Bocah itu datang ketika hujan paling deras. Pintu sasana terbuka dengan kasar, membawa serta angin dan air. Seorang remaja berdiri di ambang pintu, basah kuyup, napasnya memburu. Usianya mungkin tujuh belas, tubuhnya kurus tapi liat, dan di pelipisnya ada luka lebam yang masih segar.
"Saya cari Bima," katanya, suaranya keras meski gemetar kedinginan. "Mantan juara nasional. Orang bilang dia di sini."
Pak Darto yang sedang menutup kasir menatapnya curiga. "Sasana mau tutup, Dik. Besok aja."
"Saya nggak butuh sasana. Saya butuh Bima." Bocah itu melangkah masuk, sepatunya berdecit di lantai basah. "Suruh dia latih saya."
Bima keluar dari ruang belakang, menyeka tangan dengan lap. Ia menatap bocah itu dari ujung kepala sampai kaki. Postur kuda-kuda yang salah. Bahu terlalu tegang. Tapi ada sesuatu di matanya yang Bima kenali—kemarahan yang membara, jenis kemarahan yang membuat orang sanggup melakukan hal-hal bodoh.
"Saya nggak melatih siapa-siapa," kata Bima.
"Kenapa? Katanya kamu yang terbaik."
"Katanya." Bima melempar lap ke pundaknya. "Pulang sana. Hujan deras."
Bocah itu tak bergerak. Sebaliknya, ia mengangkat kedua tangannya, kepalan terkepal canggung, dan melangkah maju. "Lawan saya. Kalau saya kalah, saya pergi. Kalau kamu kalah, kamu latih saya."
Pak Darto hampir tertawa. Bima tidak. Ia melihat sesuatu di bocah ini yang membuat dadanya terasa aneh. Sesuatu yang familiar.
"Siapa namamu?"
"Arga."
"Arga." Bima mengangguk pelan. "Kenapa kamu mau jadi petinju, Arga?"
Bocah itu terdiam sejenak. Tangannya yang terkepal sedikit menurun. "Itu bukan urusanmu. Lawan saya atau nggak?"
Bima menghela napas. Ia melangkah mendekat. Arga langsung melayangkan pukulan—lurus ke arah wajah Bima, cepat tapi terbaca. Bima cuma menggerakkan kepalanya sedikit ke samping. Pukulan itu melewatinya hanya beberapa sentimeter. Bocah itu kehilangan keseimbangan karena tenaganya sendiri.
Bima tidak membalas. Ia hanya berdiri, membiarkan Arga terhuyung dan menabrak samsak.
"Lagi," geram Arga, membenarkan posisinya.
Ia menyerang lagi. Hook, jab, lalu pukulan asal-asalan. Semua meleset. Bima bergerak seperti air, tanpa membalas satu kali pun, tubuh besarnya bergeser dengan keanggunan yang tak masuk akal untuk ukuran lelaki yang sudah tiga tahun tak berlatih. Tubuh tak pernah lupa apa yang sudah ribuan kali diajarkan.
Setelah lima menit, Arga jatuh berlutut, napasnya habis, keringat dan air hujan menetes dari dagunya.
"Kamu nggak punya teknik," kata Bima dingin. "Kamu cuma punya kemarahan. Dan kemarahan tanpa teknik itu cuma bunuh diri di atas ring."
"Makanya ajari saya!" teriak Arga, kepalanya masih menunduk. "Saya butuh kuat. Saya butuh kuat cepat. Saya nggak punya waktu!"
Ada nada putus asa dalam suaranya yang membuat Bima terdiam. Ia menatap luka lebam di pelipis bocah itu, jari-jari tangannya yang lecet, dan sesuatu yang lain—ketakutan yang disembunyikan di balik amarah.
"Siapa yang mukulin kamu, Arga?"
Bocah itu mendongak, matanya nyalang. "Bukan urusanmu."
Tapi sebelum Bima sempat bertanya lagi, pintu sasana kembali terbuka. Kali ini bukan angin yang masuk, melainkan tiga lelaki berbadan besar, berjaket kulit, dengan wajah yang tak menjanjikan kebaikan apa pun.
Yang paling depan, lelaki berkepala plontos dengan tato di leher, tersenyum tipis melihat Arga.
"Nah," katanya. "Ternyata di sini kamu sembunyi, Bocah."
Arga membeku. Wajahnya pucat pasi.
Dan Bima, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, merasakan adrenalin lama itu mengalir di pembuluh darahnya.