Patrick meminta bertemu Cinta di kedai yang biasa mereka datangi. Ia mengirim pesan lebih dahulu dan memberi pilihan waktu. Cinta memilih sore dan mengatakan ia hanya punya waktu sebentar sebelum harus kembali mengerjakan naskah.
Patrick tiba tepat waktu. Ia tidak membawa makanan atau mencoba membuat Cinta merasa berutang. Setelah duduk, ia membuka percakapan dengan kalimat yang tak biasa keluar dari mulutnya.
‘Aku ingin minta maaf tentang caraku bersikap kepada Charles.’
Cinta menaruh cangkirnya. ‘Bagian yang mana?’
‘Ucapan-ucapanku tentang dia, dan cara aku menyindir perceraianmu setiap kali merasa tersisih. Aku cemburu. Aku menyembunyikannya di balik candaan dan alasan ingin makan masakanmu.’
Cinta membiarkan hening sejenak. Ia tidak ingin menyelamatkan Patrick dari rasa tidak nyaman dengan mengatakan bahwa semuanya tidak apa-apa.
‘Kau tahu aku sedang bersama Charles,’ katanya. ‘Aku sudah memilih untuk tetap menjadi pasangannya. Aku tidak pernah memberimu janji bahwa suatu hari aku akan memilihmu.’
‘Aku tahu.’
‘Kalau begitu, jangan menjadikan kebaikanku, makanan, atau malam saat aku ketakutan sebagai tanda bahwa aku berutang hubungan kepadamu.’
Patrick menggeleng. ‘Aku tidak ingin lagi berpikir seperti itu.’
‘Keinginan saja belum cukup. Aku butuh kau berhenti merendahkan Charles dan berhenti menjadikan umur atau perceraianku sebagai bahan ejekan.’
Patrick mengangguk. ‘Aku akan berhenti. Kalau aku terpeleset, tegur aku. Tapi aku tidak akan meminta kau menghiburku.’
Cinta memperhatikan wajahnya. Ia percaya Patrick sungguh menyesal, tetapi ia tidak berjanji akan kembali percaya penuh dalam satu sore. ‘Aku bisa menerima permintaan maafmu. Aku masih ingin berteman, tapi hanya kalau batas itu dijaga.’
‘Aku mengerti.’
Patrick berkata ia selama ini merasa kalah setiap kali melihat Charles bersama Cinta. Ia baru menyadari bahwa ia mengubah persahabatan menjadi kompetisi yang tidak pernah disetujui Cinta. Ia juga menganggap usia dan status cerai sebagai alasan untuk meremehkan kemungkinan dirinya, padahal hal itu melukai Cinta dan tidak memberinya peluang yang lebih besar.
‘Aku tidak mau jadi hadiah yang diperebutkan,’ kata Cinta.
‘Aku tahu. Aku minta maaf sudah membuatmu merasa begitu.’
Mereka berbicara tentang hal praktis. Cinta mengatakan ia ingin mengambil beberapa naskah dan buku dari apartemen lamanya. Pengelola sudah memberi jadwal untuk masuk. Ia tidak meminta Patrick ikut, tetapi ingin tahu apakah ia bersedia membantu membawa satu kotak bila diminta.
‘Kalau kau minta, aku akan datang. Kalau tidak, aku tidak akan muncul.’
‘Baik. Aku akan mengabari.’
Cinta menyelesaikan minumannya dan berdiri sesuai waktu yang ia sebutkan. Patrick tidak memintanya tinggal lebih lama atau membahas perasaan romantis. Ia mengucapkan terima kasih karena Cinta bersedia mendengarkan.
***
Dalam perjalanan pulang, Cinta merasakan campuran lega dan lelah. Ia telah memberi Patrick kesempatan memperbaiki sikap, bukan kesempatan menjalin hubungan. Perbedaan itu penting. Ia tidak ingin rasa kasihan membuatnya menghapus batas.
Di unit sewa, ia mengirim pesan kepada Charles bahwa ia telah berbicara dengan Patrick dan ia mengakui kecemburuannya. Cinta menambahkan bahwa Patrick meminta maaf atas hinaan tentang Charles dan perceraian. Charles membalas bahwa ia menghargai keterbukaan itu, tetapi tidak ingin mengatur pertemanan Cinta.
‘Aku akan menilai sikap Patrick sendiri,’ jawab Cinta. ‘Kalau ia kembali melanggar batas, aku akan menjauh.’
Charles menyetujui. Ia tidak meminta Cinta memutus hubungan atau membuktikan kesetiaan. Cinta merasa lebih tenang karena mereka dapat membicarakan hal tersebut tanpa mengubahnya menjadi pertengkaran.
Sore itu ia membuka dokumen novel. Beberapa bagian belum selesai karena pikirannya sering kembali pada penyerbuan. Ia menghapus kalimat yang berulang, memperbaiki dialog, dan menulis satu halaman baru. Ia tidak menunggu inspirasi datang sepenuhnya. Ia hanya bekerja selama waktu yang sanggup ia berikan.
Saat malam, Patrick mengirim pesan singkat bahwa ia menghargai percakapan mereka. Cinta membalas bahwa ia juga. Ia tidak menambahkan penghiburan atau memastikan Patrick tidak sedih. Ia ingin persahabatan yang jujur, bukan hubungan yang mengharuskannya mengurus perasaan Patrick.
Ia menutup laptop setelah satu adegan selesai. Untuk pertama kali sejak Daniel menemukan apartemennya, Cinta merasa pekerjaannya kembali menjadi bagian penting dari hari, bukan hal yang terus tertunda oleh urusan pria-pria di sekelilingnya.
Patrick bertanya apakah Cinta ingin menyampaikan sesuatu tentang Charles. Cinta berkata, ‘Aku tidak ingin kau menunggu di belakang hubungan kami sambil berharap aku akan berubah pikiran.’ ‘Aku tidak akan menunggu seperti itu,’ jawab Patrick. ‘Aku mungkin masih punya perasaan, tapi aku juga harus menjalani hidupku.’ ‘Bagus. Aku tidak mau menjadi orang yang mengatur siapa yang kau temui. Tapi aku juga tidak mau diminta memberi harapan.’ Patrick menyebut ia belum ingin berkencan dengan orang lain hanya untuk membuat Cinta cemburu. Ia ingin memberi waktu kepada dirinya sendiri. Cinta menjawab itu pilihannya, tetapi ia tidak ingin menjadi alasan Patrick menutup hidupnya. ‘Aku tahu. Aku tidak menyalahkanmu.’ Mereka mengakhiri percakapan tanpa janji tambahan. Cinta pergi sesuai waktu yang ia sebutkan. Di unit sewa, ia membuka kembali naskah dan membaca bagian yang direvisi. Ia merasakan ada kebebasan dalam percakapan itu: ia tidak perlu menolak Patrick dengan kekasaran, tetapi juga tidak harus menjaga perasaannya agar tetap nyaman.
Cinta mengingat bagaimana Patrick dulu menyindir pilihannya setiap kali ia menyebut Charles. Ia tidak ingin percakapan hari ini menjadi alasan untuk segera melupakan kejadian itu. Ia menyimpan tanggal dalam catatan dan memutuskan menilai sikap Patrick dalam waktu, bukan dalam satu permintaan maaf. Jika ia berhenti menghina Charles dan tidak menekan Cinta, mereka bisa berteman. Jika tidak, Cinta berhak mengambil jarak. Ia menjelaskan keputusan itu kepada Anna lewat telepon. Anna bertanya apakah Cinta merasa harus memberi kesempatan kedua. ‘Tidak. Aku memilih melihat apakah ia berubah, karena aku masih menghargai persahabatan kami. Aku juga bisa menghentikannya kapan pun.’ Anna setuju bahwa pilihan itu milik Cinta.
Dalam perjalanan pulang, Cinta mengingat kembali kata-kata Patrick. Permintaan maafnya terasa tulus, tetapi itu tidak otomatis menghapus bulan-bulan ketika ia mengecilkan hubungan Cinta dan Charles. Cinta memahami perbedaan antara menerima permintaan maaf dan memulihkan kepercayaan. Yang pertama bisa dilakukan hari ini; yang kedua membutuhkan perilaku yang konsisten.
Ia membuka catatan di ponsel dan menuliskan batas yang ingin dijaga: tidak membicarakan Charles dengan nada meremehkan, tidak datang ke unit tanpa undangan, dan tidak mengubah perhatian menjadi kewajiban. Ia menyadari daftar itu bukan kontrak yang harus ditandatangani Patrick. Itu pengingat bagi dirinya sendiri tentang apa yang akan ia lakukan jika batas tersebut dilanggar. Ia dapat mengakhiri percakapan atau mengambil jarak tanpa perlu memenangkan perdebatan.
Malam itu Patrick mengirim pesan singkat bahwa ia sudah sampai di rumah. Cinta membalas dengan ucapan terima kasih atas pertemuan mereka. Patrick tidak melanjutkan dengan pertanyaan apakah ia sudah memaafkannya atau kapan mereka akan bertemu lagi. Jarak sederhana itu membuat Cinta nyaman. Ia menutup ponselnya dan kembali memikirkan revisi naskah.