Charles menghubungi Cinta sore itu seperti yang mereka sepakati. Ia bertanya apakah ia sedang punya waktu untuk bicara. Cinta sedang duduk di meja kerja, baru saja mengirim beberapa halaman kepada editornya.
‘Aku bisa bicara sekitar sepuluh menit,’ katanya. ‘Kalau lebih lama, aku mau menyelesaikan pekerjaan.’
‘Tentu. Aku tak ingin mengganggu.’
Cinta tersenyum mendengar jawaban itu. Mereka membahas pertemuan kemarin. Charles berkata ia senang Cinta masih ingin mencoba sebagai pasangan, tetapi ia tidak ingin setiap percakapan terasa seperti ujian yang harus ia luluskan.
‘Aku juga tidak ingin begitu,’ jawab Cinta. ‘Aku perlu waktu, tapi aku tidak ingin membuatmu terus menebak apakah aku masih mau bertemu.’
‘Kau bisa mengatakan kalau ingin mundur.’
‘Dan kau bisa mengatakan kalau hubungan ini tidak cukup untukmu.’
‘Ya.’
Keduanya terdiam sebentar. Cinta menyadari ia bisa mengatakan hal itu tanpa menganggapnya ancaman perpisahan. Ia ingin hubungan yang memungkinkan mereka menyampaikan kebenaran sekalipun kebenaran itu sulit.
Charles bertanya bagaimana ia dapat mendukung Cinta tanpa menjadikan dirinya pengawal. Cinta menjawab ia tidak membutuhkan Charles memeriksa tempat tinggal atau menghubungi Daniel. Ia ingin mereka membicarakan hal-hal biasa dan sesekali bertemu sesuai rencana. Jika ia membutuhkan bantuan praktis, ia akan meminta langsung.
‘Aku bisa melakukan itu,’ katanya. ‘Aku juga ingin punya ruang untuk menjalani pekerjaan dan urusanku sendiri. Aku tidak ingin dianggap tidak peduli kalau sedang sibuk.’
‘Aku setuju. Aku tidak akan mengukur perhatian dari seberapa cepat kau membalas.’
Charles tertawa kecil. ‘Kau mengingatkanku pada sesuatu yang harus kuperbaiki juga.’
Mereka membahas hari untuk bertemu lagi. Cinta mengusulkan makan siang di akhir pekan, di tempat umum yang tenang. Charles menyetujui. Ia tidak menyarankan rumahnya atau unit sewa Cinta.
Sebelum mengakhiri panggilan, Charles bertanya apakah ia boleh mengirim kabar tentang perjalanan pulangnya. Cinta berkata boleh. Ia juga menambahkan bahwa jika ia tak menjawab, Charles tidak perlu menelepon berulang-ulang. Charles mengatakan ia akan menghormati itu.
Setelah menutup panggilan, Cinta kembali ke dokumen kerja. Ia melihat pesan dari editornya yang berisi beberapa catatan. Biasanya ia akan menunda menjawab karena takut tulisannya kurang baik. Kali ini ia membalas bahwa ia akan memeriksa revisi esok hari. Ia tidak menyatukan segala stres sebagai satu masalah besar.
***
Malamnya, Anna datang membawa makanan yang mereka pesan bersama. Ia bertanya tentang percakapan dengan Charles. Cinta menyampaikan bahwa mereka membahas kebutuhan dan batas, bukan memutuskan masa depan.
‘Bagaimana perasaanmu?’
‘Lebih tenang. Aku suka dia, tapi aku juga ingin tahu apakah kami cocok dalam hal yang biasa.’
Anna bertanya apakah Cinta ingin ia berhenti memberi komentar tentang Charles. Cinta menggeleng. ‘Kau boleh tanya, tapi jangan memberi nomor atau mengatur pertemuan tanpa izinku lagi.’
‘Aku paham. Aku juga ingin minta maaf soal nomor teleponmu yang kuberikan dulu.’
Cinta menerima permintaan maaf itu. Ia mengakui dulu merasa kesal karena Anna membagikan nomor tanpa bertanya, tetapi ia tidak ingin menjadikannya alasan membatalkan persahabatan. Anna berkata ia akan bertanya sebelum membantu menghubungkan Cinta dengan siapa pun.
Mereka makan sambil membicarakan pekerjaan dan rencana libur. Anna tidak memberi saran tentang siapa yang lebih cocok. Cinta merasa nyaman saat bisa menikmati malam tanpa membandingkan Charles dan Patrick.
Setelah Anna pulang, Cinta memeriksa kalender. Makan siang akhir pekan sudah tercatat, tetapi ia tidak menambahkan pengingat untuk mengirim pesan setiap hari. Hubungan bukan tugas administratif. Mereka telah menyepakati cara komunikasi yang cukup.
Ia mengambil buku catatan dan menulis satu pertanyaan untuk dirinya sendiri: ‘Apakah aku bertemu Charles karena ingin, atau karena takut kehilangan seseorang?’ Ia belum menjawab. Ia memutuskan akan memikirkan itu setelah mereka menjalani beberapa pertemuan biasa.
Sebelum tidur, ia mengunci pintu dan meletakkan kunci unit sewanya di tempat yang sama. Ia tidak menunggu kabar dari Charles. Mereka sudah berbicara, dan itu cukup untuk hari ini. Ia beristirahat tanpa merasa harus buru-buru menentukan apakah hubungan itu akan menjadi seumur hidup.
Selesai makan, Cinta membuat teh dan kembali ke meja. Ia sempat ingin menulis pesan kepada Charles untuk memastikan ia tidak kecewa, tetapi ia menahan diri. Mereka telah berbicara jujur dan ia tidak perlu mencari kepastian terus-menerus. Ia membuka naskah, memperbaiki beberapa kalimat, lalu mengirim bagian yang sudah direvisi kepada editor.
Anna kemudian menelepon untuk menanyakan apakah Cinta ingin ditemani akhir pekan. Cinta menjawab ia sudah punya rencana dengan Charles, tetapi ingin bertemu Anna pada hari lain. Mereka sepakat makan siang minggu depan. Cinta menegaskan ia tidak ingin setiap pertemuan sahabatnya berisi laporan tentang hubungan. Anna tertawa dan setuju membicarakan hal lain.
Cinta menyadari ia perlu mempertahankan beragam hubungan, bukan hanya hubungan romantis. Teman, pekerjaan, dan waktu sendirian tidak bersaing dengan Charles. Ia ingin hubungan yang dapat memberi ruang pada semuanya.
Beberapa jam kemudian, Cinta meninjau ulang jawaban yang ia berikan kepada Charles. Ia memang ingin mengenalnya, tetapi juga ingin memberi waktu untuk dirinya sendiri. Ia menulis batas waktu kerja dan istirahat di kalender, bukan agar hubungannya terjadwal ketat, melainkan supaya ia tidak mengorbankan kebutuhan dasar demi terus tersedia. Saat Charles mengirim pesan tentang hari kerjanya, Cinta membalas ketika selesai menulis. Ia tidak meminta maaf karena terlambat. Charles juga tidak mengeluh. Mereka berbagi beberapa pesan tentang makanan dan film, lalu berhenti ketika percakapan selesai. Kesederhanaan itu membuatnya merasa keduanya dapat hadir tanpa saling mengawasi.
Sebelum tidur, Cinta kembali pada pekerjaannya dan menyelesaikan satu paragraf. Ia tidak menunggu persetujuan Charles atas waktunya. Ia merasa hubungan mereka dapat tumbuh tanpa setiap jeda harus diterjemahkan sebagai penolakan. Ia menyimpan naskah dan beristirahat.
Ia memutuskan untuk tidak membuka surel kerja lagi malam itu. Ada waktu untuk berhenti, bahkan ketika beberapa tugas masih menunggu. Pilihan sederhana itu membuatnya lebih tenang.
Ia juga menolak menjadikan satu kejadian sebagai alasan untuk menghakimi seluruh masa lalu. Yang perlu dilihat adalah pola tindakan, bukan sekadar kata-kata yang terdengar baik pada saat tertekan.