Sasana Garuda Mas berbau keringat tua dan karet matras yang sudah lama tak diganti. Lampu neon di langit-langit berkedip pelan, satu di antaranya mati sejak dua bulan lalu dan tak ada yang peduli untuk menggantinya. Di sudut ruangan, seorang lelaki berusia tiga puluh dua tahun duduk membungkuk, menyeka lantai dengan kain pel yang lebih banyak menyebar air ketimbang membersihkannya.
Namanya Bima. Dulu, nama itu pernah terpampang di papan iklan sepanjang jalan protokol kota. Sekarang, nama itu cuma dipanggil oleh seorang pemilik sasana tua bernama Pak Darto kalau ada toilet mampet atau lampu yang perlu diganti.
"Bim, samsak nomor tiga jahitannya lepas lagi," teriak Pak Darto dari balik meja kayunya yang reyot. "Tambal dulu sebelum bocah-bocah dateng sore nanti."
"Iya, Pak," jawab Bima tanpa menoleh.
Ia berdiri perlahan, lututnya berderak. Tubuhnya masih kekar, dada bidang dan bahu lebar yang tak bisa disembunyikan kaus oblong kusam. Tapi matanya, mata itu yang berubah. Dulu mata seekor predator di atas ring. Sekarang mata orang yang sudah lama berhenti melihat ke depan.
Bima berjalan ke arah samsak yang menggantung di pojok. Ia mengangkat tangannya, menyentuh kulit sintetis samsak itu, lalu menariknya pelan. Untuk sesaat, jari-jarinya terkepal sendiri. Refleks lama. Otot lengannya menegang, siap melepaskan pukulan yang sudah ribuan kali ia latih sepanjang hidup.
Tapi ia menurunkan tangannya. Membuka kepalan. Mengambil jarum dan benang.
Tiga tahun. Sudah tiga tahun sejak malam itu. Malam yang masih datang ke mimpinya setiap kali ia memejamkan mata terlalu lama.
Di televisi butut yang tergantung di dinding sasana, sebuah acara olahraga sedang menayangkan cuplikan. Bima tak sengaja melirik, lalu membeku.
Layar menampilkan wajah seorang petinju muda, gagah, mengangkat sabuk juara di atas kepalanya. Penonton bersorak. Lampu blitz berkilauan. Komentator berteriak penuh semangat.
"...dan inilah dia, juara nasional kelas menengah yang baru! Sebuah era baru telah dimulai sejak tragedi tiga tahun lalu yang merenggut nyawa Reza Mahendra di atas ring—"
Bima menjatuhkan jarum.
Reza Mahendra.
Nama itu menusuk seperti pisau yang tak pernah benar-benar dicabut. Sahabatnya. Lawan tandingnya di malam terakhir itu. Lelaki yang tertawa bersamanya sejak mereka berdua remaja ingusan yang berlatih di sasana ini, di tempat yang sama persis tempat Bima sekarang berdiri membersihkan lantai.
Satu pukulan. Hook kanan yang sempurna, pukulan yang membuatnya juara. Pukulan yang membuat Reza tak pernah bangun lagi.
"Bima." Suara Pak Darto melembut. Lelaki tua itu sudah berdiri di sampingnya, mematikan televisi dengan remot. "Sudahlah."
Bima menunduk, memungut jarum dari lantai. Tangannya gemetar.
"Saya nggak apa-apa, Pak," katanya pelan.
"Kamu bohong dari dulu nggak pernah bisa." Pak Darto menepuk bahunya. "Tiga tahun kamu di sini. Nggak pernah pakai sarung tinju lagi. Nggak pernah naik ring lagi. Kamu pikir Reza mau lihat kamu kayak gini?"
Bima tak menjawab. Ia kembali menjahit samsak, tangannya kini lebih tenang, tapi rahangnya mengeras.
"Reza nggak mau lihat apa-apa lagi, Pak," akhirnya ia berkata. "Karena saya yang bikin dia nggak bisa lihat apa-apa."
Pak Darto menghela napas. Ia tahu kapan harus berhenti. Sudah ratusan kali percakapan ini terjadi, selalu berakhir di tembok yang sama.
Sore itu, seperti biasa, anak-anak berlatih datang. Beberapa pemuda kampung yang ingin belajar tinju demi gaya-gayaan, beberapa lagi serius ingin jadi atlet meski tahu sasana sekumuh ini takkan pernah melahirkan juara. Bima mengamati dari sudut, sesekali membenarkan posisi kaki mereka tanpa banyak bicara.
"Mas," seorang bocah menarik kausnya. "Itu beneran Mas Bima yang dulu juara itu, kan? Yang fotonya masih ada di sana?"
Bocah itu menunjuk ke dinding. Sebuah foto lama, berdebu, terbingkai murah. Bima muda, mengangkat sabuk, tersenyum lebar. Seorang juara di puncak dunianya.
"Itu orang lain," jawab Bima. "Latihan yang bener."
Ia berbalik dan kembali ke ruang belakang. Di cermin retak yang tergantung di sana, ia menatap pantulan dirinya. Lelaki dalam cermin itu menatap balik, lelah dan kosong.
Di luar, langit mulai gelap. Hujan turun rintik-rintik menabuh atap seng sasana. Bima tak tahu, bahwa malam itu, di tengah hujan, seseorang sedang berjalan menuju Garuda Mas. Seseorang yang akan menyeretnya kembali ke dunia yang telah ia kubur dalam-dalam.