Mobil itu hitam mengilap, terlalu mahal untuk gang sempit di depan Garuda Mas. Bima sedang menutup pintu seng sasana sore itu ketika kaca belakang mobil turun perlahan, dan seorang lelaki menyembul — usia paruh baya, kulit terawat, kacamata hitam mahal, dan senyum yang terlalu lebar.
"Si Palu Garuda," kata lelaki itu, suaranya halus seperti minyak. "Lama aku nyari kamu. Naik, kita ngobrol. Sebentar aja."
Bima tidak bergerak. "Siapa?"
"Sahrul." Lelaki itu melepas kacamatanya, dan matanya tidak seramah senyumnya. "Orang panggil aku Bang Sahrul. Mungkin kamu pernah denger. Broto itu... pemain kecil. Aku main di kota, di provinsi, di tempat yang Broto cuma bisa mimpiin." Ia membuka pintu mobil dari dalam. "Naik. Aku nggak gigit. Aku mau nawarin kamu sesuatu yang ngubah hidup."
Bima menimbang sejenak. Lalu, perlahan, ia masuk — bukan karena tertarik, tapi karena ia ingin tahu sebesar apa bahaya yang sedang menatapnya. Di dalam mobil dingin oleh AC dan harum parfum mahal. Sahrul menuangkan air mineral dari botol kaca, menyodorkannya. Bima tidak menyentuhnya.
"Aku langsung aja," kata Sahrul, bersandar nyaman. "Video kamu ngalahin Gento itu — sepuluh ribu, dua puluh ribu, sekarang udah ratusan ribu yang nonton. Kamu tahu apa artinya buat orang kayak aku? Itu artinya uang. Kamu bintang, Bima. Petarung yang udah lama mati, bangkit, ngalahin monster yang nggak terkalahin tiga tahun. Itu cerita yang dibeli orang."
"Aku nggak jualan," kata Bima.
Sahrul tertawa kecil, seakan itu lucu. "Semua orang jualan. Cuma harganya beda." Ia mencondongkan badan. "Aku tawarin kamu satu kontrak. Kamu naik ring buat aku — bukan gudang busuk kayak Broto, tapi venue yang bener, penonton bayar mahal, taruhan gede, semua diatur. Sekali tanding, kamu dapet lebih banyak dari yang Pak Darto kumpulin seumur hidup ngurus sasana ini." Matanya menyapu pintu seng yang reyot, cat yang mengelupas. "Lihat tempat kamu, Bima. Bocor. Reyot. Lampunya mati. Aku bisa kasih kamu uang buat benerin semua ini sepuluh kali. Buat Pak Darto. Buat muridmu. Buat masa depanmu."
Untuk sesaat — hanya sesaat — Bima merasakan tarikannya. Lampu neon sasana yang mati bertahun-tahun. Atap yang bocor saat hujan. Pak Darto yang menua tanpa jaminan. Arga yang butuh peralatan, butuh biaya turnamen, butuh segalanya. Uang Sahrul bisa menyelesaikan semua itu dalam semalam.
Lalu ia teringat ranjang kosong di klinik Maya. Seprai kusut. Anak tujuh belas tahun yang tak pulang.
"Venue yang bener," ulang Bima pelan. "Taruhan gede. Penonton bayar mahal." Ia menatap Sahrul. "Itu cuma gudang Broto yang lebih bersih. Tetep ring buat orang kaya bertaruh atas darah orang miskin."
Senyum Sahrul menipis sedikit. "Kamu mikirnya terlalu rumit."
"Aku udah lihat ujungnya." Bima membuka pintu mobil. "Aku udah lihat anak-anak yang naik ring buat orang kayak kamu. Aku lihat mereka di klinik. Buta. Lumpuh. Mati. Kamu tahu kenapa video aku ditonton ratusan ribu orang?" Ia menatap Sahrul dingin. "Karena tiap satu yang nonton dan ngerasa keren, ada satu anak miskin yang mutusin naik ring biar jadi kayak aku. Dan separuh dari mereka nggak pulang. Aku nggak mau jadi umpan buat itu."
Ia turun dari mobil. Tapi sebelum menutup pintu, Sahrul memanggilnya, dan kali ini suaranya sudah kehilangan minyaknya, berubah dingin dan datar.
"Bima. Aku ngasih kamu kesempatan baik-baik." Mata Sahrul menyipit. "Orang yang nolak aku biasanya... nyesel. Bukan karena aku jahat. Tapi karena bisnis itu nggak suka sama orang yang berdiri di tengah jalan." Ia memasang kembali kacamatanya. "Kamu lagi ngumpulin sesuatu soal Broto, kan? Aku denger. Hati-hati, Palu Garuda. Pohon yang kamu goyang itu, akarnya lebih dalam dari yang kamu kira. Dan aku — aku ada di akarnya."
Kaca mobil naik perlahan. Mesin menyala. Mobil hitam itu meluncur keluar gang, meninggalkan Bima berdiri sendirian di senja, harum parfum mahal masih menempel di bajunya seperti racun.
Ia masuk ke sasana, menutup pintu seng, dan untuk waktu yang lama berdiri di kegelapan di bawah lampu neon yang mati. Ia menolak Sahrul, dan ia tahu itu benar. Tapi ia juga tahu — dengan kepastian dingin yang menjalar di tengkuknya — bahwa ia baru saja menanam benih bahaya yang jauh lebih besar dari Broto.
Pohon yang ia goyang, akarnya memang lebih dalam dari yang ia kira.