Cinta datang ke gedung apartemennya untuk menerima dokumen tambahan. Ia bertemu Patrick di lobi ketika sedang keluar dari kantor pengelola. Patrick berhenti beberapa langkah jauhnya.
‘Cinta. Boleh kita bicara sebentar?’
‘Di kedai depan. Aku tidak ingin bicara di unit.’
‘Tentu.’
Mereka berjalan ke kedai dan memilih meja di dekat pintu. Cinta tidak membagikan alamat tempat sewanya. Patrick tidak bertanya. Ia menunggu Cinta memulai.
‘Aku ingin memperjelas soal kunci dan jendela,’ kata Cinta. ‘Kau pernah masuk lewat jendelaku berkali-kali. Aku membiarkannya, tapi sekarang aku tidak mau itu terjadi lagi. Aku ingin tahu: kau pernah menyimpan salinan kunci unitku?’
Patrick langsung menggeleng. ‘Tidak. Aku tidak pernah punya kuncimu.’
‘Baik. Aku ingin memastikan.’
‘Aku tahu aku memakai jendela seolah itu jalur biasa. Aku selalu menganggap kau tidak keberatan karena kau tidak mengusirku setiap kali.’
‘Aku memang sering membiarkanmu, tapi itu bukan izin yang berlaku selamanya. Dan bukan izin untuk masuk ketika aku tidak tahu.’
Patrick menunduk. ‘Kau benar. Aku tidak punya kunci atau salinan. Aku juga tidak akan memakai jendela lagi. Kalau kau tinggal kembali di sana dan aku ingin bertemu, aku akan mengetuk. Kalau kau tidak membuka, aku pulang.’
‘Dan tempat sementaraku tidak akan kau cari atau minta alamatnya.’
‘Aku tidak akan.’
Cinta menatapnya untuk memastikan ia tidak menjawab sambil bercanda. Patrick menahan tatapan dan tidak membuat lelucon. Ia berkata dirinya malu telah lama menganggap kebiasaan itu lucu. Ia pernah mengira kedekatan mereka membuatnya istimewa, tetapi sekarang ia paham yang istimewa harus tetap diberikan, bukan diambil.
‘Kalau kita tetap berteman, aku perlu kau menerima bahwa aku mungkin tidak selalu mengundangmu,’ kata Cinta.
‘Aku bisa menerima.’
‘Dan kau tidak boleh membandingkan dirimu dengan Charles atau merendahkan dia untuk membuatku berubah pikiran.’
‘Aku tidak akan.’
Cinta memegang cangkirnya. ‘Aku masih berpacaran dengan Charles. Aku tidak sedang memberi sinyal bahwa hubungan kita berubah.’
Patrick mengangguk. ‘Aku tahu. Aku tidak akan meminta kesempatan sekarang.’
Mereka diam sejenak. Patrick meminta maaf atas kalimatnya tentang perceraian yang pernah ia lontarkan. Cinta menjawab ia menerima permintaan maaf, tetapi tidak ingin kejadian itu diulang. Patrick berkata ia akan membuktikan dengan sikap, bukan meminta Cinta percaya sekarang.
***
Cinta kemudian bertanya tentang hal yang praktis. ‘Kalau aku butuh bantuan mengangkat barang dari unit, aku akan menghubungimu. Jangan datang sebelum itu.’
‘Dimengerti.’
Patrick tidak menawarkan uang atau tempat tinggal. Ia tahu Cinta telah memilih unit sewa dan membayarnya sendiri. Ia bertanya apakah ia boleh mengirim pesan sesekali untuk menanyakan kabar. Cinta berpikir sejenak.
‘Boleh, tapi aku mungkin tidak selalu membalas cepat. Kalau aku tidak menjawab, jangan datang mencariku.’
‘Baik. Aku tidak akan.’
Cinta mengakhiri pertemuan setelah minumannya habis. Patrick membayar bagiannya sendiri. Ia tidak menahan Cinta di meja atau meminta berjalan bersama. Mereka keluar dari kedai dan berpisah di trotoar.
Di lobi gedung, Cinta berhenti untuk mengambil salinan prosedur. Patrick berjalan ke arah lift, bukan menuju sisi jendela atau mencari cara menyeberang. Cinta memperhatikan sebentar, lalu kembali pada urusannya. Ia tidak menganggap satu pertemuan sebagai bukti perubahan penuh, tetapi ia mencatat bahwa Patrick mendengar batas dan tidak berdebat.
Sore itu ia mengirim pesan kepadanya dari nomor baru, yang ia putuskan boleh ia simpan, dengan keterangan bahwa nomor tersebut pribadi. Ia menegaskan agar tidak diteruskan. Patrick membalas bahwa ia akan menjaga. Cinta memasukkan namanya ke kontak setelah memutuskan sendiri, bukan karena merasa wajib.
Malamnya, Cinta menutup tirai jendela unit sewanya dan menguncinya. Ia tersadar bahwa ia tidak lagi tinggal di seberang Patrick, tetapi kebiasaan lama mereka masih bisa terbawa ke hubungan. Ia ingin membangun ulang persahabatan dengan cara yang lebih jujur: mengetuk, bertanya, menerima tidak.
Ia tidak takut kepada Patrick seperti ia takut kepada Daniel. Namun rasa aman bukan alasan untuk mengabaikan batas. Ia menyimpan kunci unitnya sendiri, mengunci pintu, dan mengakhiri hari tanpa memberikan akses kepada siapa pun yang belum ia izinkan.
Sebelum berpisah, Cinta menambahkan satu hal. ‘Kalau aku memasak dan mengundangmu, kau tamu. Jangan mengambil makanan atau barangku tanpa bertanya.’
Patrick mengangguk. ‘Aku sudah terbiasa menganggap semuanya boleh karena kau sering membagi.’
‘Berbagi itu pilihan setiap kali, bukan kewajiban.’
‘Aku paham.’
‘Dan berhenti memanggilku kakak tua hanya untuk membuatku kesal.’
Patrick tersenyum malu. ‘Aku sering memakai itu karena aku tahu kau akan membalas. Tapi kalau itu merendahkanmu, aku berhenti.’
‘Aku tidak marah karena bercanda. Aku cuma tidak ingin semua percakapan jadi alasanmu untuk menghindari kenyataan bahwa aku belum memilihmu.’
Patrick menerima kalimat itu tanpa menyangkal. ‘Aku belum tahu bagaimana mematikan perasaanku, tapi aku bisa berhenti menjadikannya bebanmu.’
Cinta mengatakan ia menghargai kejujuran itu. Ia tidak meminta Patrick mencari pasangan lain atau berpura-pura tidak menyukainya. Ia hanya meminta ia tidak menekan Cinta untuk menjawab. Patrick menyetujui.
Di lobi, mereka tidak berjalan bergandengan. Cinta mengurus dokumen pengelola, sementara Patrick menunggu lift. Saat ia hendak pulang, Patrick hanya melambaikan tangan dari jarak yang sopan. Cinta membalas, lalu keluar dari gedung bersama Anna.
Di perjalanan, Anna bertanya bagaimana rasanya berbicara terus terang. Cinta menjawab lega sekaligus sedih. Ia menyukai keakraban mereka, tetapi ingin mengubah bagian yang membuatnya merasa tidak punya pilihan. Anna berkata persahabatan kadang perlu aturan baru ketika satu orang memiliki perasaan yang berbeda.
Cinta menyadari ia tidak perlu menghindari Patrick sepenuhnya untuk membuktikan kesetiaan kepada Charles. Ia hanya harus jujur kepada keduanya dan menjaga batas. Ia masih menyukai Charles, dan Patrick masih teman yang dekat. Tidak ada yang harus menjadi saingan dalam hidupnya.
Sesampainya di unit sewa, Cinta mengirim pesan kepada Charles: ia telah berbicara dengan Patrick mengenai batas pertemanan dan kebiasaan masuk melalui jendela. Ia menambahkan bahwa Patrick tidak pernah memegang kunci dan telah berjanji tidak akan memakai akses itu lagi. Charles membalas bahwa ia berterima kasih Cinta mengabari, tetapi tidak ingin mengatur siapa yang menjadi temannya.
Cinta menyimpan balasan itu. Ia merasa lebih bebas karena dapat menyampaikan fakta tanpa harus meminta izin untuk memiliki persahabatan. Ia menutup ponsel dan kembali menyusun catatan pekerjaan.