubuh hancur, tersenyum lebar untuk pertama kalinya. "Saya bisa lagi."
"Tiga ratus lagi. Terus tidur. Besok kita ulang semuanya dari awal."
Malam itu, setelah Arga tertidur kelelahan, Bima duduk sendirian di ring kosong sasana. Ia menatap tangannya, tangan yang sama yang dulu merenggut nyawa sahabatnya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia mengeluarkan sepasang sarung tinju lamanya dari tas usang. Kulitnya retak, baunya apek.
Ia menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia menyelipkan tangannya ke dalam.
Pas. Seperti tak pernah dilepas.