Charles menelepon Cinta pada awal minggu. Ia bertanya apakah ia sedang mengganggu. Cinta sedang menulis, tetapi ia berhenti sejenak dan mengatakan bisa bicara beberapa menit. Charles mengucapkan terima kasih sebelum mulai.
‘Aku memikirkan percakapan kita di toko buku,’ katanya. ‘Aku ingin menjelaskan satu batas dariku. Aku bisa berjalan pelan, tapi aku tidak ingin menjadi seseorang yang hanya dipanggil saat kau ketakutan atau butuh bantuan.’
Cinta terdiam. Ia mengerti maksudnya, tetapi kata-kata itu menyentuh ketakutannya bahwa ia telah membawa terlalu banyak masalah ke dalam hubungan mereka.
‘Aku tidak ingin itu juga,’ jawabnya. ‘Tapi aku belum tahu kapan aku siap memperlihatkan semua bagian hidupku.’
‘Aku tidak minta kau berbagi semua. Aku cuma ingin kita melakukan hal yang memang hubungan pasangan, bukan cuma membicarakan urusan Daniel dan apartemen.’
Cinta mengingat kencan mereka dan hari Sabtu di toko buku. Mereka telah berbicara tentang hal biasa dan ia menikmatinya. ‘Aku mau itu. Aku ingin terus berkencan denganmu. Tapi aku belum siap menyebut hubungan ini akan menuju pernikahan.’
‘Aku juga tidak menuntut pernikahan.’
‘Kalau begitu, aku perlu kau tidak menyamakan kehati-hatianku dengan penolakan.’
‘Aku akan berusaha. Tapi aku juga ingin kau tahu kalau suatu hari aku merasa kebutuhan kita terlalu berbeda, aku perlu mengatakan itu.’
Cinta menghargai kejujurannya. Ia tidak ingin Charles berpura-pura baik-baik saja lalu menyimpan kecewa. ‘Kau boleh mengatakan itu. Aku tidak bisa memintamu menunggu tanpa batas.’
Mereka sepakat melanjutkan hubungan sebagai pasangan yang masih saling mengenal. Mereka tidak membuat tanggal untuk membicarakan pernikahan. Sebaliknya, mereka akan memeriksa perasaan masing-masing setelah beberapa minggu dan berbicara lagi. Jika salah satu merasa hubungan tidak sehat, mereka akan mengatakannya tanpa melibatkan kecemburuan Patrick atau pendapat Anna.
‘Apakah kau ingin bertemu akhir pekan ini?’ tanya Charles.
‘Ya. Kita bisa makan siang lagi.’
‘Di kedai yang sama?’
‘Boleh.’
Panggilan berakhir dengan tenang. Cinta merasa dada sedikit sesak karena ia tak bisa menjanjikan semua yang Charles mungkin inginkan. Namun ia tidak merasa diancam. Charles juga tidak memberi ultimatum. Mereka menyampaikan batas masing-masing dan setuju mencoba melanjutkan.
***
Setelah bekerja, Cinta menghubungi Anna. Ia bercerita tentang batas Charles dan kesepakatan untuk terus berkencan tanpa membuat janji besar. Anna sempat bertanya apakah Cinta merasa itu terlalu lambat. Cinta menjawab ia merasa nyaman, tetapi ingin melihat bagaimana hubungan tumbuh dalam beberapa minggu.
‘Kalau suatu saat kau berubah pikiran, kau bisa mengatakannya,’ kata Anna.
‘Aku tahu. Tapi aku tidak ingin memilih hanya karena kau menganggap Charles cocok.’
Anna meminta maaf jika komentarnya dulu membuat Cinta merasa didorong. Ia berjanji mendukung keputusan apa pun, termasuk bila Cinta akhirnya memilih sendiri tanpa pasangan. Cinta menerima permintaan maafnya.
Mereka lalu mengalihkan obrolan pada naskah. Anna bertanya apakah Cinta ingin membaca bagian baru. Cinta membuka laptop dan membacakan satu halaman. Anna tertawa di bagian yang memang dimaksudkan lucu. Cinta merasa senang mendapat reaksi tanpa harus membahas hubungan.
Malamnya Charles mengirim pesan bahwa ia akan memesan tempat makan siang akhir pekan jika Cinta menyetujuinya. Cinta membalas bahwa ia akan datang, tetapi ingin tempat yang tidak terlalu ramai. Charles mengatakan ia akan mencari pilihan dan mengirimkannya untuk disetujui. Cinta menyukai bahwa ia tidak menganggap pilihan restoran sebagai keputusan sepihak.
Ia kemudian menyelesaikan pekerjaan selama satu jam. Saat telepon bergetar, ia membiarkannya di meja sampai jeda. Pesan itu dari editor, bukan Charles. Ia menjawab seperlunya dan kembali menulis.
Cinta menyadari bahwa memiliki pasangan tidak berarti harus terus berada dalam percakapan. Ia dapat memberi perhatian tanpa menyerahkan semua waktu. Ia menyimpan kesepakatan mereka dalam ingatan, bukan sebagai kontrak yang harus dipenuhi dengan sempurna, tetapi sebagai cara untuk saling berbicara sebelum salah paham tumbuh.
Sebelum tidur, ia menulis di buku: ‘Aku memilih mengenal Charles. Aku belum memilih seluruh masa depan.’ Kalimat itu terasa jujur. Ia mematikan lampu dan beristirahat.
Setelah panggilan, Cinta menyadari batas Charles bukan ancaman. Ia berhak tidak ingin berada dalam hubungan yang selalu tertunda. Cinta juga berhak belum siap membahas pernikahan. Keduanya dapat tetap mencoba selama jujur tentang perubahan perasaan.
Ia meminta Anna mendengarkan sekali lagi apa yang disampaikan Charles. Anna menjawab bahwa kebutuhan mereka tampak bisa dibicarakan. Cinta menegaskan ia tidak ingin Anna memilihkan atau menilai siapa yang lebih cocok. Anna meminta maaf bila pernah terlalu cepat mendorong kencan buta dan membagikan nomor tanpa bertanya.
Cinta menerima permintaan maaf itu dan berkata ia ingin tetap memiliki Anna sebagai sahabat. Mereka beralih membicarakan naskah. Anna membaca bagian komedi dan tertawa di tempat yang tepat. Cinta ikut tertawa. Malamnya berakhir dengan percakapan tentang pekerjaan, bukan tekanan memilih pasangan.
Pada malam hari, Charles mengirimkan jadwal makan siang akhir pekan dan meminta Cinta memilih tempat. Cinta menawarkan kedai kecil yang ia kenal. Ia menjelaskan bahwa ia belum ingin bertemu di rumahnya atau mengundangnya ke unit sewa. Charles menjawab bahwa ia paham. Mereka juga membicarakan bahwa evaluasi hubungan tidak harus dilakukan setiap minggu seperti rapat. Mereka cukup jujur bila ada perubahan kebutuhan. Cinta berkata ia tak ingin janji ‘menunggu’ dipakai untuk membuatnya merasa berutang. Charles menyetujui. Ia tidak akan mengingatkan Cinta bahwa ia telah bersabar sebagai alasan meminta sesuatu. Cinta merasa bahunya mengendur. Ia dapat menerima bahwa Charles punya batas sambil tetap menolak tekanan.
Charles menutup percakapan dengan mengucapkan terima kasih karena Cinta mendengarkan kebutuhannya. Cinta menjawab bahwa ia juga merasa didengar. Mereka tidak membuat janji kapan harus menikah atau mengubah status. Mereka hanya sepakat menjalani hubungan yang sedang mereka pilih.
Ia kemudian menuliskan satu baris tentang batas Charles di catatan pribadinya agar tak mengubahnya menjadi ultimatum. Ia ingin mengingat bahwa ia juga boleh menyampaikan batasnya sendiri.
Ia merasa lebih lega setelah mengatakannya.
Ia mengingat orang-orang yang selama ini mengingatkannya untuk tidak mengecilkan kebutuhan sendiri. Dukungan mereka tidak menggantikan keputusannya, tetapi membuatnya berani menjalankannya.