"Aku mau buktiin sesuatu," kata Sinta, menggelar map-map tebal di atas meja sasana yang reyot. "Buat Arga, dan buat kamu."
Bima menatap tumpukan kertas itu. "Apa?"
"Rekam medis Reza." Sinta membuka map paling atas. "Aku jurnalis, Bima. Aku bisa akses arsip yang orang lain nggak bisa. Kalau aku bisa nemuin bukti tertulis bahwa pembuluh darah otak kakakku itu kondisi bawaan — bukti hitam di atas putih dari dokter — maka secara medis, secara hukum, secara apa pun, jelas: pukulan kamu bukan penyebab. Cuma pemicu yang bisa terjadi kapan aja."
Bima duduk perlahan. Selama tiga tahun, semua orang mengatakan ini padanya — para dokter, Pak Darto, Sinta sendiri. Tapi kata-kata bisa diabaikan, bisa ditolak oleh rasa bersalah yang keras kepala. Dokumen tidak bisa. Dokumen adalah fakta yang tak bisa dibantah oleh suara di kepalanya yang berbisik pembunuh setiap malam.
"Kenapa sekarang?" tanya Bima.
Sinta menatapnya, matanya tajam tapi lembut. "Karena kamu lagi bawa Arga ke ring. Dan aku nggak mau kamu berdiri di sudut ring sambil masih percaya kamu pembunuh. Anak itu butuh pelatih yang utuh, bukan yang setengah hidup." Ia menarik napas. "Dan karena... kakakku layak namanya dibersihin juga. Reza bukan korban kecerobohan. Dia korban kondisi yang harusnya ketahuan lebih awal."
Mereka mulai menggali. Sinta sudah mengumpulkan banyak — surat rujukan, catatan rumah sakit tempat Reza dirawat semasa remaja, bahkan resep obat lama. Semua mengarah ke satu kesimpulan: ada riwayat, ada tanda-tanda, ada catatan dokter yang mencurigai kelainan pembuluh darah sejak Reza muda. Tapi satu dokumen — yang paling penting, hasil pemeriksaan terakhir sebelum final, yang seharusnya disimpan promotor dan komisi — hilang.
"Harusnya ada di sini." Sinta menunjuk daftar arsip. "Tiap petinju wajib cek kesehatan sebelum tanding gelar. Hasilnya disimpan komisi sama promotor. Tapi yang punya Reza... lenyap. Nggak ada di arsip komisi. Nggak ada di file promotor."
"Mungkin kebakar. Mungkin ilang aja," kata Bima.
"Atau disembunyiin." Sinta mengeluarkan secarik kertas, fotokopi buram daftar penerimaan dokumen. "Lihat ini. Dokumen Reza tercatat masuk ke komisi tiga hari sebelum final. Lalu di catatan berikutnya, hilang. Ditarik. Dan tahu siapa yang nama belakangnya muncul di kolom 'penanggung jawab penyimpanan' di periode itu?" Ia menatap Bima. "Salah satu nama yang sama yang sekarang muncul di dokumen-dokumen bisnis Broto."
Ruangan jadi dingin.
"Broto," kata Bima pelan.
"Aku belum bisa pastiin. Tapi benang merahnya ada." Sinta mengetuk kertas itu. "Orang yang ngurus penyimpanan arsip komisi tiga tahun lalu, sekarang ada di lingkaran orang yang ngelindungin operasi ring bawah tanah Broto. Dunia tinju resmi dan dunia bawah tanah itu... nggak sepenuhnya kepisah, Bima. Ada orang-orang yang main di dua tempat."
Bima berdiri, berjalan ke jendela, menatap gang sempit di luar. Kepalanya berputar. Selama ini ia mengira Broto hanya rentenir bos ring gudang — kotor, kejam, tapi kecil. Tapi kalau benang Sinta benar, kalau dokumen yang bisa membersihkan namanya selama tiga tahun memang sengaja disembunyikan oleh jaringan yang sama yang melindungi Broto sekarang...
Maka ini lebih besar dari sekadar Arga. Lebih besar dari satu gudang.
"Kalau dokumen itu ada," kata Bima tanpa menoleh, "dan ada yang sengaja nyimpennya selama tiga tahun, berarti ada yang nggak mau kebenaran soal Reza keluar."
"Pertanyaannya kenapa," sahut Sinta. "Apa untungnya buat siapa pun nyembunyiin hasil tes medis petinju yang udah meninggal?"
Bima berbalik. "Kecuali kalau ngebuka dokumen itu, kebuka juga hal lain. Siapa yang ngeloloskan Reza tanding padahal hasil tesnya bermasalah. Siapa yang dapet untung dari final yang harusnya nggak terjadi."
Mereka berdua terdiam, menyadari sesuatu yang baru saja membentang di depan mereka: pencarian satu dokumen untuk membersihkan satu nama, ternyata adalah ujung benang dari jaring yang jauh lebih besar — jaring yang mengikat malam kematian Reza, bisnis Broto, dan entah siapa lagi di balik tirai dunia tinju.
"Kita lanjut," kata Sinta, mengumpulkan map-mapnya. "Aku terusin gali. Tapi Bima — kalau benang ini bener, kita lagi narik sesuatu yang mungkin lebih bahaya dari satu gudang Broto."
Bima menatap map di tangan Sinta, di dalamnya tersimpan potongan kebenaran tentang sahabat yang ia kubur. "Tarik aja," katanya. "Aku udah capek hidup sama pertanyaan."