Bima menemukannya secara tidak sengaja.
Ia datang lebih awal ke klub Hendra untuk menjemput jadwal sparring Arga, dan pintu ruang kantor sedikit terbuka. Di dalam, Hendra sedang menelepon, suaranya rendah, punggung membungkuk. Bima hendak mengetuk, lalu berhenti ketika mendengar satu nama.
"...iya, soal Reza," kata Hendra di telepon, dan Bima membeku di ambang pintu. "Aku tahu, aku tahu. Sampai sekarang aku masih kebayang. Iya, aku yang dorong promotor waktu itu... aku yang yakinin mereka final Bima-Reza bakal laku keras..."
Bima tidak ingat membuka pintu. Tahu-tahu ia sudah di dalam, dan Hendra menoleh dengan wajah pucat, telepon masih menempel di telinga.
"Aku telepon lagi nanti," kata Hendra cepat, lalu memutus sambungan. Ia berdiri, kursinya berderit. "Bima—"
"Ulangi yang barusan." Suara Bima dingin, datar, lebih menakutkan dari teriakan. "Kamu yang dorong final itu?"
Hendra menutup matanya sejenak. Lalu ia menghela napas panjang, seperti orang yang akhirnya meletakkan beban yang telah ia gendong terlalu lama, dan ketika ia membukanya kembali, matanya basah.
"Iya," katanya. "Aku yang dorong promotor. Tiga tahun lalu, aku masih jadi penghubung promotor. Final kelas menengah, Palu Garuda lawan Reza Mahendra — dua sahabat, dua bintang. Tiket bakal terjual habis. Aku yang bilang, 'pertemukan mereka, ini emas.'" Suaranya bergetar. "Dan aku... aku sempat denger bisik-bisik. Ada yang bilang Reza pusing-pusing aneh, sering mimisan latihan. Tapi belum ada pemeriksaan resmi. Belum ada bukti. Aku pikir cuma kelelahan. Aku pikir... ah, sayang banget kalau dibatalin gara-gara rumor."
Setiap kata menghantam Bima lebih keras dari pukulan mana pun. Tangannya mengepal di samping badan. Tiga tahun ia memikul seluruh dosa itu sendirian. Tiga tahun ia menjadikan dirinya pembunuh. Dan selama itu, orang ini — rekan lamanya, kawan satu generasinya — menyimpan potongan kebenaran yang seharusnya ikut memikul.
"Kamu denger Reza sakit," kata Bima, suaranya gemetar menahan amarah, "dan kamu tetep dorong final itu biar tiket laku."
"Iya." Hendra tidak mengelak. Ia tidak mencari pembenaran. "Aku menyesal tiap hari sejak itu. Aku menjauh dari kalian semua bukan karena nggak peduli — karena aku nggak sanggup lihat muka kamu tanpa inget aku punya andil." Ia menelan ludah. "Tiap kali aku tutup mata, aku lihat Reza jatuh, dan aku tahu kalau aku berani batalin gara-gara rumor itu, dia mungkin masih hidup."
Bima maju selangkah, tangannya terangkat — bukan untuk memukul, tapi karena tubuhnya tidak tahu harus berbuat apa dengan amarah sebesar ini. Selama tiga tahun ia mencari tempat untuk meletakkan rasa bersalahnya. Dan sekarang, di depannya, ada orang yang bisa ia salahkan. Ada orang yang ikut bertanggung jawab. Itu seharusnya melegakan.
Tapi tidak.
Ia berdiri di sana, tangan terangkat, dan tiba-tiba teringat suara Sinta dari malam-malam yang lalu. Menghukum diri itu cuma cara lain buat lari. Dan ia sadar — menyalahkan Hendra juga cara lain buat lari. Memindahkan beban ke pundak orang lain tidak membuat Reza hidup kembali. Tidak menyembuhkan apa pun. Itu hanya memindahkan racun, bukan membuangnya.
Bima menurunkan tangannya.
"Hendra," katanya, dan suaranya tiba-tiba lelah, "tiga tahun aku bilang ke diriku sendiri aku pembunuh. Sekarang kamu bilang kamu juga ikut salah." Ia menggeleng pelan. "Tahu nggak yang aku rasain? Bukan lega. Karena dua orang yang nyalahin diri sendiri nggak bikin Reza balik. Cuma bikin dua orang remuk, bukan satu."
Hendra menatapnya, terkejut.
"Para dokter bilang pembuluh darahnya bisa pecah kapan aja," lanjut Bima, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Hendra. "Saat tidur. Saat lari. Saat ketawa. Pukulanku cuma kebetulan jadi pemicunya. Sama kayak rumor yang kamu abaiin." Ia menarik napas dalam. "Kita berdua nyimpen luka yang sama tiga tahun, di ruangan yang beda. Itu nggak ada gunanya buat Reza."
Untuk waktu yang lama, dua lelaki paruh baya itu berdiri berhadapan dalam ruang kantor yang sunyi, di antara mereka seorang sahabat yang telah mati dan rasa bersalah yang telah membusuk terlalu lama.
"Aku belum maafin kamu," kata Bima akhirnya, jujur. "Aku belum bisa. Tapi aku juga capek nyari orang buat disalahin. Termasuk diriku sendiri." Ia berbalik ke pintu. "Bantu aku selesain yang sekarang. Bawa Arga ke jalur yang bener. Itu yang Reza bakal mau."
Ia keluar tanpa menunggu jawaban. Di belakangnya, Hendra duduk kembali ke kursinya, menutup wajah dengan kedua tangan, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia membiarkan dirinya menangis.