Charles menelepon Cinta setelah ia menerima kabar tentang kotak yang dibawa Patrick. Cinta menjawab sambil menyiapkan bahan makan malam di unit sewanya. Charles bertanya apakah ia sedang punya waktu.
‘Aku punya beberapa menit,’ kata Cinta. ‘Kalau aku harus memotong sayur, mungkin suaranya akan masuk ke telepon.’
Charles tertawa. ‘Aku akan bertahan.’
Ia berkata senang Cinta bisa meminta bantuan praktis tanpa menjadikan Patrick penentu hidupnya. Cinta menjelaskan ia memberi Patrick tugas terbatas dan ia mengikuti instruksi. Charles tidak mengatakan bahwa ia ingin Cinta berhenti berteman dengannya.
‘Aku tidak mau hubungan kita dibangun dari saling melarang,’ kata Charles. ‘Kalau ada hal yang membuatku cemburu, aku ingin menyampaikannya, tapi bukan berarti kau harus mengubah semua hubunganmu.’
‘Aku juga ingin begitu. Aku akan terbuka, tapi aku tidak akan memberikan daftar teman yang boleh kuajak bicara.’
‘Sepakat.’
Cinta merasa lega karena Charles tidak mengubah percakapan menjadi permintaan jaminan. Ia bertanya bagaimana pekerjaan Charles setelah kembali dari dinas. Charles bercerita ada beberapa hal yang harus dikejar. Ia tidak meminta Cinta menghiburnya atau menunda pekerjaannya.
Mereka sepakat bertemu akhir pekan depan, tetapi belum menetapkan rencana panjang. Cinta mengusulkan makan siang. Charles menerima dan berkata ia akan mengirim waktu setelah memeriksa jadwal. Cinta menegaskan jika rencana berubah, ia akan memberi kabar, dan ia berharap Charles melakukan hal yang sama.
***
Setelah menutup telepon, Cinta memasak makan malam. Ia menaruh satu porsi di piring dan duduk sendiri. Dulu, memasak sering menjadi alasan Patrick masuk tanpa izin. Kini ia dapat memasak tanpa mengharapkan siapa pun datang.
Ia menyelesaikan makan, membersihkan piring, lalu membuka laptop. Editor mengirim catatan revisi. Cinta membaca satu per satu dan membuat daftar yang masuk akal. Ia tidak menerima semua saran secara otomatis; ia mempertimbangkan mana yang sesuai dengan cerita.
Saat membaca komentar pada satu adegan, ia menyadari tokohnya terlalu mudah mengalah demi menghindari konflik. Ia merevisi dialog agar tokoh tersebut menyatakan batasnya dengan jelas. Cinta tidak merasa harus membuat novel itu menjadi kisah tentang dirinya. Namun menulis memberi ruang baginya untuk menguji pilihan lain.
Ia bekerja selama satu jam. Ketika selesai, ia mengirimkan bagian revisi kepada editor dan menyimpan salinan. Pekerjaannya tidak lagi tertunda seluruhnya oleh kecemasan. Ia masih memikirkan unit lamanya dan pesan Daniel, tetapi ia bisa memberi waktu kepada hal lain.
Anna mengirim pesan menanyakan apakah Cinta ingin makan siang minggu depan. Cinta menjawab iya dan meminta mereka tidak membicarakan Charles atau Patrick kecuali ada yang ingin ia ceritakan. Anna menyetujui dan mengusulkan tempat makan yang biasa mereka kunjungi sebelum Daniel menemukan alamatnya.
Cinta menyimpan percakapan itu. Ia senang persahabatannya dengan Anna tidak harus menjadi ruang untuk memutuskan pasangan. Mereka bisa makan, tertawa, dan membicarakan pekerjaan.
Malam itu Cinta menaruh ponsel di meja, mengunci pintu, dan menyelesaikan satu bab naskah. Ia tidak memikirkan apakah Patrick akan menyukainya atau Charles akan membaca. Ia menulis karena ingin menulis. Beberapa minggu terakhir, itu terasa seperti keputusan besar yang kembali menjadi kebiasaan kecil.
Sebelum tidur, ia menulis catatan bahwa Charles tetap pasangannya, Patrick temannya, dan Anna sahabatnya. Hubungan-hubungan itu berbeda, tidak saling menggantikan. Ia dapat menjaga batas masing-masing tanpa merasa harus memilih siapa yang boleh tetap ada di hidupnya.
Pagi berikutnya, Cinta memilih duduk dekat jendela unit sewa dengan laptop dan segelas air. Ia tidak menjadwalkan pertemuan dengan siapa pun. Ia membalas pesan kerja dan mencatat kebutuhan rumah tangga di kertas. Rutinitas sederhana itu terasa berbeda dari minggu sebelumnya, ketika setiap bunyi di lorong membuatnya teringat Daniel. Ia tidak menganggap ketenangan pagi sebagai jaminan bahwa rasa takut telah hilang; hanya saja saat ini ia bisa duduk dan bekerja.
Patrick mengirim pesan, menanyakan apakah Cinta membutuhkan bantuan mengangkat kotak yang masih tertinggal. Cinta membaca pesannya, lalu menjawab bahwa belum perlu dan ia akan menghubungi jika berubah. Patrick membalas, ‘Baik, aku mengerti.’ Ia tidak mengirim tawaran berulang atau meminta penjelasan. Cinta menghargai sikap itu tanpa mengubahnya menjadi janji bahwa mereka akan kembali dekat seperti dulu.
Charles juga mengabari bahwa ia sudah tiba di kota dan masih bersedia bertemu pada waktu yang disepakati. Cinta membalas bahwa ia akan datang sendiri. Ia tidak perlu menyebut Patrick dalam pesan itu karena percakapan mereka berbeda. Ia juga tidak menyembunyikan apa pun; ia sekadar menjaga tiap hubungan pada tempatnya sendiri.
Sebelum berangkat esok hari, Cinta menulis beberapa hal yang ingin ia sampaikan kepada Charles: bagaimana ia merasakan hubungan mereka sekarang, apa yang ia butuhkan, dan apa yang belum bisa ia janjikan. Ia menghapus kalimat yang terdengar seperti permintaan maaf karena sedang menghadapi masa sulit. Keadaan sulit bukan kesalahan yang harus ditebus. Ia menggantinya dengan kalimat sederhana: ia ingin jujur dan juga ingin mendengar perasaan Charles.
Cinta memilih tempat pertemuan yang biasa mereka kunjungi dan mengirim kabar bahwa ia akan datang sendiri. Charles menjawab bahwa itu baik-baik saja. Ia memeriksa dompet, kunci, dan jadwal, lalu berhenti menyiapkan argumen seolah pertemuan itu sidang. Ia akan mendengarkan, menjelaskan, dan memberi dirinya waktu sesudahnya untuk mencerna percakapan.
Di perjalanan keesokan harinya, kota berjalan seperti biasa. Orang-orang membawa tas, menunggu kendaraan, dan sibuk dengan urusan masing-masing. Cinta merasa lega karena hidupnya tidak harus menjadi pusat perhatian siapa pun. Masih ada pekerjaan, hubungan, dan keputusan yang perlu diambil, tetapi tak semuanya harus selesai hari itu. Ia bisa mendengarkan Charles tanpa menjanjikan masa depan, lalu pulang dan memikirkan percakapan mereka dengan tenang.
Malam sebelumnya, ia menulis catatan bahwa Charles tetap pasangannya, Patrick temannya, dan Anna sahabatnya. Hubungan-hubungan itu berbeda, tidak saling menggantikan. Ia dapat menjaga batas masing-masing tanpa merasa harus memilih siapa yang boleh tetap ada di hidupnya. Ia menambahkan satu pengingat: perubahan sikap dinilai dari waktu dan tindakan, bukan satu janji. Setelah itu ia menutup buku dan menyiapkan pakaian.