Hari-hari setelah Cinta mengirim dokumen kepada pengacara berlangsung pelan. Tidak ada kabar besar tentang prosesnya, dan ia berusaha tidak mengisi kekosongan dengan dugaan. Ia menyunting naskah, menyelesaikan pekerjaan rumah, dan bertemu Anna untuk sarapan. Sesekali ia berbicara dengan Charles melalui telepon atau makan bersama. Mereka tidak bertengkar, tetapi setiap kali membicarakan masa depan, percakapan itu terasa seperti dua orang yang berdiri di jalan berbeda sambil berusaha menyamakan langkah.
Pada suatu sore, Charles mengirim pesan bahwa ia ingin berbicara langsung tentang hubungan mereka. Ia bertanya kapan Cinta nyaman. Cinta menawarkan akhir pekan, di tempat umum yang tenang, dan meminta agar mereka tidak membuat rencana lain setelahnya. Charles menyetujui. Cinta membaca balasannya dan merasakan gugup, tetapi ia tahu permintaan untuk berbicara bukan pertanda bahwa ia harus segera mempertahankan atau mengakhiri hubungan.
Ia menghabiskan malam dengan menulis beberapa pertanyaan untuk dirinya sendiri. Apakah ia masih ingin menjadi pasangan Charles? Apa yang membuatnya ragu? Apakah keraguannya berasal dari kejadian dengan Daniel atau dari hubungan mereka sendiri? Ia tidak menjawab semua itu sekaligus. Ia hanya ingin mendengar apa yang Charles rasakan dan menyampaikan apa yang ia rasakan tanpa berusaha mengendalikan hasil.
Anna bertanya apakah Cinta ingin membicarakan rencana pertemuan. Cinta menjawab bahwa ia belum tahu apa yang akan diputuskan, dan ia tidak ingin Patrick atau orang lain menjadi alasan. Anna mengangguk. Ia tidak mendorong agar Cinta bertahan atau putus. ‘Apa pun pilihanmu, kau tetap boleh merasa sedih,’ katanya. Cinta berterima kasih karena Anna tidak meminta jawaban sebelum percakapannya berlangsung.
***
Di hari yang disepakati, Charles sudah tiba lebih dulu. Ia berdiri saat Cinta datang dan bertanya apakah tempat itu nyaman. Cinta memilih meja di bagian yang lebih sepi. Mereka memesan minuman, lalu membiarkan percakapan ringan berlangsung beberapa menit. Charles bertanya tentang naskah, Cinta menanyakan perjalanan kerjanya. Mereka masih mampu tertawa bersama, dan hal itu membuat keputusan terasa lebih rumit, bukan lebih mudah.
Charles akhirnya berkata ia ingin memahami apakah mereka masih membangun hubungan yang sama. Ia tidak ingin Cinta menjawab hanya untuk menjaga perasaannya. Cinta mendengarkan dan bertanya apa yang membuatnya mulai meragukan hubungan. Charles menjawab bahwa jadwal dan jarak memang sulit, tetapi persoalan utama baginya adalah mereka sering menghindari pembicaraan tentang bentuk hidup yang diinginkan masing-masing.
Cinta tidak membantah. Ia tahu ia sedang melalui masa yang membuat masa depan terasa kabur. Namun bahkan sebelum Daniel menyerbu apartemennya, ia dan Charles sudah berbeda dalam beberapa hal. Cinta ingin tinggal dekat pekerjaannya dan mempertahankan kebebasan untuk menentukan jadwal. Charles sering membayangkan hidup yang lebih teratur dan keputusan bersama yang dibuat lebih cepat. Perbedaan itu tidak menjadikan salah satu dari mereka buruk, tetapi tidak hilang hanya karena mereka saling menyayangi.
Ia meminta waktu untuk menjelaskan pikirannya sampai selesai. Charles mengangguk. Cinta berkata ia masih peduli kepadanya, tetapi tidak yakin dirinya ingin terus menjadi pasangan. Ia tidak ingin menahan Charles dalam hubungan yang ia jalani setengah hati, juga tidak ingin menjanjikan kepastian yang tidak ia punya. Mereka sepakat melanjutkan percakapan setelah makan, tanpa memaksa keputusan terburu-buru.
Sesampainya di rumah malam itu, Cinta tidak langsung menyiapkan jawaban untuk akhir pekan. Ia mencuci cangkir, menyusun dua bantal di sofa, lalu duduk bersama buku catatannya. Ia menuliskan apa yang ia rasakan ketika Charles berbicara tentang masa depan: ada kasih sayang, tetapi juga ada tekanan yang muncul dari ketidakcocokan yang telah lama mereka ketahui. Ia mengingat percakapan mereka sebelum kejadian dengan Daniel, saat mereka pun kesulitan menyepakati jadwal dan tempat tinggal.
Catatan itu membuatnya sadar bahwa ia tidak boleh memakai kekerasan Daniel sebagai alasan tunggal untuk semua keputusan hidupnya. Peristiwa tersebut memang mengubah kebutuhan dan rasa amannya, tetapi ia masih dapat menilai hubungan dengan Charles berdasarkan hubungan mereka sendiri. Ia menambahkan pertanyaan: jika keadaan dengan Daniel tidak terjadi, apakah ia tetap ingin merencanakan masa depan bersama Charles? Jawabannya tidak datang seketika. Ia menutup buku, membiarkan pertanyaan itu menemaninya.
Pagi berikutnya, ia menyiapkan pakaian sederhana untuk pertemuan. Ia tidak memilih sesuatu yang tampak seperti akan menghadiri acara resmi, karena ini bukan pembuktian. Sebelum berangkat, ia memeriksa apakah masih ingin berbicara. Ia ingin. Itu sudah cukup untuk melangkah, meski ia belum memegang keputusan akhir.
Saat mereka duduk, Cinta bertanya apakah Charles menginginkan jawaban hari itu atau ingin mengurai hal-hal yang belum pernah mereka katakan. Charles memilih berbicara dulu. Ia menghargai bahwa Cinta bertanya, dan berkata ia ingin mendengar tanpa membuatnya merasa terdesak. Percakapan pun dimulai dengan lebih jujur daripada beberapa bulan sebelumnya.
Di kedai, Cinta bertanya kepada Charles apakah ada sesuatu yang ia ingin dengar sebelum mereka membicarakan keputusan. Charles berkata ia ingin tahu apakah Cinta masih melihat kemungkinan membangun masa depan bersama, bukan hanya apakah ia masih peduli. Pertanyaan itu membuat Cinta berhenti sejenak. Ia menjawab bahwa ia masih peduli, tetapi belum bisa membayangkan tujuan bersama yang mereka inginkan.
Charles mengatakan ia tidak ingin menunggu hanya karena mereka takut kehilangan kenangan baik. Cinta setuju. Ia mengakui mereka telah beberapa kali membicarakan perbedaan jadwal, kota, dan rencana keluarga, lalu menundanya dengan harapan masalah itu akan selesai sendiri. Mereka tidak pernah benar-benar menyepakati kapan ‘nanti’ akan tiba.
Cinta bertanya apakah Charles bersedia mendengar jawaban jujurnya meski bukan jawaban yang ia inginkan. Charles berkata iya. Ia tidak menjanjikan dirinya tidak akan terluka, tetapi ia tidak akan meminta Cinta membohongi perasaannya. Keduanya menghabiskan waktu memikirkan, bukan saling membujuk. Percakapan menjadi lebih tenang karena tidak ada usaha untuk memenangkan hubungan.
Cinta sadar bahwa mengakhiri hubungan tidak menghapus kasih sayang yang pernah ada. Ia menuliskan pesan yang tidak dikirim untuk mengucapkan terima kasih atas bagian-bagian baik, lalu menyimpannya. Ia tidak ingin mengirimkannya saat emosi masih segar dan membuat Charles merasa harus membalas.