Berkas Arga lolos. Ia resmi terdaftar sebagai atlet amatir kelas menengah di bawah klub binaan Hendra, dan untuk pertama kalinya namanya tercetak di selembar kertas resmi dengan kop komisi tinju. Arga menyimpan fotokopinya di saku, terlipat empat, dan setiap beberapa jam ia mengeluarkannya untuk membaca namanya sendiri.
Tapi ring resmi ternyata bukan ring yang ia kenal.
Hari pertama Hendra membawa head guard dan menyodorkannya pada Arga, bocah itu menatapnya seperti melihat barang asing. "Buat apa ini?"
"Kamu pakai ini tiap sparring dan tanding amatir," kata Hendra. "Lindungin kepala."
"Tinju kok pakai bantal di kepala." Arga mendengus. "Di gudang nggak ada beginian."
"Di gudang ada anak mati pendarahan otak tiap bulan," sahut Bima datar, dan Arga langsung bungkam.
Lalu aturan-aturan lain berdatangan, satu per satu mengikis gaya jalanan Arga. Ronde cuma tiga, masing-masing tiga menit — bukan sampai salah satu tumbang. Menang lewat poin, bukan KO. Wasit bisa menghentikan kapan saja. Tidak ada memukul setelah bel. Tidak ada memukul kepala belakang. Tidak ada bergumul. Pukulan dihitung kalau mendarat bersih dengan buku jari depan sarung.
"Poin?" Arga hampir berteriak saat Bima menjelaskan. "Jadi aku bisa mukul orang sampai babak belur tapi kalah karena dia 'lebih sering nyentuh'? Itu nggak masuk akal, Coach!"
"Itu masuk akal," kata Bima sabar, "karena tinju resmi bukan soal siapa yang paling sakit ngebunuh. Itu soal siapa yang paling pinter mukul tanpa kena."
Arga frustrasi. Selama ini gaya bertarungnya dibangun dari satu hal: kemarahan. Maju, hantam, jangan berhenti sampai lawan jatuh. Itu yang membuatnya bertahan di jalanan. Tapi di ring berpoin, gaya itu membuatnya membuka pertahanan, kelelahan di ronde dua, dan kena counter terus-menerus dari Bima yang memegang pad.
"Lagi," kata Bima, memutar di sekeliling Arga, membaca setiap gerakannya. "Kamu maju kayak banteng. Banteng mati di arena. Petinju yang pinter, hidup." Ia menepuk pad. "Jab. Cuma jab. Seribu kali."
Arga melepas jab, kesal, asal-asalan.
"Bukan gitu." Bima menurunkan pad. Ia menatap muridnya, dan suaranya melembut. "Inget yang aku ajarin pertama kali? Jab itu bukan pukulan paling keras. Jab itu pukulan paling sering. Yang nentuin jarak. Yang ngebaca lawan. Yang bikin lawan capek mikir." Ia mengambil posisi, dan tubuhnya yang tiga puluh dua tahun itu tiba-tiba bergerak seperti dulu — kaki dulu, tenaga dari tanah, naik ke pinggang, lepas lewat tangan, satu jab yang berhenti satu senti dari hidung Arga, mulus seperti air. "Kamu harus cinta sama jab. Bukan benci. Cinta. Karena jab yang bakal jagain kamu di ring resmi, bukan amarah kamu."
Arga terdiam. Ia pernah mendengar kalimat itu di hari-hari pertama latihannya, malam-malam hujan ketika ia masih bocah putus asa yang cuma punya utang dan kemarahan. Cinta sama jab. Waktu itu ia tidak mengerti. Sekarang, melihat jab Bima yang berhenti satu senti dari wajahnya — terkendali, presisi, indah — ia mulai mengerti.
Ia mengambil posisi lagi. Kaki dulu. Tenaga dari tanah. Ia melepas jab, dan untuk pertama kalinya, pukulan itu lurus, bersih, berhenti tepat di pad dengan suara yang renyah.
"Nah," kata Bima pelan. "Itu. Lagi. Seribu kali."
Dan Arga mengulanginya. Seribu kali. Sampai bahunya terbakar, sampai keringatnya menggenang di kanvas, sampai jab itu bukan lagi pukulan yang ia pikirkan, tapi pukulan yang ia rasakan.
Di luar jendela sasana, langit mulai gelap. Di sudut, Gento menonton sambil memutar tali skipping pelan, dan Pak Darto duduk di bangkunya yang reyot, mata tuanya berkaca-kaca menyaksikan seorang anak jalanan perlahan berjalan dari gudang menuju garis putih ring yang sah.