Pagi itu Cinta sedang menandai bagian naskah yang perlu disunting ketika ada pesan dari pengacara. Ia membaca judulnya lebih dulu, memastikan pengirimnya, lalu membuka pesan tersebut. Orang tua Daniel menghubungi pengacara untuk menanyakan apakah Cinta bersedia menerima surat dari mereka. Mereka mengatakan ingin menyampaikan permintaan maaf atas keadaan yang terjadi dan berharap bisa berbicara, tetapi tidak ingin datang tanpa izin.
Cinta meletakkan ponsel di samping laptop. Perasaan pertama yang muncul bukan marah, melainkan lelah. Selama pernikahan, orang tua Daniel pernah mendukung keputusannya bercerai. Mereka juga pernah berusaha menjaga hubungan dengan kedua pihak. Kini, setelah Daniel dan pengawalnya menyerbu apartemen, mereka kembali berada di antara Cinta dan anak mereka. Bahkan jika maksudnya baik, Cinta tidak ingin mereka menjadi saluran yang membuatnya harus terus mendengar kabar Daniel.
Ia membaca pesan itu sekali lagi dan mencoba memisahkan dua hal: ia bisa menghargai bahwa mereka bertanya lebih dulu, dan tetap bisa menolak percakapan. Ia tidak berutang akses ke hidupnya kepada siapa pun karena orang tersebut pernah mendukungnya. Ia juga tidak harus membuktikan rasa terima kasih dengan bertemu ketika dirinya belum siap.
Cinta membalas kepada pengacara bahwa ia tidak ingin menerima surat atau pesan dari Daniel melalui orang tuanya. Ia tidak bersedia bertemu, menerima kunjungan, atau membahas hubungan pribadi dengannya. Jika ada hal administratif yang benar-benar perlu disampaikan, komunikasi harus tetap melalui pengacara. Ia meminta agar jawaban ini disampaikan dengan jelas, tanpa melunakkan batasnya menjadi ‘mungkin nanti’.
Setelah mengirim, ia menatap layar beberapa detik. Jantungnya berdegup lebih cepat, seolah keputusan singkat itu akan memicu sesuatu. Tidak ada apa pun yang terjadi. Ponsel tetap diam. Cinta menarik napas dan kembali pada naskahnya, meski ia tahu pikirannya mungkin akan kembali ke pesan itu nanti.
Pada siang hari, ia pergi membeli bahan makanan untuk beberapa hari. Di toko, ia mengambil barang-barang yang memang ia perlukan, bukan berbelanja berlebihan untuk menenangkan diri. Saat mengantre, ia menyadari bahwa dirinya telah menghitung pilihan kata dalam balasan kepada pengacara. Ia merasa lega karena telah menuliskan apa yang ia inginkan secara langsung. Tidak ada kalimat yang menyalahkan orang tua Daniel, dan tidak ada janji yang tidak sanggup ia tepati.
Sesampainya di unit, Cinta menyimpan belanjaan dan menyiapkan makan siang. Ia duduk di meja kecil dan menuliskan dua hal dalam buku catatannya: ia berterima kasih atas dukungan masa lalu, dan ia tidak ingin ada pertemuan sekarang. Keduanya dapat benar pada waktu yang sama. Ia tidak perlu menghapus salah satunya untuk membuat keputusan yang lain tampak sah.
Sore hari, pengacara membalas bahwa pesannya telah diteruskan. Orang tua Daniel akan diberi tahu bahwa semua komunikasi pribadi harus berhenti dan jalur administratif tetap melalui kantor pengacara. Cinta membaca balasan itu, lalu menyimpan percakapan di folder yang sama dengan catatan lain tentang perkara. Ia tidak membalas lagi karena tidak ada yang perlu ia tambahkan.
Malamnya, Anna menelepon seperti yang mereka sepakati. Cinta menceritakan pesan tersebut dan keputusannya. Anna tidak buru-buru mengatakan orang tua Daniel baik atau buruk. Ia hanya bertanya apakah Cinta merasa aman dengan batas yang dipilihnya. Cinta menjawab bahwa ia merasa lebih tenang ketika komunikasi tidak datang dari berbagai arah. Anna menawarkan untuk mendengarkan jika rasa bersalah muncul, tetapi tidak mendesak Cinta membuat keputusan lain.
Sebelum tidur, Cinta membuka kembali naskahnya. Tokoh dalam novel itu sedang memilih apakah harus menjawab surat seseorang yang pernah menolongnya. Ia mengubah adegan tersebut: rasa terima kasih tidak menjadi tiket masuk tanpa batas. Kalimat itu terasa dekat, namun ia tidak menyalin hidupnya secara harfiah. Ia menyunting beberapa paragraf lalu menutup laptop ketika matanya lelah.
Di buku catatan, ia menambahkan satu baris: batas bukan hukuman untuk orang lain; batas memberi tahu apa yang sanggup ia terima. Ia membaca ulang, lalu menyimpan buku itu di laci. Untuk pertama kalinya sejak pesan datang, pikirannya tidak sibuk menyusun balasan lain. Ia tidur tanpa menunggu bunyi ponsel, tahu bahwa jika ada hal administratif, pengacaranya akan meneruskannya sesuai kesepakatan.
Di sela pekerjaan, ia sempat membuka pesan lama dari orang tua Daniel yang tersimpan sebelum perceraian. Dulu mereka menawarkan bantuan praktis dan tidak memintanya berubah pikiran. Cinta tidak menyesali bahwa ia pernah menerima pertolongan itu, juga tidak ingin menghapus kenangan baik hanya karena keadaan sekarang lebih rumit. Namun masa lalu tidak memberikan izin permanen untuk hadir dalam masa kini.
Ia menutup pesan lama tanpa membalas. Tidak ada gunanya membandingkan setiap kalimat terdahulu dengan permintaan terbaru. Yang ia perlukan sekarang adalah ruang yang tidak dipenuhi suara Daniel, termasuk suara orang yang bermaksud menengahi. Ia mencatat alasan itu untuk dirinya sendiri agar kelak ia tidak menganggap batasnya sebagai tindakan mendadak atau tanpa pikir panjang.
Malam itu ia memeriksa ponsel dan memastikan pengacara telah mengonfirmasi penyampaian batas. Setelah itu ia mengatur notifikasi agar pesan yang tidak mendesak tidak menarik perhatiannya setiap menit. Ia tetap bisa menerima panggilan dari Anna dan Charles sesuai pengaturan yang ia pilih. Langkah tersebut bukan cara menghilang, melainkan memberi dirinya kendali atas kapan ia membaca pesan. Ia meletakkan ponsel jauh dari tempat tidur dan tertidur lebih mudah.
Sambil menunggu air mendidih, Cinta teringat saat ia menandatangani dokumen perceraian. Orang tua Daniel waktu itu tidak menyuruhnya bertahan atau mengubah keputusan. Dukungan mereka telah berarti baginya, dan ia tidak menyangkal hal tersebut. Tetapi persetujuan pada masa itu tidak membuatnya harus membuka pintu setiap kali keluarga itu ingin berbicara. Ia dapat menghargai satu tindakan tanpa menyerahkan seluruh batasnya.
Ia menulis beberapa kata di buku catatan—terima kasih, kecewa, belum siap—lalu menyimpannya. Tidak semua perasaan perlu disusun menjadi keputusan yang rapi hari itu. Ia hanya perlu memastikan jawaban yang disampaikan kepada pengacara benar-benar sesuai dengan keinginannya, bukan hasil desakan atau rasa takut membuat orang lain tidak senang.