Dua hari kemudian, pengacara menyampaikan bahwa orang tua Daniel menerima batas yang Cinta minta. Mereka tidak akan mengirim surat, menelepon, atau datang ke unit sewa. Mereka juga tidak akan meminta kerabat lain menyampaikan pesan. Jika ada urusan resmi, mereka memahami bahwa komunikasi harus melalui jalur yang sudah ditentukan. Cinta membaca kabar itu dengan hati-hati. Ia tidak merasakan kemenangan, hanya ruang yang sedikit lebih lega.
Ia membalas terima kasih atas informasi tersebut dan meminta agar pesan itu disimpan bersama korespondensi lain. Ia tidak meminta nama siapa pun, tidak bertanya apa yang dikatakan Daniel, dan tidak membuka percakapan baru. Keputusan untuk menjaga jarak tidak mengharuskannya memantau bagaimana keluarga itu membicarakan dirinya. Yang penting, ia tidak akan menerima pesan tanpa persetujuan.
Hari itu Cinta punya janji kerja dengan editor lewat panggilan suara. Ia menyiapkan catatan dan mengirim bagian revisi yang sudah selesai. Editor menanyakan apakah jadwalnya masih cocok, lalu menawarkan kelonggaran jika Cinta memerlukannya. Cinta memilih mempertahankan jadwal yang realistis. Ia bisa bekerja satu jam, istirahat, lalu memeriksa sisanya besok. Ia tidak perlu menjelaskan urusan pribadi agar keputusannya dihormati.
Setelah panggilan berakhir, ia merasa lelah. Ia berjalan sebentar di sekitar gedung, membawa kunci sendiri dan memilih rute yang biasa ia lewati. Ia tidak mengubah setiap kegiatan menjadi pemeriksaan bahaya. Namun ia juga tidak mengabaikan perasaannya jika sebuah situasi membuatnya tidak nyaman. Ia pulang ketika ingin pulang, bukan karena harus memenuhi rencana orang lain.
Di unit, Anna datang membawa makan malam setelah lebih dulu bertanya lewat pesan. Cinta membuka pintu setelah memastikan siapa yang mengetuk. Mereka makan di meja dapur sambil membicarakan hal-hal biasa. Anna bertanya apakah keputusan tentang orang tua Daniel membuat Cinta merasa bersalah. Cinta menjawab bahwa sedikit rasa bersalah datang dan pergi, terutama karena dulu orang tua Daniel sempat berdiri di sisinya saat perceraian.
‘Aku bisa berterima kasih untuk masa itu tanpa bertemu mereka sekarang,’ kata Cinta. ‘Aku tidak ingin kemarahanku menentukan semua hal tentang mereka, tapi aku juga tidak mau rasa terima kasih menentukan akses ke hidupku.’
Anna mengangguk. Ia tidak menambahkan nasihat atau mengubah jawaban Cinta menjadi tugas yang harus dikerjakan. Mereka berbicara tentang revisi novel dan hidangan yang ingin dicoba minggu depan. Sebelum pulang, Anna bertanya apakah Cinta ingin ia tinggal lebih lama. Cinta memilih menghabiskan malam sendiri dan Anna menerima jawabannya.
Sesudah pintu tertutup, Cinta membereskan piring. Ia menyadari bahwa percakapan tadi terasa sederhana karena ia tidak harus mempertahankan pilihannya dari orang yang mendengarkan. Ia berterima kasih kepada Anna lewat pesan, lalu menyimpan ponselnya. Tidak ada kebutuhan untuk menghubungi Patrick atau Charles demi mengisi kesunyian. Ia boleh menikmati malam dengan dirinya sendiri.
Keesokan harinya, Cinta berjalan ke kedai untuk bekerja di luar unit. Ia memilih meja yang cukup tenang, memesan minuman, dan mengeluarkan laptop. Di sana ia menulis satu adegan baru: seorang perempuan menerima bantuan di masa sulit, tetapi tetap memutuskan kapan bantuan itu berakhir. Adegan tersebut bukan pidato; ia membuat tokohnya menunjukkan batas melalui keputusan kecil, seperti pulang sendiri dan tidak menjawab pesan yang tidak diinginkannya.
Saat membaca ulang, Cinta menghapus bagian yang terdengar seperti hukuman. Ia ingin tokoh itu tegas tanpa harus membuat semua orang yang pernah menyakitinya tampak jahat. Pengalaman tidak selalu membagi orang menjadi dua kelompok yang mudah. Namun kerumitan orang lain tidak menghapus kebutuhan tokoh itu untuk merasa aman. Ia menyimpan perubahan tersebut dan mencatat bahwa bagian ini perlu ditinjau lagi.
Malam itu Charles mengirim pesan menanyakan kabarnya. Cinta membalas bahwa ia baik, sedang bekerja dan ingin melanjutkan percakapan mereka pada waktu yang telah disepakati. Charles menjawab singkat bahwa ia menantikan obrolan itu. Cinta merasa sedikit gugup, tetapi bukan karena takut harus memilih antara Charles dan Patrick. Ia hanya ingin jujur tentang apa yang mampu ia berikan.
Ia menyiapkan makan malam, mandi, lalu membaca beberapa halaman novel sebelum tidur. Jarak dari keluarga Daniel tetap terasa seperti keputusan aktif, bukan pintu yang harus ia banting. Jika kelak ia berubah pikiran, ia bisa mempertimbangkannya dengan kondisi yang berbeda. Untuk sekarang, jawaban ‘tidak’ cukup lengkap tanpa penjelasan tambahan.
Ketika Anna pulang, Cinta tidak buru-buru merapikan semua bekas makan malam. Mereka meninggalkan piring di wastafel dan duduk beberapa menit lebih lama. Anna bercerita tentang pekerjaannya, dan Cinta mendengarkan tanpa mengecek ponsel setiap kali ada bunyi. Ia baru menyadari betapa jarang ia melakukan itu belakangan ini. Tidak ada kabar mendesak yang perlu ia pantau malam tersebut.
Setelah Anna pergi, Cinta mencuci piring sambil memikirkan apa yang membuat keputusan kecil itu terasa berat. Ia pernah menganggap orang yang baik kepadanya selalu berhak atas jawaban yang lebih lembut, lebih panjang, dan lebih cepat. Sekarang ia mengerti bahwa keramahan tidak harus berarti membuka percakapan yang tidak sanggup ia jalani. Ia bisa menjawab sopan sekaligus jelas.
Ia membuat teh dan menulis adegan novel dari sudut pandang tokoh yang memulai hari setelah menerima kabar membingungkan. Tokoh itu tidak langsung merasa lega. Ia hanya menyimpan surat tersebut, makan, lalu menyelesaikan satu tugas yang tertunda. Cinta membiarkan adegan itu sederhana karena ketenangan kadang datang dari rutinitas yang dapat diulang.
Pagi berikutnya ia meninjau kembali jadwal dan mengirim pesan kepada editor bahwa bagian revisi akan tiba sesuai waktu yang disepakati. Pekerjaan itu memberi struktur tanpa mengisi setiap jam. Ia menyisakan waktu untuk makan dan berjalan sebentar. Saat pikirannya kembali pada keluarga Daniel, ia mengingat bahwa mereka telah menerima batasnya. Ia tidak perlu menambah tindakan hanya untuk membuktikan bahwa batas itu sungguh-sungguh.
Cinta membuka jendela sebentar untuk menganginkan ruang, lalu menutupnya ketika suara dari luar terasa mengganggu. Ia mengatur kursinya, menyalakan lampu meja, dan kembali membaca bagian naskah yang belum selesai. Kegiatan itu membuat malam terasa normal tanpa memaksanya berpura-pura lupa. Ia masih memikirkan pesan keluarga Daniel, tetapi pikirannya tidak lagi berputar sepanjang waktu pada apa yang mungkin mereka lakukan.