Bonus kemenangan dari pertarungan Gento — uang yang dulu Bima sentuh dengan jijik karena datang dari dunia Broto — ternyata masih tersisa, terlipat di amplop cokelat yang ia simpan di balik foto juara berdebu. Bima tidak pernah ingin menyentuhnya. Tapi Sinta meyakinkannya satu sore.
"Uang itu udah kotor pas masuk ke tangan kamu," kata Sinta. "Tapi kamu bisa bikin dia berarti dengan ngubahnya jadi sesuatu yang bersih. Pakai buat sasana. Buat anak-anak. Itu cara terbaik bales dunia Broto — pakai uangnya buat lawan dia."
Maka, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Garuda Mas diperbaiki.
Sinta membawa kenalan tukang. Hendra menyumbang dua samsak bekas klubnya yang masih layak. Gento — yang ternyata pernah jadi kuli bangunan sebelum jatuh ke ring — memanjat tangga reyot dengan tubuh raksasanya dan menambal atap yang bocor, papan demi papan, sampai hujan tak lagi menetes ke matras. Arga mengecat dinding utara dengan cat putih murah, dan di sela-sela mengecat, ia menulis dengan kuas, kecil di pojok bawah, dua kata: tetap berdiri.
Pak Darto duduk di bangkunya, mengawasi semua itu dengan mata tua yang berkaca-kaca. "Tiga tahun," gumamnya pada Bima yang lewat membawa kaleng cat. "Tiga tahun tempat ini sekarat pelan-pelan. Aku udah pasrah. Aku kira aku bakal mati duluan sebelum lampunya nyala lagi."
Bima berhenti. Ia ingat malam pertama Arga datang, hujan deras, dan lampu neon di langit-langit sasana berkedip lalu mati, meninggalkan mereka dalam kegelapan. Lampu itu sudah mati bertahun-tahun. Bima tak pernah repot menggantinya — kegelapan terasa pantas untuk mayat hidup.
Sore itu, pekerjaan terakhir. Gento memegang tangga, Bima naik dengan lampu neon baru di tangan. Ia melepas tabung lama yang berdebu dan hangus di ujungnya, memasang yang baru, lalu turun. Arga berdiri di dekat sakelar, tangannya di tombol, menunggu.
"Nyalain," kata Bima.
Klik.
Lampu neon itu berkedip sekali — ragu, seperti sesuatu yang sudah lama lupa caranya menyala — lalu menyambar terang, memenuhi seluruh ruangan dengan cahaya putih yang jujur. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Garuda Mas terang benderang. Setiap sudut yang dulu tersembunyi dalam bayang kini terlihat: matras yang sudah ditambal, samsak baru yang menggantung, dinding yang dicat putih, dan di salah satunya, foto juara berdebu Bima yang kini sengaja dibiarkan tergantung — tidak lagi di balik bayang.
Mereka semua berdiri diam, terpaku pada cahaya itu. Pak Darto menyeka matanya dengan punggung tangan. Gento, raksasa bertato itu, menengadah ke lampu dengan ekspresi seperti anak kecil. Sinta tersenyum di ambang pintu. Arga, tangannya masih di sakelar, tertawa pendek, takjub.
"Terang," kata Arga pelan, seolah baru menemukan kata itu.
Bima menatap cahaya neon itu, dan sesuatu di dadanya yang sudah lama membeku terasa retak — bukan karena sakit, tapi karena mencair. Lampu yang menyala. Hal sekecil itu. Tapi baginya, itu seperti melihat dirinya sendiri kembali menyala setelah tiga tahun gelap.
Kabar menyebar cepat di kampung. Dalam beberapa hari, anak-anak mulai berdatangan lagi — bocah-bocah kurus dari gang sekitar yang dulu mengintip dari pintu lalu pergi karena sasana terasa seperti makam. Sekarang mereka masuk, tertarik oleh cahaya dan suara samsak dipukul. Bima mengajari mereka cara mengepalkan tangan tanpa melukai pergelangan, cara berdiri — kaki dulu, tenaga dari tanah. Sasana yang dulu sunyi kini berisik oleh teriakan latihan dan tawa anak-anak.
Malam harinya, setelah semua pulang, Bima berdiri sendiri di tengah ring di bawah lampu neon yang menyala. Ia menengadah, membiarkan cahaya itu menimpa wajahnya, dan untuk pertama kalinya sejak final tiga tahun lalu, ia tidak merasa seperti mayat hidup.
Tapi di sudut benaknya, suara dingin Sahrul masih bergema. Pohon yang kamu goyang, akarnya lebih dalam dari yang kamu kira. Dan di gudang dekat pelabuhan, Bima tahu, Broto sedang menatap kabar tentang sasana yang bangkit ini, kabar tentang Palu Garuda yang menyala kembali — dan tidak suka.
Kebahagiaan ini terang. Tapi yang terang, Bima sadar, juga jadi sasaran yang paling mudah dibidik dalam gelap.
Ia mematikan lampu. Ruangan kembali gelap, tapi kali ini berbeda — ia tahu sakelarnya ada, ia tahu cahayanya nyata. Ia menutup pintu seng sasana, dan melangkah pulang di bawah langit malam, menyiapkan diri untuk badai yang ia tahu sedang datang.