Bab 7
“Bagiku, kau memang anak kecil. Sekarang makanlah,” sahut Cinta sambil meniup tomyum di dalam mangkuknya dan mulai memakannya.
Patrick masih merajuk tapi rupanya perutnya berkata lain dan memperdengarkan suara genderang yang mengisyaratkan untuk di isi.
Patrick mengumpat dalam hati.Ia merasa malu dengan dirinya sendiri.
Cinta menahan rasa gelinya. “Makanlah lalu segera pulang. Mulailah berkencan dengan banyak gadis-gadis, pilih salah satu di antara mereka. Rayu dan nikahi salah satu di antara mereka.”
“Konyol,” balas Patrick sambil menyuap kuah tomyam ke dalam mulutnya dan ketika lidahnya mengecap rasa dari masakan Cinta, Patrick tidak malu-malu lagi melahap makanannya tanpa banyak komentar. Ia akan menahan omong kosong Cinta selama ia bisa menikmati masakan Cinta.
Setelah selesai makan, Patrick membantu Cinta membereskan piring lalu berniat untuk membantu Cinta untuk mencuci piring. Namun Cinta menolak dan menyuruhnya untuk segera pulang tapi Patrick menolak dan memilih berbaring di ranjang Cinta dengan cueknya. “Ah, kangennya!”
“Kangen apa?” tanya Cinta dengan bingung.
“Ini, ranjangku, sudah lama aku tidak berbaring di atasnya,” sahut Patrick sambil menepuk ranjang Cinta sambil memandang Cinta dengan penuh cinta.
“Sembarangan! Sudah pulanglah sekarang, hubungi salah satu teman-teman wanitamu. Dekati mereka, jadi kau tidak akan kesepian seperti ini. Apa yang kau lakukan di sini adalah membuang waktuku yang berharga.”
“Kata siapa aku kesepian? Dan bukankah kau seharusnya senang aku temani!” sahut Patrick sambil berpose di ranjang Cinta.
“Aku tidak mengerti dirimu, Patrick. Aku curiga dengan kenormalanmu. Sekarang kutanya padamu, sudah berapa lama kau tidak melakukan hubungan serius dengan seorang wanita?” tanya Cinta dengan serius.
“Kenapa aku harus terburu-buru? Aku masih muda untuk memiliki pasangan tetap saat ini,” elak Patrick dengan tenang.
“Kalian sama-sama membutuhkan waktu untuk mengenal karakter satu sama lain, mulailah dari sekarang. Jadi kau akan memiliki keluarga yang harmonis kedepannya.“
“Sekarang kutanya padamu, berapa lama kau mengenal suamimu sebelum kalian menikah?” tanya Patrick merasa penasaran.
“Kami?” tanya Cinta sambil tersenyum.
Petrus mengangguk dengan serius.
“Beberapa hari saja,” jawab Cinta sambil terkekeh. Ia mengenang kembali saat ia bertemu pertama kali dengan suaminya di luar negeri.
“Kami sama-sana jatuh cinta pada pandangan pertama dan tiga hari kemudian Daniel melamarku, aku menerimanya dan kami memutuskan untuk menikah hari itu juga di sebuah Gereja yang sejalan dengan rute perjalanan kami,” kenang Cinta sambil tersenyum lagi.
Mata Patrick melotot tidak percaya mendengar kata-kata Cinta.
“Kau tidak tahu bagaimana indahnya saat itu. Debar itu begitu nyata dan begitu menakjubkan! Kami tidak ingin melepaskan kesempatan itu. Dan yah, harus kuakui saat itu adalah moment tergila dalam hidup kami, apalagi setelah kami memberitahu orang tua kami bahwa kami telah resmi menikah di luar negeri. Bayangkan saja. Aku berangkat liburan sebagai seorang single, dan ketika aku pulang aku telah resmi menikah dengan seorang pria yang baru tiga hari kukenal. Reaksi orang tuaku dan orang tua Daniel persis sama seperti reaksimu saat ini!” kata Cinta sambil tertawa lagi.
Tak lama kemudian senyum Cinta meredup teringat kembali masa lalu yang pahit yang terjadi antara Daniel dan dirinya. “Paling tidak,harus kuakui jujur, aku juga pernah merasa bahagia bersamanya.”
“Tapi tidak pernah terlintas di benakmu untuk kembali padanya?” tanya Patrick dengan hati-hati.
“Kecuali kalau aku sudah gila dan senang disiksa, mungkin saja. Bisa lepas dari cengkraman Daniel itu adalah anugrah terbesar di dalam hidupku!” pekik Cinta merasa merinding bila memikirkan masa-masa kelamnya berada di bawah penyiksaan Daniel.
“Bagaimana dengan kekasih barumu? Siapa namanya?” tanya Patrick lagi.
“Charles,” timpal Cinta.
“Yah, dia,... “
“Apa maksudmu itu?” tanya Cinta karena melihat Patrick menyepelekan Charles di depannya.
Patrick tertawa keras menutupi rasa sedih di dalam hatinya. “Apa kalian berniat untuk melangkah ke arah yang lebih serius?” tanya Patrick sambil menatap Cinta.
Cinta menyerahkan segelas coklat hangat untuk Patrick. “Aku belum memikirkannya yang jelas saat ini, aku menemukan kecocokan dengannya. Dia baik, manis dan mencintaiku. Aku ingin menikmati moment ini sebaik-baiknya. Mengenal kepribadian satu sama lain.”
“Apa kau berniat untuk menikah dengannya?” tanya Patrick lagi memastikan.
Cinta tersenyum tipis sambil menggeleng, “Tidak. Aku tidak berniat untuk menikah lagi saat ini.”
“Itu tandanya kau tidak menginginkannya, lalu kenapa kau membuang waktumu untuk berkencan dengannya?” sahut Patrick berharap kata-katanya bisa membuatnya memutuskan hubungannya dengan kekasihnya.
“Mungkin suatu saat nanti, aku akan mengubah pendirianku, aku tidak tahu tapi tidak untuk saat ini.”
“Menurutmu apa dia adalah pria yang dapat diandalkan?” tanya Patrick dengan serius.
Cinta menoleh ke arah Patrick. “Sejauh ini, ... iya. Dia dapat diandalkan. Kau harus mulai berusaha mencari wanita yang kau cintai. Kau tidak bisa mendapatkannya di sekitarku karena teman dekatku cuma satu, kecuali kalau memang kau menginginkannya, aku akan dengan senang hati membantumu.”
“Tidak, terima kasih,” sahut Patrick sambil terkekeh.
“Karena itu cepatlah temukan gadis yang baik untukmu! Berkencanlah dan jangan habiskan waktumu yang berharga bersamaku di tempat ini. Apa yang kau harapkan saat menghabiskan waktu berhargamu bersamaku?” tanya Cinta tidak mengerti.
“Kenapa kau memandang dirimu sangat rendah, Cinta. Aku sangat nyaman bersahabat denganmu karena itu aku tidak keberatan menghabiskan waktu bersamamu.”
“Patrick, ijinkan aku bertanya kepadamu sekarang, tolong jawab dengan jujur. Apa kau pernah berpikir bahwa kau menyukai aku?” tanya Cinta dengan terus terang.
“Untuk apa kau menanyakan hal itu?” tanya Patrick balik.
“Aku tahu kau tidak akan pernah menyukaiku tapi banyak orang yang mengatakan kau menyukaiku dan itu sebagai seorang pria yang menyukai seorang wanita. Aku merasa sedikit aneh awalnya dan tidak pernah memandang serius tentang hal itu tapi sekarang aku mulai merasa aneh dengan sikapmu terhadap Charles!”
“Aneh bagaimana maksudmu?” tanya Patrick berusaha menutupi rasa paniknya.
“Aku merasa kau cemburu kepada Charles, ...”
“Tentu saja aku cemburu!” sela Patrick dengan cepat.
Cinta benar-benar kaget mendengar ucapan Patrick kepadanya. Ia sampai tertegun tidak tahu harus menanggapi apa.
“Bayangkan saja, sebelumnya kau tidak pernah menolak kedatanganku. Aku bisa datang setiap saat dan bisa menikmati masakanmu! Sekarang, kau lihat sendiri. Jendela selalu terkunci, jadinya aku tidak bisa masuk ke dalam apartementmu seperti biasanya!” jawab Patrick dengan berapi-api.
Cinta terdiam sesaat untuk mencerna kata-kata Patrick lalu tertawa dengan keras setelah menyimpulkan kata-kata Patrick. Tentu saja Patrick tidak pernah menganggapnya lebih dari sahabat! Cinta merasa sangat lega karenanya.
“Kenapa kau tertawa?” tanya Patrick tidak mengerti.
“Tidak, tidak apa-apa. Kita bersahabat tidak masalah tapi aku mau ketika Charles datang ke sini, kau akan menghargainya sebagai pasanganku, mengerti?” ucap Cinta menegaskan.
bersambung ...
note penulis
wah Cinta tegas juga yah, di matanya memang menganggap Patrick cuma anak kecil bukan pria dewasa. kasihan juga y eit, jangan kecewa dulu baca di bab lanjutannya yah mari kita berharap ada perubahan dalam masa depan hububgan mereka y, ditunggu yah jgn lupa koment dan tap love disetiap bab y