Bab 9
Setelah membayar semua belanjaan mereka masih sempat membeli es krim putar dan juga wafel untuk cemilan makan malam mereka.
Tiba-tiba tubuh Cinta menjadi tegang karena melihat seseorang yang ia kenali di kejauhan. Ia segera beralih ke sebelah kanan Patrick dan mencoba untuk berjalan serapat mungkin dengannya.
“Kenapa?” tanya Pactrick sambil berbisik ke arah Cinta.
“Jangan bicara, jalan terus saja,”kata Cinta sambil menolehkan wajahnya berpura-pura sedang melihat-lihat stand di sebelah kiri.
Daniel menoleh sekilas ke arah wanita yang familiar di matanya. Ia berjalan lurus tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia memberi tanda agar asistennya mendekat dan berbisik kepadanya.
Begitu melewati Daniel barulah Cinta bisa menghela napas lega.
“Siapa itu tadi? Mantan suamimu?” tanya Patrick penasaran.
Cinta mengangguk. Ia bingung kenapa Daniel bisa ada di lingkungannya? pekiknya dengan cemas. Jantungnya berdebar sangat kencang saat ini!
Padahal setelah ponselnya terlacak, ia langsung menghancurkan ponselnya dan membuangnya. Sudah begitu, tidak mungkin terlacak ‘kan? pikirnya dengan bingung. Ia berusaha keras untuk menenangkan hati dan pikirannya saat ini.
Patrick merangkul Cinta dan Cinta tidak menepis tangan Patrick karena saat ini ia merasa sangat lemas dan ingin secepatnya bisa sampai ke rumah.
Patrick membantu membawakan semua belanjaan Cinta ke dalam apartement Cinta.
Cinta tidak memperdulikan Patrick dan langsung naik ke atas ranjangnya dan berbaring tertidur, meringkuk di balik selimutnya.
Setelah memasukkan bahan makanan ke dalam kulkas. Patrick segera mengunci pintu dan gerendel setelah itu ia pulang ke apartemennya melalui jendela seperti biasanya.
Pintu digedor dengan sangat kuat! Cinta kaget dan bangun dari tempat tidurnya tapi ia tidak berani menjawab.
Ia berjalan ke arah pintu dengan perlahan dan mengintip dari lubang pintu! Oh, tidak!
Itu Daniel dan para pengawalnya!
Ke mana ia harus bersembunyi? Cinta berlari ke kanan dan ke kiri tapi ia tidak bisa lari ke mana-mana, sebelum ia bergerak lagi, pintu kamarnya sudah di dobrak dengan keras. Ia menjerit ketakutan!
Napasnya terengah-engah karena ketakutan!
Mimpi, syukurlah hanya mimpi. Ia sangat ketakutan saat ini. Tanpa sengaja, ia mendengar gagang pintu rumahnya digerakkan dengan perlahan.
Oh, no! Mimpinya menjadi kenyataan! Ia memang sengaja merubah pintu otomatisnya menjadi pintu manual sehingga Daniel tidak bisa langsung mengakses dan membuka paksa pintunya dari luar kalau lokasi tempatnya sampai ketahuan.
Dengan cepat ia langsung membuka jendelanya dengan hati-hati. Ia menutupnya kembali tirai dan daun jendelanya dengan hati-hati. Air mata ketakutan tidak berhenti mengalir karenanya!
Ia melawan rasa takutnya pada ketinggian lalu menyeberang dengan hati-hati ke apartement Patrick. Ia berdoa dalam hati agar jangan sampai Patrick mengunci jendela kamarnya!
Harapannya terkabul. Jendelannya bisa diangkat!
Ia buru-buru membuka jendela kamar Patrick lalu segera menarik tangga yang melintasi apartement mereka dengan cepat.
Ia langsung menutup tirai jendela kamar Patrick dan langsung membekap mulutnya sendiri agak tidak mengeluarkan suara!
Yah, Tuhan jangan sampai Daniel menemukannya! Ia merasa Daniel bisa mengetahui di mana ia bersembunyi kalau sampai ia bersuara sedikit saja.
Patrick mendengar suara berisik dari arah ruang bacanya! Dengan hati-hati ia bangun dan bersiap dengan pemukul golfnya di genggaman tangannya.
Ia merasa heran karena melihat pintu depannya tidak mengalami kerusakan sama sekali lalu ia berusaha untuk bergerak sepelan mungkin menuju ke ruang bacanya.
Ketika ia membuka pintu dan menyalakan lampu, ia melihat Cinta berada di ruang bacanya.
Ketika ia ingin bertanya, Cinta langsung menghentikannya tanpa suara. Ia memberi isyarat agar dia jangan bersuara memanggilnya.
Ia menunjukkan ke arah jendela dan memberi isyarat bahwa ada mantan suaminya di dalam apartemennya saat ini!
Daniel bingung karena mendapati ruangan kamar Cinta kosong! Ia memastikan dengan mengambil tas Cinta dan benar ini adalah kamar Cinta.
Meski menutupi dirinya darinya, tapi tetap saja matanya bisa mengenali istrinya itu dari sekilas pandang saja. Dia sedang menjalin hubungan dengan pria muda? Sungguh sangat menggelikan!
Ia segera memerintahkan asistennya untuk membuntuti Cinta dan menemukan kalau mereka tinggal serumah! Pria itu masuk dan tidak pernah keluar dari kamar Cinta!
Sungguh Cinta sudah berani menghianati cintanya! Bukan hanya berpacaran ternyata dia sudah berani tinggal serumah dengan pria muda itu!
Dengan cepat, setelah ia menyelesaikan rapatnya. Ia segera menuju alamat yang diberikan pengawalnya lalu berniat menangkap Cinta dan juga selingkuhannya itu!
Kalau saja pertemuan tadi tidak terlalu penting, sudah pasti ia akan langsung menghentikan Cinta! Sekarang ia menyesal dan mengumpat atas keputusannya.
Daniel tidak mengerti ke mana hilangnya mereka berdua! Jelas-jelas anak buahnya selalu berjaga di depan pintu sambil menunggu kedatangannya tapi mengapa mereka bisa hilang bagai di telan bumi?
Semua anak buahnya menyusuri setiap dinding, mereka berusaha mencari tombol tersembunyi yang bisa membawa mereka ke sebuah ruangan rahasia tapi hasilnya nihil.
Daniel menendang kursi makan Cinta karena kesal. Ia mengamuk dan merusak semua barang-barang Cinta yang ada di dalam apartement-nya.
Tidak lama kemudian petugas keamanan apartement datang dan mencari tahu identitas mereka. Menanyakan alasan mereka menerobos masuk ke kamar penghuni gedung apartement.
Daniel melihat petugas keamanan itu dan memandangnya rendah. Ia menepuk pipi petugas itu sambil melihat tag nama yang terpasang di dadanya lalu tertawa sinis kepadanya.
Dia pergi setelah memberi tanda kepada anak buahnya.
Para pengawal Daniel menahan langkah petugas itu dan segera memukulinya hingga babak belur kemudian meninggalkannya begitu saja.
Setelah berhasil merayap keluar. Petrus langsung menutup pintu kamar bacanya dan menguncinya dari luar. “Apa kau tidak apa-apa?” tanya Patrick pada akhirnya.
Cinta menangis sambil menutupi mulutnya. Ia terlalu takut untuk bersuara karena takut Daniel mendengar suaranya.
“Ruangan ini kedap suara. Menangislah, jangan ditahan,” kata Patrick sambil memeluk tubuh Cinta yang gemetaran.
Cinta tidak bisa menahan tangisannya lagi. Ia menangis di dalam pelukan Patrick. Dia sangat butuh ditenangkan saat ini!
Setelah Cinta tenang, Patrick membawa Cinta ke dalam kamarnya dan menyuruhnya untuk beristirahat.
Cinta menahan tangan Patrick. “Jangan pergi, tolong, aku takut," kata Cinta dengan lemas.
“Apa kau ingin aku tidur bersamamu?” tanya Patrick dengan hati-hati.
“Tidurlah di sofa," jawab Cinta sambil mencoba tersenyum.
“Kejam!” sahut Patrick sambil cemberut. Patrick berniat untuk mengambil bantalnya.
Cinta menahannya dan menggeleng. Ia membuka selimutnya memberi isyarat Patrick untuk tidur di sebelahnya.
“Apa kau yakin?” tanyanya memastikan.
Cinta mengangguk dengan lemas.
Patrick naik ke atas ranjangnya dan memberikan lengannya untuk Cinta agar Cinta dapat tertidur di pelukannya.
Saat ini Cinta tidak bisa berpikir apa-apa. Ia hanya mau tertidur di dalam pelukan Patrick. Besok pagi ia akan memikirkan jalan keluar dari semuanya ini. Yang jelas ia harus segera mencari tempat tinggal yang baru.
Cinta tersentak kaget terbangun dari tidurnya berulang kali tapi Patrick dengan sabar segera menenangkan Cinta hingga Cinta bisa kembali tertidur.
Keesokan paginya, Cinta bangun dan tidak menemukan Patrick di sebelahnya. Ia turun dari ranjangnya dan mencari keberadaan Patrick.
Rupanya Patrick sedang membuatkan sarapan untuknya. Sepiring spageti dan segelas teh hangat.
“Kemarilah, ayo sarapan," kata Patrick sambil tersenyum.
“Maaf merepotkanmu. Aku tidak tahu kau bisa memasak," kata Cinta dengan takjub.
“Aku bisa sedikit memasak karenamu," sahutnya.
“Karenaku?” tanya Cinta dengan bingung.
“Kau selalu berbaik hati membagi dan memasak untukku, suatu hari nanti aku berjanji pada diriku sendiri, aku harus belajar memasak agar bisa memasak untukmu suatu hari nanti.”
Cinta mendehem merasa terharu mendengar niat Patrick. “Terima kasih, aku akan menikmati makanan ini sebagai makanan perpisahan kita.”
“Apa maksudmu?” tanya Patrick tidak mengerti.
“Daniel sudah mengetahui tempat tinggalku. Itu artinya aku harus segera pergi dari sini dan mencari tempat tinggal lain.”
“Kenapa kau sangat takut terhadap mantan suamimu?” tanya Patrick tidak mengerti.
“Kau tidak tahu bagaimana berkuasanya dia. Ketika ia menemukan aku, dia akan memaksaku untuk kembali kepadanya meski kami telah bercerai," jawab Cinta sambil mengulas senyum menyedihkan.