‘Aku takut kau akan memaksaku kembali kepadanya meski kami sudah bercerai.’
Kalimat Cinta menggantung di antara piring spageti dan teh yang mulai dingin. Patrick tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi, tetapi berhenti sebelum duduk terlalu dekat. Wajah Cinta masih pucat setelah malam tanpa tidur. Di bawah meja, jemarinya saling mengunci erat.
‘Aku tidak akan menyuruhmu kembali,’ kata Patrick. ‘Aku juga tidak akan memutuskan kau harus pindah. Kau yang menentukan. Apa yang kau izinkan kulakukan sekarang?’
Cinta menatapnya, seolah menimbang apakah pertanyaan itu sungguh memberinya pilihan. ‘Aku ingin menghubungi Anna. Aku perlu tahu keadaan petugas keamanan dan apartemenku. Setelah itu baru memikirkan tempat tinggal.’
‘Baik. Ponselku di meja. Kau boleh menelepon sendiri.’
Patrick menggeser telepon ke dekatnya tanpa membuka daftar kontak. Cinta menemukan nomor Anna dan menekan panggil. Setelah dua dering, suara sahabatnya terdengar tegang.
‘Cinta? Kau di mana? Aku baru tahu dari Patrick.’
‘Aku aman di apartemennya. Daniel masuk ke unitku semalam. Barang-barang dirusak, dan petugas keamanan dipukuli pengawalnya.’ Ia berhenti untuk menelan ludah. ‘Aku belum tahu keadaan petugas itu.’
‘Aku akan datang.’
‘Jangan kalau kau merasa tidak aman atau harus meninggalkan pekerjaan.’
‘Aku bisa mengatur pagi ini. Tapi aku ingin memastikan kau baik-baik saja. Kau mau aku datang?’
Pertanyaan itu membuat tenggorokan Cinta terasa sesak. Ia memandang Patrick, yang menunggu tanpa menyela. ‘Iya. Tolong datang. Kita bicara dulu sebelum pergi ke mana pun.’
Setelah panggilan, Cinta meletakkan telepon. Ia tidak menyentuh makanannya lagi. ‘Aku semalaman berpikir harus kabur sebelum dia datang lagi. Tapi kalau aku pergi begitu saja, aku kehilangan tempat yang kubeli dengan uangku sendiri karena takut padanya.’
‘Kau tidak harus memutuskan hari ini.’
‘Jangan bicara seolah gampang. Dia punya uang, orang-orang yang menuruti perintahnya, dan perusahaan keamanan.’
‘Aku tahu satu kalimat dariku tidak menghapus itu.’ Patrick menunduk. ‘Dan aku tahu kau menyeberang ke sini karena memilih berlindung. Itu tidak memberiku hak menentukan apa pun sekarang.’
Cinta menatapnya. Patrick pernah masuk melalui jendela tanpa izin berkali-kali. Kebaikannya semalam tidak membuat kebiasaan itu benar. Namun pagi ini ia tak ingin menghabiskan tenaga untuk semua percakapan sekaligus. ‘Aku mengizinkanmu menemani sampai Anna datang. Setelah itu kita lihat.’
Patrick mengangguk. ‘Aku akan di dapur. Kalau kau ingin sendiri, bilang.’
Cinta mengambil satu suap kecil. Rasanya hampir tak terasa, tetapi ia menelan. Ia belum siap menyebut sarapan itu makanan perpisahan. Ia juga belum siap mengatakan akan tinggal. Satu-satunya yang ia tahu: ia tak ingin memutuskan apa pun ketika ketakutan menguasai seluruh tubuhnya.
***
Anna tiba satu jam kemudian. Ia mengetuk pintu dan menunggu. Patrick baru membukakan setelah Cinta mengangguk dari ruang tengah. Anna hendak memeluk sahabatnya, tetapi menahan gerakan. ‘Boleh?’ tanyanya.
Cinta mengangguk. Pelukan itu singkat. Setelahnya Anna menatap Patrick. ‘Terima kasih sudah menjaganya.’
‘Aku hanya melakukan yang dia minta.’
‘Bagus. Terus begitu.’
Cinta mengajak mereka duduk. Ia menceritakan kejadian malam sebelumnya berdasarkan yang ia lihat dan dengar. Daniel dan pengawalnya masuk ke unitnya, barang-barang dirusak, petugas datang, lalu para pengawal memukulinya. Cinta bersembunyi di kamar baca Patrick. Ia tidak melihat setiap pukulan, tetapi mendengar keributan dan melihat petugas itu terluka setelah para pengawal pergi.
Anna mencatat beberapa hal di buku kecil. ‘Kita cari tahu dulu apakah petugas sudah mendapat pertolongan. Setelah itu hubungi pengelola. Kita jangan masuk ke unitmu sebelum mereka memastikan keadaan aman.’
Cinta meremas tali tas. ‘Aku tidak mau jadi beban siapa pun.’
‘Meminta informasi bukan menjadi beban. Kau yang memilih ikut atau tidak.’
Patrick menawarkan mengantar mereka. Cinta memandang Anna dahulu. ‘Aku mau pergi dengan Anna. Patrick, aku ingin kau tetap di sini untuk sementara.’
Patrick tampak kecewa sesaat, tetapi mengangguk. ‘Tentu. Kalau kau butuh sesuatu, telepon Anna.’
Di lobi, pengelola menyambut mereka dengan wajah serius. Ia mengatakan petugas keamanan telah dibawa untuk diperiksa dan sedang ditemani rekannya. Petugas itu sadar saat dibawa, tetapi keadaan lengkapnya belum diketahui. Cinta menutup mata beberapa detik.
‘Aku ingin tahu namanya. Bukan untuk menghubunginya tanpa izin. Aku ingin memastikan ia menerima bantuan.’
Pengelola berjanji meminta persetujuan petugas itu sebelum memberikan informasi pribadi. Ia juga mengatakan unit Cinta masih dikunci dan akses sementara dibatasi. Barang-barang belum dibereskan. Rekaman kamera sedang disimpan sesuai prosedur.
‘Aku tidak mau ada yang membersihkan atau membuang apa pun sebelum aku tahu apa yang rusak,’ kata Cinta.
Pengelola menyanggupi. Cinta meminta jadwal pemeriksaan yang dapat ia hadiri bersama pendamping pilihannya. Ia belum akan masuk hari itu, dan belum memutuskan pindah.
Mereka kembali ke lobi. Cinta masih takut, tetapi sekarang ia tahu petugas telah mendapat pertolongan dan barang-barangnya belum dibereskan. Ia tak tahu berapa lama akan tinggal di tempat Patrick. Namun pagi ini ia membuat keputusan yang benar-benar miliknya: menunggu informasi sebelum memutuskan.
Di mobil, Anna tidak bertanya kenapa Cinta tidak pergi ke rumahnya. Ia hanya memastikan Cinta masih nyaman kembali ke apartemen Patrick. ‘Aku bisa menginap di sini bersamamu kalau kau mau,’ katanya. Cinta menghargai tawaran itu, tetapi belum menjawab. Ia ingin membicarakan semua pilihan setelah mengetahui apakah petugas keamanan pulang dan apakah apartemennya sudah aman.
Saat mereka kembali, Patrick berada di ruang tengah, membaca koran. Ia segera berdiri, lalu berhenti seolah mengingat agar tidak mendekati Cinta tanpa dipersilakan. Cinta menyampaikan bahwa petugas sudah dibawa untuk diperiksa dan pengelola menyimpan rekaman. Patrick mendengarkan, kemudian bertanya apakah ia ingin teh atau ingin dibiarkan sendiri. Cinta meminta teh dan memilih duduk bersama Anna.
Hari itu ia tidak menentukan tanggal pindah. Ia juga tidak menyerahkan keputusan kepada Patrick atau Anna. Ia hanya memutuskan akan menunggu jadwal pemeriksaan, mengumpulkan informasi, dan menjaga dirinya malam ini. Itu belum menyelesaikan ancaman Daniel, tetapi cukup untuk membuat keputusan berikutnya tidak lahir dari panik semata.