Cinta datang ke apartemennya bersama Anna untuk melanjutkan pengambilan barang. Ia ingin membawa satu kotak berisi beberapa buku referensi dan perlengkapan kerja yang belum ikut saat kunjungan pertama. Pengelola telah mencatat jadwal masuk dan memastikan akses berada pada Cinta.
Kotak itu lebih berat dari perkiraannya. Cinta melihat ke arah pintu, lalu mempertimbangkan apakah ia ingin meminta bantuan. Ia memutuskan menghubungi Patrick, tetapi menuliskan permintaan dengan jelas: ia boleh datang ke unitnya melalui pintu depan setelah mengetuk, membantu mengangkat kotak ke lobi, lalu pulang. Tidak ada kegiatan lain.
Patrick menjawab bahwa ia bersedia dan akan menunggu sampai Cinta mengizinkannya masuk.
Beberapa menit kemudian bel pintu berbunyi. Cinta memeriksa dari lubang pengintip, melihat Patrick berdiri di lorong, lalu membuka pintu setelah memastikan ia siap.
‘Kau boleh masuk ke ruang tengah,’ katanya. ‘Kotaknya ada dekat meja. Jangan masuk ke kamar.’
Patrick mengangguk. Ia melepas sepatu dan mengikuti arahan. Ia tidak membuka jendela atau menanyakan jalur lain. Ia mengangkat kotak setelah Cinta menunjukkannya dan menunggu sampai Anna membawa tas kecil sebelum bergerak menuju pintu.
‘Siap?’ tanya Patrick.
‘Ya.’
Mereka turun menggunakan lift. Di lobi, pengelola melihat mereka membawa kotak dan mencatat waktu keluar. Patrick meletakkannya di mobil Anna. Cinta mengucapkan terima kasih, lalu berkata ia sudah cukup.
‘Baik,’ jawab Patrick. Ia tidak menawarkan diri ikut ke unit sewa atau meminta alamat.
Anna memeriksa bagasi. Semua barang aman. Patrick kembali ke dalam gedung melalui pintu utama. Cinta melihatnya masuk lift, lalu naik bersama Anna kembali ke unit untuk menyelesaikan pemeriksaan.
***
Setelah kotak terakhir diambil, Cinta duduk di ruang tengah dan memandangi jendela yang selalu ia biarkan terbuka dulu. Kini jendela terkunci. Ia meminta pengelola mencatat bahwa kondisi kunci jendela baik. Ia tidak ingin Patrick kembali menggunakan akses itu, tetapi ia juga ingin memastikan jendela dapat dibuka oleh dirinya sendiri saat ia memilih.
Anna bertanya apakah Cinta ingin tinggal malam itu. Cinta menggeleng. ‘Aku ingin kembali ke unit sewaku. Aku belum siap tidur di sini.’
‘Baik.’
Cinta mengunci pintu dan memeriksa kuncinya dari luar. Ia menyimpan kunci sendiri. Pengelola memastikan catatan keluar sudah benar. Tidak ada yang menyuruhnya segera kembali atau menyewa tempat lain.
Di perjalanan, Cinta menyadari Patrick datang dengan cara yang berbeda. Ia mengetuk, menunggu, masuk hanya ke ruangan yang diizinkan, dan pergi setelah tugas selesai. Ia tidak menganggapnya sebagai bukti bahwa perasaan Patrick telah hilang atau ia kini berhak mendapat lebih. Namun itulah tindakan yang ia harapkan dari seorang teman.
Ia mengirim pesan kepada Patrick setelah tiba: ‘Terima kasih sudah datang sesuai yang kita sepakati.’ Patrick membalas, ‘Terima kasih sudah memberi batas yang jelas.’ Tidak ada ajakan untuk bertemu lagi atau komentar tentang hubungan mereka.
Cinta menyimpan pesan itu lalu membuka kotak. Buku-buku ia susun di rak, perlengkapan kerja diletakkan di meja. Ia menemukan satu buku catatan yang tertinggal di antara halaman novel. Ia membaca ide yang pernah ditulis dan tersenyum melihat catatan kecil tentang tokoh yang menjatuhkan kue ke lantai.
Ia bekerja selama satu jam, memperbaiki bagian yang tertunda. Ketika selesai, ia mengirim naskah kepada editor. Ia tidak memberi tahu editor tentang bantuan Patrick atau kejadian apartemen. Ia hanya melaporkan progres kerja.
Malamnya, Charles mengirim kabar bahwa ia menyelesaikan hari kerja dengan baik. Cinta membalas dengan menceritakan ia mengambil buku dari unit lama dan telah menulis lagi. Charles mengucapkan selamat dan bertanya apakah ia ingin berbicara. Cinta menjawab ia ingin istirahat, lalu mereka mengucapkan selamat malam.
Cinta menutup pintu unit sewanya dan memeriksa kunci. Ia tidak lagi merasa harus menerima bantuan yang tidak diminta. Ia bisa mengundang, memberi batas, dan mengakhiri kunjungan. Patrick telah melakukan apa yang diminta. Cinta akan melihat apakah sikap itu bertahan, sementara ia kembali memusatkan perhatian pada naskah dan hidupnya sendiri.
Percakapan dengan Charles berlangsung di tempat yang mereka pilih bersama. Mereka berbicara lebih lama daripada rencana awal, tetapi Cinta tidak merasa harus memberi jawaban sebelum siap. Charles mendengarkan ketika ia menjelaskan bahwa kejadian dengan Daniel membuatnya mengatur ulang banyak hal, termasuk tempat tinggal dan cara menerima bantuan. Ia tidak meminta Charles menjadi penjaga atau menyelesaikan persoalannya.
‘Aku ingin tetap bersamamu,’ kata Cinta, ‘tetapi aku belum tahu seperti apa hubungan kita beberapa bulan ke depan. Aku tidak mau menjanjikan sesuatu hanya karena takut kehilanganmu.’
Charles mengangguk. Ia mengaku jarak dan perubahan mendadak membuatnya bingung tentang cara hadir. Namun ia tidak meminta Cinta menenangkannya dengan janji. Ia ingin mencoba hadir tanpa mengambil alih keputusan Cinta. Mereka sepakat saling memberi kabar dan berbicara lagi setelah beberapa hari, bukan membuat daftar kewajiban baru.
Cinta bertanya apa yang dibutuhkan Charles. Ia menjawab bahwa kejujuran dan waktu untuk berbicara akan membantunya, selama itu tidak menjadi tuntutan agar Cinta selalu tersedia. Keduanya mengakui hubungan mereka perlu ruang untuk berubah. Mereka belum memutuskan berpisah, tetapi juga tidak berpura-pura bahwa semuanya akan kembali seperti semula. Untuk saat ini, mereka memilih mencoba dengan jujur.
Ketika mereka berpisah, Cinta merasa sedih sekaligus lega. Ia tidak harus memilih antara menyayangi seseorang dan menjaga dirinya. Ia berjalan pulang sendiri karena itulah yang ia inginkan, lalu mengirim pesan bahwa ia sudah tiba. Charles membalas dengan ucapan terima kasih atas percakapan tadi.
Di unit sewa, Cinta menutup pintu dan memeriksa kunci. Ia tidak lagi merasa harus menerima bantuan yang tidak diminta. Ia bisa mengundang, memberi batas, dan mengakhiri kunjungan. Patrick telah melakukan apa yang diminta, dan Cinta akan melihat apakah sikap itu bertahan. Ia kembali memusatkan perhatian pada naskah dan hidupnya sendiri.
Ia menaruh ponsel di meja, membuka naskah, dan membaca paragraf terakhir yang ia sunting. Untuk malam itu, cukup satu halaman lagi. Sesudahnya ia akan makan dan tidur, tanpa menjadikan percakapan tadi ukuran keberhasilan dirinya.