Makan siang yang mereka rencanakan jatuh pada hari Sabtu. Cinta tiba lebih dulu dan memilih meja di tepi jendela, dari tempat ia dapat melihat pintu masuk tanpa harus duduk membelakanginya. Ia tidak menganggap itu kebiasaan yang harus ia sembunyikan. Charles datang beberapa menit kemudian dan bertanya apakah pilihan tempat duduk itu nyaman.
‘Ya. Aku bisa melihat pintu dan tetap bicara denganmu.’
‘Bagus.’
Charles tidak mengomentari kewaspadaannya lebih jauh. Mereka memesan makanan dan berbicara tentang perjalanan dinasnya. Ia bercerita tentang jadwal kerja yang padat, sementara Cinta menjelaskan ia kembali mengerjakan naskah dan telah meminta tenggat yang lebih realistis. Mereka mulai bicara tentang keseharian, bukan hanya ketakutan.
‘Aku senang kau kembali menulis,’ kata Charles.
‘Aku juga. Meski baru beberapa halaman.’
‘Beberapa halaman tetap lebih dari tidak sama sekali.’
Cinta tersenyum. Ia menceritakan ide adegan yang sedang ia kembangkan, tetapi tidak membacakan semuanya. Charles mendengarkan dan bertanya tentang tokohnya. Ia tidak mencoba memberi akhir cerita atau mengubah pekerjaan Cinta menjadi cara untuk menghiburnya.
Setelah makan, mereka berjalan ke toko buku yang berdekatan. Cinta memilih satu novel, Charles melihat-lihat bagian sejarah. Mereka tidak harus terus berbicara. Keheningan terasa nyaman.
Di depan rak, Charles berkata, ‘Aku ingin bertanya satu hal, tapi kau boleh tidak menjawab sekarang.’
‘Silakan.’
‘Apakah kau merasa perlu bertemu denganku karena aku bisa memberi rasa aman, atau karena kau memang ingin mengenalku?’
Cinta menutup buku yang sedang ia lihat. Pertanyaan itu tidak terdengar seperti tuduhan, tetapi ia tetap membutuhkan waktu.
‘Aku memang ingin mengenalmu. Tapi aku tidak mau menyangkal bahwa situasi ini membuatku mencari rasa aman dari orang lain. Aku tidak ingin hubungan kita hanya berdiri di atas itu.’
Charles mengangguk. ‘Aku juga tidak ingin menjadi penyelamat. Aku ingin menjadi pasangan, kalau kau memang menginginkannya.’
‘Aku ingin mencoba. Tapi aku perlu punya kehidupan yang tidak bergantung padamu.’
‘Aku mendukung itu. Aku juga punya pekerjaan dan hidupku sendiri.’
Cinta melihat ke rak buku. Ia merasa lega karena Charles tidak menjanjikan perlindungan tak terbatas. Mereka bisa berusaha menjadi pasangan tanpa mengubah satu sama lain menjadi penjaga.
***
Di kafe kecil dalam toko, mereka memesan minuman. Cinta bertanya apa yang Charles harapkan dari hubungan mereka pada minggu-minggu ini. Charles menjawab ia menginginkan waktu bersama, komunikasi yang jujur, dan kepastian bahwa Cinta tidak terus menemuinya hanya karena takut sendirian.
‘Aku bisa memberi tahu kalau aku sedang ingin sendiri,’ kata Cinta. ‘Aku ingin kau melakukan hal yang sama.’
‘Aku akan.’
Ia juga menjelaskan ia tidak ingin semua percakapan mereka berputar pada Daniel. Ia dapat mendengar bila Cinta ingin bercerita, tetapi berharap mereka punya ruang untuk hal lain. Cinta setuju. Ia pun lelah menjadikan Daniel pusat setiap hari.
Mereka tidak menyepakati jadwal kencan yang kaku. Mereka memilih menghubungi satu sama lain dan membuat rencana yang sesuai. Charles tidak meminta Cinta berbagi lokasi. Cinta tidak meminta Charles membatalkan pekerjaan.
Sebelum berpisah, Cinta mengajak Charles makan malam minggu depan jika ia tidak sedang sibuk. Charles menerima dan berkata ia akan memberi kabar setelah memeriksa jadwal. Ia tidak menjanjikan sesuatu sebelum tahu waktunya.
Cinta pulang dengan buku baru. Di unitnya, ia membaca beberapa bab dan menandai bagian yang ingin ia diskusikan dengan editornya. Ia merasa senang bisa membicarakan tulisannya dengan seseorang tanpa menjadikan itu pembuktian bahwa ia sudah pulih.
Malamnya Charles mengirim pesan bahwa ia senang mereka bertemu. Cinta membalas bahwa ia juga. Mereka berhenti di sana, tidak memaksa percakapan berlangsung sampai larut. Cinta meletakkan telepon, mandi, dan menyelesaikan satu halaman naskah.
Ia menyadari hari biasa itu penting. Mereka dapat berkencan, tertawa, dan berdiam diri tanpa harus berjanji tentang masa depan. Ia belum tahu apakah hubungan tersebut akan bertahan, tetapi setidaknya pilihannya hari ini datang dari keinginan mengenal Charles, bukan dari ketakutan terhadap Daniel atau rasa berutang kepada Patrick.
Saat sampai di unit, Cinta menaruh novel yang dibeli di rak kecil. Ia membuka halaman pertama dan membaca beberapa paragraf sebelum kembali ke naskahnya. Ia teringat bagaimana Charles membiarkannya diam di toko buku tanpa berusaha mengisi setiap jeda. Hal kecil itu membuatnya merasa dihormati.
Ia kemudian membuat catatan untuk dirinya: hubungan yang dipilih bukan hubungan yang harus terus-menerus membuktikan dirinya aman. Ia ingin menilai Charles melalui sikap konsisten, bukan satu kencan baik atau satu janji. Ia juga akan menunjukkan dirinya secara bertahap, tanpa merasa berutang penjelasan tentang setiap luka lama.
Charles mengirim pesan terima kasih karena Cinta mengajaknya bertemu. Cinta membalas ia senang melihatnya. Ia tidak menambahkan detail alamat atau rencana lain. Mereka menutup percakapan dengan sederhana dan melanjutkan malam masing-masing.
Dalam perjalanan pulang, Cinta membeli makan malam dan tidak merasa perlu melaporkan setiap langkah kepada Charles. Ia mengirim kabar bahwa ia pulang dengan selamat karena ia ingin, bukan karena diminta. Charles membalas dengan ucapan terima kasih dan tidak bertanya lokasi. Cinta menyadari ia masih dapat menghubungi Anna atau pengelola bila perlu. Ia tidak harus menjadikan Charles satu-satunya orang yang tahu keadaannya. Ia menyusun daftar dukungan yang tetap melibatkan orang-orang berbeda sesuai kebutuhan. Hal itu membuat hubungan romantisnya terasa lebih seimbang.
Saat membaca catatannya, Cinta menyadari ia tidak perlu membandingkan siapa yang membuatnya merasa lebih aman. Ia dapat menjaga persahabatan dengan Patrick dan tetap memilih Charles sebagai pasangan. Kedua hubungan itu memiliki batas berbeda dan tak harus saling menghapus.
Ia menyimpan buku yang baru dibeli di dekat laptop. Besok ia akan membaca lagi sebelum menulis. Itu rencana kecil yang membuatnya menantikan pagi tanpa mengaitkannya dengan Daniel.
Cinta menaruh telepon di laci dan melanjutkan hari tanpa memeriksa pesan.
Ia menyeduh teh dan kembali menikmati rumah sewa yang tenang.
Bila seseorang benar-benar ingin memperbaiki hubungan ini, ia akan memahami bahwa perubahan membutuhkan waktu. Ia dapat menunggu bukti tanpa menghentikan hidupnya sendiri.