Cinta menyelesaikan satu halaman sebelum tengah hari. Ia berhenti, membaca ulang, lalu mengirim bagian itu kepada editornya sesuai jadwal baru. Tidak semua kalimat bagus, tetapi ia senang melihat berkas tersebut bergerak lagi. Ia membuat kopi dan berjalan mengelilingi unit beberapa kali untuk melemaskan bahu.
Telepon berbunyi. Pesan dari Patrick: ‘Kalau nanti kau masih butuh bantuan membawa kotak, aku bisa. Kalau tidak, tak apa.’ Cinta membalas bahwa ia belum menentukan jadwal. Patrick menjawab ia menunggu kabar dan tidak mengirim pesan lagi.
Cinta menyadari ia tidak merasa harus menjelaskan keterlambatan jawabannya. Dulu Patrick akan datang sendiri atau membuat lelucon tentang jendela. Kini ia memberi pilihan dan menerima ketidakpastian.
Anna datang untuk makan siang setelah Cinta mengundangnya. Mereka duduk di meja kecil. Anna bertanya apakah Cinta ingin membicarakan pertemuannya dengan Patrick. Cinta menjawab iya, tetapi hanya tentang hal yang membuatnya nyaman. Ia menceritakan pengakuan Patrick dan permintaan maafnya. Anna mendengarkan tanpa berkata bahwa mereka cocok atau seharusnya mencoba berpacaran.
‘Aku menerima maafnya, tapi aku belum sepenuhnya percaya,’ kata Cinta.
‘Tidak perlu langsung percaya. Lihat tindakannya.’
Cinta menyukai jawaban itu. Ia tidak perlu memutuskan persahabatan mereka hari itu. Ia bisa memperhatikan bagaimana Patrick bersikap setelah menyadari Cinta tidak menjanjikan hubungan romantis.
Anna bertanya bagaimana tulisan Cinta. Cinta membuka laptop dan menunjukkan halaman yang baru selesai. Anna membaca beberapa baris dan mengatakan dialognya terasa hidup. Cinta merasa senang, lalu menjelaskan bagian yang masih belum ia pahami. Mereka membicarakan tokoh novel, membuat beberapa usulan, dan tertawa karena satu adegan terlalu dramatis.
***
Sore hari, editor membalas naskah Cinta dengan komentar. Ia menyukai bagian yang dikirim dan memberi beberapa catatan tentang alur. Cinta membaca semua masukan, lalu membuat daftar revisi. Ia tidak buru-buru memperbaiki semuanya sekaligus. Ia memilih satu perubahan yang bisa dilakukan malam itu.
Ketika mengedit, ia sempat mengingat pernyataan Patrick tentang cemburu. Ia berhenti sejenak dan menulis di buku pribadi: ‘Permintaan maaf bukan persetujuan untuk lebih dekat.’ Ia ingin menjaga perasaannya agar tidak terseret oleh rasa iba atau nostalgia. Setelah itu ia kembali ke layar.
Malamnya, ia mengirim satu pesan kepada Patrick tentang jadwal mengambil kotak. Ia akan datang ke apartemen lamanya bersama Anna dan pengelola, tetapi meminta Patrick menunggu di lobi. Ia tidak ingin ia masuk ke unit sebelum dipanggil.
Patrick membalas bahwa ia mengerti. Ia tidak bertanya kenapa Anna ikut atau meminta akses ke unit. Cinta merasakan lega, lalu mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap menilai tindakan berikutnya, bukan hanya pesan.
Ia menyiapkan daftar barang: buku referensi, beberapa catatan naskah, dan pakaian kerja. Ia tidak akan mengambil barang yang rusak atau belum selesai didokumentasikan. Daftar itu pendek agar kunjungan tidak menjadi lebih berat dari yang diperlukan.
Sebelum tidur, ia membaca ulang halaman novel yang direvisi. Kali ini ia tidak membayangkan Daniel atau Patrick sebagai tokoh. Ia membiarkan tokoh fiksinya memiliki keputusan sendiri. Cinta menyimpan berkas dan mematikan laptop.
Ia belum sepenuhnya kembali pada ritme menulis sebelum kejadian itu, tetapi kini ia mampu membuat kemajuan. Pekerjaan tersebut bukan sekadar cara mengalihkan perhatian; itu bagian hidup yang ia pilih dan miliki. Besok ia akan mengambil barang atas izinnya sendiri, dengan orang yang ia pilih mendampingi.
Editor mengirim satu rangkaian pertanyaan tentang motivasi tokoh utama. Cinta membacanya, lalu membuat catatan untuk menjawab satu per satu. Ia menulis di margin bahwa konflik harus berasal dari keputusan tokoh, bukan kebetulan yang menolongnya. Ia mengembangkan adegan dengan memberi tokoh kesempatan berkata tidak dan memilih apa yang terjadi selanjutnya. Setelah satu jam, Cinta berhenti dan mengirim pertanyaan balik kepada editor tentang batas panjang bab. Ia tidak meminta tenggat lebih lama lagi; ia hanya memastikan prioritas revisi. Editor menjawab dengan urutan yang jelas. Cinta menaruh catatan itu di samping laptop dan melanjutkan pekerjaan. Anna kembali untuk mengembalikan wadah makan. Ia melihat Cinta sedang fokus dan bertanya apakah boleh duduk. Cinta mempersilakannya. Mereka tidak membicarakan Patrick selama beberapa menit. Anna menceritakan pekerjaannya, lalu Cinta menunjukkan satu paragraf yang baru selesai. Anna memberi pendapat hanya ketika diminta. Cinta merasa dihormati sebagai penulis, bukan hanya sebagai orang yang sedang menghadapi masalah. Saat Anna pulang, Cinta menyimpan draf dan membuat daftar tugas besok. Ia tidak berharap tulisannya menghilangkan semua kecemasan. Namun pekerjaan itu mengingatkannya bahwa ia memiliki tujuan lain yang tetap berjalan.
Cinta meninjau kembali bagian naskah yang dikomentari editor. Ia memindahkan satu adegan, mengganti motivasi tokoh yang terasa lemah, dan memperbaiki dialog agar lebih sesuai dengan kepribadiannya. Ia bekerja bertahap, menyimpan versi lama, lalu membandingkan perubahan. Ia tidak menuntut dirinya menyelesaikan semuanya dalam sehari. Saat lelah, ia menutup layar dan makan. Setelah beristirahat, ia membaca ulang naskah dengan suara pelan. Beberapa kalimat terdengar kaku, tetapi ia tahu apa yang harus diperbaiki. Ia menulis catatan untuk esok dan mengirim pesan kepada editor bahwa revisi awal selesai. Editor membalas terima kasih dan berkata tidak ada tenggat baru yang perlu dikhawatirkan malam itu. Cinta merasa lega karena pekerjaannya kembali punya ritme.
Sesudahnya Cinta meregangkan punggung dan menjauh dari layar. Menyelesaikan beberapa halaman tidak berarti seluruh ketegangan lenyap, tetapi ia mencatat bahwa hari ini ia sendiri yang menentukan kapan bekerja dan kapan berhenti. Ia menyeduh teh, membaca ulang satu adegan, lalu memperbaiki dialog tokoh utama yang terlalu cepat meminta maaf atas keputusan yang bukan kesalahannya. Revisi itu membuat tokoh tersebut terdengar lebih jujur.
Charles mengirim pesan menjelang malam, menanyakan apakah mereka masih jadi berbicara esok hari. Cinta menyetujui waktu selepas makan siang dan mengatakan ia ingin percakapan yang tenang. Charles membalas bahwa ia mengerti. Cinta meletakkan ponsel tanpa mencari makna tersembunyi dari jawaban singkat itu. Ia akan mendengarkan Charles dan menyampaikan perasaannya; ia tidak perlu memutuskan seluruh masa depan hubungan dalam satu pertemuan.