Pada akhir pekan, Cinta tiba di tempat makan yang dipilih Charles. Ia memeriksa ruangan sebelum masuk, lalu melihat Charles menunggu di meja yang dekat jendela dan tidak terlalu ramai. Ia bertanya apakah tempat itu nyaman bagi Cinta. Cinta mengangguk dan duduk.
‘Terima kasih sudah mengirim pilihannya dulu,’ katanya.
‘Aku ingin kau bisa memilih, bukan datang karena sudah dipesankan.’
Mereka memesan makanan. Selama beberapa menit, mereka membicarakan perjalanan dinas Charles dan naskah Cinta. Charles bertanya tentang tokoh yang sedang ia tulis. Cinta menceritakan konflik novel dengan antusias. Ia sadar sudah lama tidak berbicara tentang pekerjaannya tanpa memikirkan bagaimana Daniel akan menilainya.
Setelah makanan datang, Cinta memutuskan memulai percakapan yang mereka tunda. ‘Aku ingin mengatakan apa yang kupilih setelah beberapa hari memikirkannya.’
Charles berhenti makan. ‘Aku mendengarkan.’
‘Aku ingin tetap menjadi pasanganmu dan terus berkencan. Aku tidak sedang menunggu Patrick atau memilih antara kalian. Aku memilih mengenalmu. Tapi aku belum siap membicarakan pernikahan, tinggal bersama, atau janji untuk selamanya.’
Charles tidak langsung menjawab. Ia memikirkan kata-katanya, lalu berkata, ‘Aku ingin tetap menjadi pasanganmu juga. Aku tidak mengharapkan kau membuat janji yang belum bisa kau pegang. Aku hanya ingin kita terus jujur kalau kebutuhan kita berubah.’
‘Kalau kau suatu hari merasa hubungan ini tidak cukup, aku ingin kau bilang. Jangan bertahan hanya karena takut menyakitiku.’
‘Dan aku ingin kau melakukan hal yang sama. Jangan tetap bersamaku hanya karena takut sendiri atau karena merasa berutang.’
Cinta mengangguk. Kesepakatan itu terasa lebih nyata daripada janji romantis yang besar. Mereka tidak menghapus perbedaan kebutuhan, tetapi memberi ruang untuk membicarakannya.
‘Aku juga belum siap memberi tahu alamat tempat sementaraku,’ kata Cinta. ‘Aku berharap kau tidak menganggap itu sebagai hukuman.’
‘Aku tidak. Kau boleh memberitahuku jika dan ketika siap.’
‘Untuk sekarang, aku ingin kita bertemu di tempat umum.’
‘Baik.’
Cinta merasakan ketegangan di dadanya berkurang. Ia tidak dipaksa memilih antara rasa aman dan hubungan. Ia bisa tetap menyukai Charles sambil menjaga privasi dan waktu sendiri.
***
Usai makan, mereka berjalan di trotoar yang ramai. Charles bertanya apakah ia boleh menggenggam tangan Cinta. Cinta menerima. Mereka berjalan beberapa langkah, lalu Cinta melepaskan saat hendak membuka tas. Charles tidak menahan atau bertanya apakah ada yang salah.
‘Terima kasih sudah bertanya,’ kata Cinta.
‘Aku ingin memastikan kau nyaman.’
‘Kadang aku ingin dekat, kadang aku ingin ruang. Itu bisa berubah dari hari ke hari.’
‘Aku akan bertanya.’
Cinta berkata ia juga akan mengatakan langsung saat tidak nyaman, bukan berharap Charles membaca pikirannya. Charles menjawab ia akan berusaha mendengar tanpa memandang perubahan batas sebagai penolakan pribadi. Mereka tahu tidak semua hal akan berjalan sempurna, tetapi komunikasi akan membantu jika ada salah paham.
Di persimpangan, Charles menawarkan mengantar Cinta sampai tempat sewa. Cinta menolak dan berkata ia akan pulang sendiri. Charles bertanya apakah ia ingin ditemani sampai halte. Cinta mengangguk. Mereka berpisah di sana.
Dalam perjalanan, Cinta mengirim kabar kepada Anna bahwa ia dan Charles sepakat melanjutkan hubungan. Ia menambahkan bahwa mereka tidak membuat janji pernikahan. Anna membalas bahwa ia senang Cinta memilih sendiri dan tidak akan mengatur apa pun.
Cinta pulang, mengunci pintu unitnya, lalu mencatat pertemuan tersebut dalam buku. Ia menulis bahwa ia tetap menjadi pasangan Charles, bahwa alamatnya tetap pribadi, dan bahwa keduanya sepakat berbicara bila kebutuhan berubah. Ia tidak menulis bahwa hubungan mereka pasti berhasil. Ia tahu mereka masih harus menjalani banyak hari biasa.
Malam itu ia bekerja sebentar. Pikirannya tidak lagi dipenuhi pertanyaan apakah Charles akan marah karena ia belum siap menikah. Ia telah mengatakannya dengan jelas, dan Charles telah menerima sambil menyampaikan kebutuhannya sendiri. Itu cukup untuk hari ini.
Ia menutup laptop, menaruh buku catatan di laci, dan tidur. Keputusannya tentang Charles bukan hasil kecemburuan Patrick, bukan saran Anna, dan bukan cara membalas Daniel. Itu pilihan Cinta yang ia ambil setelah bicara dengan jujur.
Cinta kemudian mengirim pesan kepada Charles bahwa ia senang mereka dapat menyepakati cara melanjutkan hubungan. Charles membalas bahwa ia juga lega, tetapi ia tidak meminta Cinta mengulang janji. Mereka mengucapkan selamat malam.
Ia memikirkan batas yang mereka tetapkan. Mereka akan bertemu, tetapi tidak tinggal bersama. Cinta belum memberikan alamat unit sewa dan belum merasa harus melakukannya. Ia dapat menjaga privasi tanpa menyangkal bahwa Charles adalah pasangannya. Jika ia siap berbagi lebih banyak kelak, ia akan memilih waktu sendiri.
Ia menulis satu kalimat pada buku catatan: ‘Aku boleh memilih hubungan tanpa menyerahkan diriku.’ Kalimat itu tidak menghapus pengalaman lamanya, tetapi memberi arah yang ia inginkan. Ia mematikan lampu dan tidur, tanpa meminta Charles menelepon lagi untuk memastikan dirinya aman.
Keesokan pagi, Cinta bangun tanpa penyesalan atas pilihannya. Ia memeriksa kalender dan mulai mengatur pekerjaannya. Makan siang dengan Charles akan berlangsung setelah ia menyelesaikan satu bagian naskah, bukan sebagai hadiah atau kewajiban. Ia bertanya kepada dirinya sendiri apakah ia merasa bebas untuk mengubah keputusan jika keadaan berubah. Jawabannya iya. Ia bisa menyampaikan perubahan itu dengan hormat, sebagaimana Charles juga dapat melakukannya. Kebebasan tersebut membuat pilihannya sekarang terasa lebih sungguh-sungguh. Ia mengirim pesan kepada Anna bahwa mereka sepakat tetap menjadi pasangan tanpa membicarakan pernikahan. Anna menjawab bahwa ia mendukung, lalu bertanya tentang bagian naskah yang baru. Cinta mengirim cuplikan singkat. Mereka tertawa lewat pesan tentang dialog tokoh, kemudian beralih membahas rencana lain.
Ia membiarkan telepon tetap di meja, tidak menggenggamnya sambil menunggu balasan. Malam berjalan tenang dan ia tidur ketika mengantuk.
Ia mematikan lampu dan membiarkan keputusan tersebut berdiri tanpa dianalisis lagi.
Ia menutup buku catatan dan membiarkan pikirannya beristirahat.
Ia tidur dengan perasaan cukup tenang untuk menyambut hari esok.
Ia menarik napas lega.
Pada akhirnya, ia tidak membutuhkan kemenangan yang membuat orang lain kalah. Ia hanya membutuhkan keadaan yang jujur, aman, dan memberi ruang untuk tumbuh.