Cinta kembali ke unitnya bersama Anna untuk mengambil beberapa barang kerja. Kali ini ia membawa daftar singkat dan memastikan jadwal dicatat oleh pengelola. Kunci baru ada di tangannya. Ia menandatangani catatan masuk, lalu membuka pintu sendiri.
Apartemen masih berantakan, tetapi pintunya bekerja baik. Cinta memeriksa mekanisme dari dalam dan memastikan ia dapat mengunci serta membuka tanpa bantuan. Pengelola menunggu di luar, tidak masuk tanpa dipanggil. Anna tetap di dekat Cinta.
Cinta mengambil buku catatan naskah yang tersimpan di ruang baca, beberapa pakaian, dan benda pribadi yang tidak rusak. Ia tidak membawa furnitur atau barang lain. Ia menutup kotak dan menulis isinya. Daftar kerusakan tetap berada seperti semula, tidak ia ubah.
Di ruang tengah, ia melihat foto berbingkai yang kacanya retak. Ia sempat ingin membuangnya. Namun ia membungkusnya dengan kain dan memasukkannya ke kotak terpisah. Ia tidak perlu memutuskan nasib foto itu hari ini.
‘Aku tidak tahu kenapa masih menyimpannya,’ kata Cinta.
‘Mungkin karena itu bagian dari hidupmu, meski tidak semuanya menyenangkan,’ jawab Anna.
Cinta tidak membantah. Ia pernah mencintai Daniel. Ia tidak perlu menyangkal kenangan baik untuk menolak kekerasan dan kontrol. Namun ia juga tidak harus memaafkan hanya karena pernah bahagia.
Pengelola menyerahkan estimasi awal perbaikan barang. Cinta memeriksa dan menemukan dua pilihan: memperbaiki beberapa benda atau menggantinya. Ia belum menyetujui apa pun. Ia ingin menunggu pengacara meninjau apakah biaya dapat dimasukkan dalam dokumen yang sedang disusun. Pengelola menerima keputusan itu.
‘Unit ini masih atas namamu dan tidak ada yang akan mengambil alihnya,’ katanya.
‘Aku tahu. Aku hanya belum siap tinggal di sini.’
‘Tidak masalah. Kami akan menjaga akses sesuai prosedur.’
***
Cinta dan Anna membawa kotak ke unit sewa. Ia menaruh catatan naskah di meja dan mulai mengurutkan lembar yang sempat berantakan. Beberapa halaman tidak lagi tersusun, tetapi ia menemukan urutannya dari tanggal yang tertulis. Ia memutuskan menyalin bagian yang masih terbaca dan tidak mencoba memulihkan semuanya hari itu.
Anna bertanya apakah ia ingin tinggal kembali di apartemen setelah barang-barang diperbaiki. Cinta menjawab ia belum tahu. Ia menyukai tempat itu karena dibeli dengan uang warisan orang tuanya dan karena ia mengaturnya sendiri. Namun sekarang setiap suara pintu mengingatkannya pada penyerbuan.
‘Aku mungkin akan kembali setelah benar-benar siap. Atau tetap menyewa tempat lain untuk sementara. Aku tidak mau membuat keputusan supaya Daniel melihat aku tidak takut.’
‘Itu pilihanmu.’
Cinta membayar sewa sementara untuk tambahan waktu yang telah ia putuskan. Ia menyimpan kuitansi dan mengirimkannya ke arsip pribadi. Ia tidak meminta Patrick membayar atau meminjamkan tempat. Ia ingin setiap pengeluaran yang berhubungan dengan tempat tinggal berada dalam tanggung jawabnya sendiri selama ia mampu.
Charles mengirim pesan bahwa ia sudah sampai untuk urusan dinas. Cinta menjawab berharap perjalanannya lancar. Ia tidak menjelaskan lokasi unit atau mengirim foto. Charles tidak meminta. Mereka bertukar beberapa kalimat ringan, lalu mengakhiri percakapan.
Malam itu Cinta bekerja satu jam pada naskahnya. Ia menulis adegan tokoh yang kembali ke rumah untuk mengambil barang setelah perpisahan. Ia tidak menyalin kejadian hidupnya; ia hanya memahami rasa tokoh itu lebih dekat sekarang. Setelah selesai, ia menyimpan berkas dengan nama baru dan membuat salinan cadangan pada perangkatnya sendiri.
Sebelum tidur, ia menulis daftar keputusan: akses lama diperbarui; barang penting sudah diambil; perbaikan selain pintu belum disetujui; ia masih tinggal sementara. Ia tidak menulis tanggal kepulangan. Apartemen itu masih miliknya. Waktu untuk kembali juga miliknya.
Sebelum keluar dari unit, Cinta meminta pengelola menunjukkan catatan bahwa kunci baru telah diserahkan kepadanya. Ia memeriksa nomor kunci, memastikan tidak ada kunci lama yang masih dapat membuka pintu, lalu membubuhkan tanda tangan pada tanda terima. Ia bertanya apakah tanda terima itu membuatnya menyetujui semua pekerjaan lain.
‘Tidak. Ini hanya serah terima kunci dan perubahan akses,’ jawab pengelola.
Cinta meminta kalimat itu dicantumkan. Ia tidak ingin salah paham muncul kemudian. Setelah salinan diterima, ia menyimpan satu lembar pada map apartemen dan satu lagi di tas.
Ia kembali ke ruang tengah untuk mengambil buku kecil yang jatuh di bawah meja. Buku itu berisi catatan ide cerita yang ia buat berbulan-bulan lalu, sebelum Daniel menemukan alamatnya. Ada beberapa halaman kosong dan catatan yang tulisannya tidak terbaca. Ia menaruhnya bersama naskah yang akan ia urutkan di rumah sementara.
Anna memperhatikannya menyimpan foto berbingkai yang retak. ‘Kau ingin aku membawanya?’
‘Tidak. Aku yang bawa.’
Cinta membungkusnya sendiri. Foto itu menampilkan dirinya dan Daniel di sebuah acara lama. Ia tidak menyobeknya atau memandanginya lama-lama. Ia hanya memilih untuk menyimpannya sementara, seperti ia menunda keputusan tentang apartemen.
Dalam perjalanan, Anna bertanya apakah Cinta merasa marah pada dirinya sendiri karena pernah bertahan begitu lama dengan Daniel. Cinta menjawab kadang-kadang. Ia juga marah karena masih mengingat masa ketika mereka bahagia.
‘Kau boleh punya dua perasaan sekaligus,’ kata Anna. ‘Kenangan baik tidak membatalkan yang buruk.’
Cinta mengangguk. Ia sering berpikir harus membenci setiap tahun pernikahannya agar perceraian terasa benar. Kini ia menyadari keputusan pergi tidak perlu dibangun dari kebencian. Ia pergi karena hubungan itu menyakitinya dan ia berhak hidup tanpa dikendalikan.
Setelah tiba, Cinta menyusun buku catatan dan naskah di meja. Ia menemukan bahwa beberapa ide lama masih bisa digunakan. Ia mengirim pesan kepada editornya bahwa ia telah kembali mengerjakan naskah, tetapi tidak menjanjikan tenggat yang belum pasti. Editor menjawab agar ia mengirim saat siap.
Cinta menyimpan pesan itu dan melanjutkan mengurutkan halaman. Ketika menemukan bagian yang hilang, ia menulis catatan untuk mengisi ulang dari ingatannya nanti, bukan malam itu. Ia memilih berhenti setelah setengah jam. Tidak semua hal harus dipulihkan seketika.
Ia menyimpan kuitansi sewa dan bukti biaya kunci di map yang sama, tetapi pada bagian berbeda. Dengan begitu ia dapat membedakan biaya tempat sementara dari biaya unit miliknya. Ia tidak memakai uang santunan yang dikirim Daniel dan tidak menganggap penerimaan biaya kunci sebagai akhir masalah.
Malam itu ia tidur di unit sewa dengan foto yang masih terbungkus di kotak. Ia belum tahu apakah akan membuangnya. Yang ia tahu, ia dapat menentukan nasib benda tersebut ketika siap. Tidak ada keputusan yang harus dibuat hanya untuk menyenangkan orang lain.