Klub Hendra berlatih di gedung yang jauh lebih baik dari Garuda Mas — lantai matras utuh, dua ring berukuran standar, deretan samsak baru, dan belasan atlet amatir yang sudah bertahun-tahun digembleng dengan disiplin. Arga berdiri di pintu dengan head guard di tangan, dan untuk pertama kalinya ia merasa kecil.
"Lawan kamu hari ini Fikri," kata Hendra. "Amatir tiga tahun. Sopan, tapi jangan diremehin."
Fikri menyalami Arga dengan ramah, senyum lebar, lalu naik ke ring. Bima berdiri di sudut Arga, menutup head guard muridnya, dan berbisik, "Inget. Jarak. Jab. Jangan diburu emosi. Ini cuma sparring, bukan perang."
Arga mengangguk, tapi Bima melihat rahangnya mengencang. Bocah itu masih membawa gudang di tubuhnya.
Bel berbunyi.
Arga maju seperti biasa — agresif, ingin mengakhiri cepat. Dan Fikri, yang lebih tenang, hanya mundur, melangkah ke samping, melepas jab tipis yang mendarat di head guard Arga. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Arga mengayun balik dengan kemarahan, tapi pukulannya menghantam udara di tempat Fikri sedetik lalu berdiri.
"Footwork, Arga!" teriak Bima dari sudut. "Kaki!"
Tapi Arga tidak mendengar. Ia memburu, dan semakin ia memburu, semakin ia membuka diri. Fikri membacanya seperti membaca buku terbuka — jab, jab, geser, counter ke ulu hati. Arga terbatuk, kuda-kudanya goyah. Ronde pertama belum selesai dan ia sudah memburu napas, sementara Fikri masih bernapas mulus, masih tersenyum kecil di balik head guard-nya.
Bel ronde dua. Arga, malu dan marah, maju lebih nekat. Itu kesalahan terbesarnya. Fikri menggeser, melepas kombinasi bersih — satu-dua ke head guard, lalu hook ke badan — dan Arga terhuyung ke tali. Bukan karena pukulannya keras. Tapi karena setiap pukulan Fikri mendarat dan setiap pukulan Arga meleset. Di ring berpoin, itu adalah kekalahan telak.
Saat bel ronde tiga berbunyi, Arga sudah babak belur bukan oleh luka tapi oleh malu. Pukulannya melambat. Fikri, masih sopan, menahan diri, tidak mempermalukannya lebih jauh. Itu justru lebih menyakitkan — ia dikasihani.
Bel akhir. Wasit mengangkat tangan Fikri. Telak, semua orang tahu. Arga melepas head guard-nya, melemparnya ke kanvas, dada turun naik, mata panas. Ego anak jalanan yang selama ini membuatnya bertahan — hancur dalam sembilan menit.
Ia melompat keluar ring tanpa bicara, menyandar di dinding, menunduk. Para atlet lain melirik, lalu kembali ke latihan mereka. Bukan apa-apa bagi mereka. Hanya anak baru yang belajar tempatnya.
Bima mengambil head guard yang dilempar Arga, lalu berjalan ke muridnya. Ia tidak langsung bicara. Ia menunggu, membiarkan bocah itu merasakan getirnya.
"Aku nggak bisa, Coach," kata Arga akhirnya, suaranya pecah. "Di gudang aku nggak pernah kalah. Di sini... aku kayak nggak bisa apa-apa. Anak itu bahkan nggak pakai tenaga." Ia mengusap matanya kasar. "Mungkin aku emang cuma anak jalanan. Mungkin aku salah tempat."
Bima berjongkok di depannya, menyamai tingginya.
"Kamu tahu kenapa kamu kalah?" tanya Bima pelan. "Bukan karena kamu lebih lemah. Fikri nggak lebih kuat dari kamu. Kamu kalah karena kamu bawa amarah ke tempat yang butuh kepala dingin. Di gudang amarah bikin kamu hidup. Di sini amarah bikin kamu kalah." Ia menatap mata muridnya. "Itu bisa diubah. Tapi cuma kalau kamu mau bangun."
Arga menunduk lebih dalam. "Aku capek, Coach."
"Capek itu pilihan." Bima meletakkan head guard di pangkuan Arga, lembut. "Berdiri."
Dua kata yang sama yang dulu ia teriakkan saat Arga ambruk kelelahan di latihan tiga hari kilat. Tapi kali ini bukan tentang stamina. Ini tentang harga diri yang remuk, tentang memilih bangkit dari malu, bukan dari capek fisik.
Arga menatap head guard di pangkuannya untuk waktu yang lama. Lalu, perlahan, dengan kepala masih menunduk, jari-jarinya menggenggam tali head guard itu.
"Besok," katanya parau, "ajarin aku footwork dari awal lagi. Yang bener. Biar aku nggak pernah meleset kayak tadi lagi."
Bima berdiri, dan menepuk pundak muridnya satu kali. "Besok. Pukul empat pagi."