Bab 8
“Katakan padaku dengan jujur, coba kau bandingkan aku dengannya, bayangkan aku juga mencintaimu sama halnya seperti dia mencintaimu, katakan siapa yang akan kau pilih?” tanya Patrick memberanikan dirinya untuk mencari tahu perasaan Cinta.
“Tentu saja aku akan memilihnya, untuk apa aku memilihmu?” sahut Cinta tanpa ragu.
“Hei!” seru Patrick merasa tersinggung mendengar jawaban Cinta. Dalam hatinya, ia menangis sedih karena mendengar hal itu dari mulut Cinta.
“Aku dan Charles adalah pasangan yang seimbang. Kami sudah sama-sama dewasa. Umurku tidak lagi sesuai untuk menjalani hubungan main-main dengan anak muda sepertimu.”
“Sok tua!” sahut Patrick sambil meremas rambutnya dengan frustrasi.
“Aku memang sudah sepantasnya menjadi kakak perempuanmu di banding menjadi calon pacarmu, apalagi calon istrimu! Karena itu, mulailah cari pasangan yang sepadan denganmu," kata Cinta sambil menepuk bahu Patrick.
“Kenapa kau jadi tidak menyenangkan lagi?” sahut Patrick dengan kesal.
“Aku selalu begini dan tidak akan pernah berubah, selama-lamanya!” jawab Cinta dengan ketus.
“Tidak! Dulu kau selalu setia menantiku dan tidak pernah meributkan kedatanganku,” sahut Patrick dengan cepat membantah kata-kata Cinta.
“Dulu, aku belum memilik kekasih, sekarang sudah. Aku bahagia sekarang ini, karena itu, aku juga ingin kau merasakan kebahagiaan yang sama denganku. Percayalah denganku, mulailah serius mencari seorang kekasih mulai dari sekarang."
“Aku tidak ingin mencari kekasih, aku ingin mencari seorang istri!" sahut Patrick dengan kesal.
“Hebat, aku mendukungmu, karena itu mulailah bergegas mencarinya! Sekarang pulanglah, aku mau menulis.”
“Aku akan berdiam di sini, berjanji tidak bersuara dan melakukan apapun yang bisa mengganggumu!”
“Aku tidak bisa konsentrasi menulis kalau kau ada di sini.”
“Kenapa? Apa kau merasa berdebar karena aku?” tanya Patrick setengah berharap Cinta akan mempertimbangkannya.
Cinta berniat menimpali perkataan omong kosong Patrick tapi akhirnya ia memilih tidak menanggapi kata-kata Patrick. “Awas saja kalau kau berani berisik dan menggangguku!” ancam Cinta sambil berjalan untuk menyeduh segelas coklat panas untuknya dan Patrick.
Setelah selesai Cinta langsung meletakkan mug untuk Patrick dan bergegas mengatur posisi duduknya, bersender di kepala ranjangnya dan mulai menyalakan laptop di atas meja kecil favoritnya.
Baru sebentar Cinta mengetik, konsentrasinya terganggu mendengar suara tawa Patrick yang memekakkan telinga.
Saat ini Patrick sedang asyik menonton film seri komedi kesukaan Cinta yang sudah mulai.
“Hei!”
“Kemarilah, ini ‘kan film kesukaanmu.” Patrick tertawa lagi. “Lihat-lihat lucu sekali!” kata Petrus sambil menunjuk-nunjuk ke layar televisi.
“Patrick, aku harus menulis sekarang, tontonlah film itu di apartementmu sendiri!” kata Cinta meminta pengertian kepada Patrick.
“Apa kau yakin tidak mau menontonnya?” tanya Patrick sambil memperbesar layar monitor televisi Cinta.
Mata Cinta serasa mau keluar karena melihat aktor pujaannya terlibat dalam film komedi itu. Dengan cepat, tanpa basa basi, ia langsung bergegas duduk di sebelah Patrick sambil membawa coklat panas miliknya dan meletakkannya di atas meja ruang tamunya. “Dasar, kau ini sungguh menyebalkan!”
“Aku matikan yah!” sahut Patrick menggoda Cinta.
“Berani?” tantang Cinta.
“Percaya tidak aku berani mematikannya?” sahut Patrick lagi sambil tersenyum jahil.
“Jangan macam-macam! Cepat kemarikan remotenya.”
“Bilang terima kasih dulu,” sahut Patrick sambil menggoda Cinta.
“Untuk apa?” sahut Cinta tidak mengerti.
“Karena menyalakan televisi dan mendapatkan tontonan favoritmu tentu saja!”
“Menggelikan. Ini adalah televisi-ku kenapa aku harus berterima kasih kepadamu?” kata Cinta tanpa meninggalkan matanya dari layar tv.
“Kau boleh menonton televisi di apartementku kalau kau ingin.”
“Pactrick, kau aneh sekali! Untuk apa aku menonton televisi di rumahmu sementara di rumahku sendiri sudah tersedia televisi untuk kutonton,” jawab Cinta dengan bingung.
“Itu 'kan hanya tawaran, boleh di terima, boleh tidak!” sahut Patrick dengan nada cuek.
Cinta memandang Patrick dengan tatapan tajam.
“Baik-baik, aku tidak bicara lagi.”
Akhirnya mereka berdua menonton dengan asyiknya.
Setelah selesai menonton film kesukaannya ia teringat harus berbelanja bahan makanan dulu di supermarker terdekat karena itu ia bergegas masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya.
“Kau mau kemana?” tanya Patrick yang heran melihat Cinta yang sudah mengganti pakaiannya.
“Hampir saja aku lupa membeli bahan masakan! Pulanglah, karena aku harus segera pergi," jawabnya dengan cepat.
“Aku akan mengantarmu," sahut Pactrick dengan cepat pula.
“Tapi untuk apa?” tanya Cinta dengan bingung.
“Membantu membawakan bahan makanan misalnya?” jawab Pactrick berusaha membujuk Cinta untuk mengijinkannya ikut.
Cinta berpikir sejenak, “Tidak usah, pulang saja sana," tolak Cinta dengan acuh.
“Aku juga akan membayar pengeluarannya!”
Cinta tersenyum lebar. “Kalau begitu, kau boleh ikut,” sahut Cinta dengan cepat. Ia lalu mengenakan sweater yang memiliki penutup kepala, masker dan juga kacamatanya. Ia melihat bayangannya di kaca. “Bagaimana?” tanya Cinta kepada Patrick.
“Apanya?” tanya Patrick dengan bingung.
“Penampilanku. Seandainya kau bertemu aku di jalan seperti ini, apa kau bisa mengenali aku?” tanya Cinta penasaran.
Patrick memperhatikan penampilan Cinta saat ini dan menggeleng. “Kau terlihat ...”
“Aku tidak perduli terlihat seperti apa asal kau tidak mengenali aku itu sudah cukup.”
Petrus mengangguk-angguk mencoba memahami kata-kata Cinta tapi ia tetap tidak mengerti. “Kenapa kau harus berpenampilan tertutup seperti ini untuk keluar denganku, sementara kau berdandan cantik ketika pergi bersama kekasihmu?” tanya Patrick merasa tidak mengerti.
“Aku berpakaian seperti ini karena aku memang selalu berpergian seperti ini, sendiri ataupun denganmu tidak ada bedanya, memangnya kenapa?” tanya Cinta lagi tidak mengerti.
“Iya tapi kenapa?” tanya Patrick lagi, mencari jawab dari Cinta.
“Karena aku tidak mau kalau sampai mantan suamiku ataupun mata-matanya bisa mengenali aku, ingat?” sahut Cinta mengingatkan.
Patrick menepuk keningnya karena ia melupakan hal penting seperti ini.
“Maafkan aku. Aku lupa.”
“Dimaafkan, sekarang ayo ...”
“Tunggu, masih ada yang kurang jelas di sini?”
“Kita akan kemalaman nanti, tanyakan sambil jalan saja,” kata Cinta sambil bergegas mengambil kunci sepedanya.
“Kenapa kau berpenampilan cantik ketika pergi bersama kekasihmu?” ia cemburu kalau memikirkan hal itu.
“Patrick percaya atau tidak, aku akan pergi tanpamu kalau kau terus menanyakan hal bodoh seperti
ini lagi!”
“Tolong jawab pertanyaanku?”
Cinta menghela napasnya agar tidak terpancing emosi. “Baik, begini aku berpakaian begini karena kita cuma mau pergi berbelanja ke supermarket! Masa iya, aku harus mengenakan gaun untuk pergi ke supermarket? Dan kenapa aku tampil cantik ketika pergi bersama kekasihku? Itu karena kami akan bersenang-senang bersama. Kenapa?Sebab dia kekasihku! Sekarang kutanya, kau mau pergi atau tidak?” jawab Cinta dengan tidak sabaran.
“Kau kejam!”
“Mau ikut tidak?”
“Ikut!” kata Patrick pada akhirnya.
Sesampainya di supermarket Patrick bertugas mendorong troli sementara Cinta memilih bahan-bahan masakan yang ingin dia beli dan meletakkannya di dalam troly.
“Apa uangmu cukup untuk membayar semuanya ini?” tanya Cinta merasa kaget melihat belanjaannya yang menggunung tiba-tiba di dalam trolinya.
Ia bingung dan mengecek ulang. Ternyata banyak barang yang sama yang dimasukkan Patrick ke dalam troli.
“Untuk apa kau memasukkan begitu banyak sayuran dan daging yang sama? Apa kau berniat menjual sayuran dan daging?” tanya Cinta dengan kesal, padahal supermarket sebentar lagi susah akan tutup! Mereka seharusnya bergegas malah sekarang bertambah lambat.
“Beli banyakkan bukannya lebih bagus jadi kau tidak akan kekurangan stok bahan makanan lagi di kulkasmu."
“Kita makan cuma berdua, semuanya ini tidak akan sempat dimasak dan akan busuk sebelum bisa dimasak. Beli secukupnya saja. Kalau kurang besok tinggal dibeli lagi. Setiap hari petani atau penjual grosir akan membawa barang dagangannya yang segar, jadi kita harus berbelanja setiap hari untuk mendapatkan sayuran dan daging yang segar.”
“Oh, begitu,” kata Patrick sambil terkekeh, “Maafkan aku.”
Melihat berbagai barang yang masih banyak menumpuk di trolinya, Cinta menyuruh Patrick ke depan untuk mengambil satu buah troli yang kosong.
Petrus menurut karena takut Cinta akan berteriak marah padanya. Ini semua salahnya! katanya dalam hati.
Setelah membawa troli kosong ke arah Cinta, Cinta langsung bergegas memindahkan barang-barang yang ia inginkan dan meninggalkan sisa barang yang berlebih di troli sebelumnya lalu ia melenggang meninggalkan troli yang masih penuh dengan barang-barang itu.
“Kau pintar juga ternyata.”
“Dan kau bodoh juga ternyata,” sahut Cinta sambil terkekeh.
Patrick melotot ke arah Cinta kemudian merajuk.
“Marah?” tanya Cinta tidak bisa tidak tersenyum melihat ekspresi Patrick saat ini.
Patrick melirik ke arah Cinta tapi tidak menanggapi.
“Jangan pergi!”
Patrick tersenyum sambil membelakangi Cinta.”Kenapa?” sahutnya sambil berbalik ke arah Cinta.
“Bayar dulu!”
bersambung besok pagi yah, terima kasih